KABUPATEN SEMARANG, obyektif.tv – Universitas Ngudi Waluyo (UNW) Kabupaten Semarang menegaskan pentingnya penguasaan jejaring dan akses permodalan bagi generasi Z dalam membangun usaha. Hal tersebut mengemuka dalam Kuliah Pakar bertema “Berani Mulai, Siap Didanai: Strategi Bisnis dan Akses Permodalan bagi Gen Z” yang digelar di Gedung M kampus setempat, Minggu (26/4/2026).
Kegiatan yang diinisiasi Program Studi Manajemen Retail Sarjana Terapan ini menghadirkan Ketua Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Semarang, Dimas Herdy Utomo, serta Direktur Utama BPR Arto Moro Semarang, Darmawan. Kuliah pakar dimoderatori dosen UNW, Yeni Indraningtyas, dan berlangsung interaktif dengan partisipasi aktif mahasiswa.
Dekan Fakultas Ekonomi, Hukum, dan Humaniora (FEHH) UNW, Budiati, menegaskan bahwa Gen Z memiliki peluang besar menjadi pelaku utama dalam dunia bisnis. Namun, menurutnya, keberanian saja tidak cukup tanpa strategi yang tepat, termasuk kemampuan membangun jejaring dan mengakses permodalan.
“Gen Z bukan lagi sekadar penonton, tetapi harus menjadi perintis. Ide kreatif yang dimiliki harus bisa ditransformasikan menjadi aset ekonomi bernilai, dan itu membutuhkan strategi serta kesiapan dalam mengakses modal,” ujarnya.
Ia menambahkan, tantangan utama yang kerap dihadapi wirausaha muda adalah keterbatasan permodalan. Oleh karena itu, mahasiswa didorong untuk mulai membangun usaha sejak dini dengan perencanaan yang matang.
Sementara itu, Dimas Herdy Utomo menekankan bahwa jejaring menjadi kunci penting dalam mengembangkan dan memperluas skala bisnis. Menurutnya, kemampuan berkolaborasi dengan berbagai pihak akan mempercepat pertumbuhan usaha.
“Jejaring itu sifatnya saling terhubung dan bisa membuka banyak peluang. Mahasiswa bisa berkolaborasi dengan pelaku usaha, kreator konten, hingga komunitas untuk meningkatkan nilai dan jangkauan bisnisnya,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kreativitas tidak hanya soal menciptakan hal baru, tetapi bagaimana mengemas sesuatu yang sudah ada menjadi lebih relevan dengan kebutuhan pasar melalui pendekatan personalisasi.
Dari sisi perbankan, Direktur Utama BPR Arto Moro, Darmawan, menekankan pentingnya kesiapan usaha agar dapat mengakses pembiayaan. Menurutnya, pelaku usaha, termasuk mahasiswa, perlu memastikan bisnisnya telah tertata secara administrasi dan manajerial agar dinilai layak (bankable).
“Ketika usaha sudah tertata dengan baik, baik dari sisi administrasi, pengelolaan, maupun jaminan, maka perbankan akan lebih mudah memberikan persetujuan pembiayaan,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi peran inkubasi bisnis di perguruan tinggi yang dinilai mampu mendukung mahasiswa dalam mempersiapkan usaha yang siap mendapatkan akses permodalan.
Salah satu peserta, Rahmanaizer Argita Dwi Jayanti, mengaku mendapatkan pemahaman baru terkait langkah memulai usaha, termasuk pentingnya membangun jejaring dan menyiapkan aspek pendanaan sejak awal.
“Tadi saya jadi lebih terarah. Ternyata memulai bisnis itu harus terorganisir, termasuk memikirkan jejaring dan bagaimana akses modalnya. Saya juga jadi sadar bahwa setelah lulus tidak harus selalu bekerja pada orang lain, tetapi bisa membuka usaha sendiri,” ujarnya.
Mahasiswi yang akrab disapa Dita itu menambahkan, kuliah pakar ini memberinya dorongan untuk lebih percaya diri dalam mengeksekusi ide bisnis yang selama ini masih sebatas rencana.
“Saya jadi lebih yakin untuk mulai. Selama ini masih ragu, tapi sekarang sudah punya gambaran langkah-langkahnya. Tinggal bagaimana saya konsisten menjalankannya,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa keberanian menjadi kunci utama dalam memulai usaha, meskipun dimulai dari skala kecil.
“Saya ingin mulai dari hal kecil, yang penting berani dulu dan tidak takut gagal. Dari kuliah pakar ini saya jadi tahu harus mulai dari mana. Saya berencana mengembangkan usaha kecambah yang sudah saya pikirkan sebelumnya,” katanya.
Dita juga menilai pemahaman tentang jejaring dan akses permodalan menjadi hal penting yang sebelumnya belum terlalu ia perhatikan.
“Ternyata bukan hanya soal jualan, tapi bagaimana kita punya relasi dan tahu cara mendapatkan dukungan modal. Itu yang membuka wawasan saya,” tambahnya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus diadakan untuk mendorong mahasiswa agar berani mengembangkan ide bisnis sekaligus memahami strategi pengembangannya.
“Jangan takut untuk memulai, karena kegagalan bukan akhir dari perjuangan. Justru dari situ kita bisa belajar,” tandasnya.
Melalui kegiatan ini, UNW menegaskan komitmennya dalam mendorong lahirnya wirausaha muda yang tidak hanya kreatif, tetapi juga mampu membangun jejaring dan mengakses permodalan sebagai kunci keberlanjutan usaha. ***









