Beranda / EKBIZ / EKRAF / “Miracle of Recycle”: Limbah Tak Harus Menjadi Masalah

“Miracle of Recycle”: Limbah Tak Harus Menjadi Masalah

SEMARANG, obyektif.tv – Gelaran Grand Juri Semarang Night Carnival (SNC) 2026 menegaskan bahwa limbah tidak selalu identik dengan persoalan lingkungan. Melalui tema “Miracle of Recycle”, para peserta mampu mengolah bahan bekas menjadi karya fesyen kreatif bernilai tinggi.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Kesenian Ki Narto Sabdo, kawasan Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Kota Semarang, Rabu (29/4/2026) ini menjadi ajang unjuk kreativitas sekaligus edukasi tentang pentingnya pengelolaan limbah secara inovatif.

Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, mengaku terkesan dengan kualitas karya yang ditampilkan. Menurutnya, konsep daur ulang dalam SNC bukan hanya mengurangi sampah, tetapi juga membuka peluang baru dalam industri kreatif.

“Ini benar-benar miracle of recycle. Limbah tidak harus menjadi masalah, justru bisa diolah menjadi karya yang inspiratif dan bernilai,” ujarnya.

Ia menambahkan, karya-karya kostum karnaval tersebut berpotensi dikembangkan lebih jauh, salah satunya melalui pembentukan galeri khusus yang dapat menjadi daya tarik wisata baru di Kota Semarang.

“Ke depan, kostum karnaval ini bisa menjadi bagian dari urban tourism. Ini peluang yang belum banyak digarap,” katanya.

Lebih lanjut, ia menilai Semarang memiliki potensi budaya yang kuat untuk mendukung pengembangan ekonomi kreatif. Selama ini dikenal sebagai kota dagang, Semarang dinilai mampu memperluas identitasnya sebagai kota kreatif berbasis budaya.

“Keragaman budaya di Semarang sangat kaya, mulai dari Arab, Tionghoa, hingga budaya lokal. Ini bisa menjadi kekuatan untuk mendorong ekonomi kreatif,” jelasnya.

Salah satu peserta, Nanda Bagus Prasetyo, turut merasakan manfaat dari ajang tersebut. Ia menilai SNC menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa limbah dapat memiliki nilai jual tinggi jika diolah secara kreatif.

“Sangat luar biasa. Kita bisa memperagakan karya sekaligus mengangkat nilai sampah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kostum yang ditampilkan merupakan hasil kolaborasi bersama ibunya, mulai dari perancangan hingga produksi. Mengusung tema Toraja, ia mengangkat nilai leluhur, tradisi pemakaman di bukit, hingga simbol kepemimpinan adat.

Nanda berharap, Semarang Night Carnival dapat terus menjadi wadah bagi generasi muda untuk berkarya dan mendapat apresiasi.

“Semoga SNC terus memberi ruang bagi anak-anak seni di Semarang agar semakin berkembang,” katanya.

Peserta lainnya dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Minkhatul Izzah, juga mengapresiasi perkembangan SNC yang dinilai semakin kreatif dari tahun ke tahun.

“Setiap tahun semakin keren. Kreativitas anak-anak Indonesia luar biasa,” ungkapnya.

Ia mengaku merancang sendiri kostumnya dengan memanfaatkan berbagai bahan daur ulang seperti plastik bekas, sapu, dan keranjang. Proses pengerjaan kostum tersebut memakan waktu sekitar dua hingga tiga bulan.

“Harapannya, kreativitas dan semangat ini bisa terus terjaga,” pungkasnya.

Melalui Semarang Night Carnival 2026, pesan bahwa limbah dapat diolah menjadi karya bernilai tidak hanya berhenti sebagai wacana, tetapi hadir nyata dalam bentuk kreativitas. Ajang ini sekaligus mempertegas posisi Semarang sebagai kota yang tidak hanya bertumpu pada perdagangan, tetapi juga tumbuh sebagai pusat ekonomi kreatif berbasis budaya dan inovasi. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *