Beranda / REGIONAL / GROBOGAN / Kemarau Panjang, Alumni SMKN 2 Purwodadi Salurkan 112.500 Liter Air Bersih

Kemarau Panjang, Alumni SMKN 2 Purwodadi Salurkan 112.500 Liter Air Bersih

GROBOGAN, obyektif.tv – Kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah mendorong Ikatan Alumni SMK Negeri 2 Purwodadi bersama pihak sekolah melakukan aksi sosial untuk membantu masyarakat terdampak kekeringan.

Sedikitnya 112.500 liter air bersih telah disalurkan secara bertahap kepada warga di 16 titik yang tersebar di 16 desa dan enam kecamatan di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Dalam penyaluran terbaru, sebanyak 22.500 liter air bersih didistribusikan menggunakan lima armada truk tangki ke Dusun Domas, Desa Kenteng, Kecamatan Toroh, Senin (31/8/2026). Wilayah tersebut menjadi salah satu daerah yang mengalami dampak cukup parah akibat kekeringan.

Ketua Umum Ikatan Alumni SMKN 2 Purwodadi, Muhammad Saeroji, mengatakan aksi sosial tersebut merupakan bentuk kepedulian alumni terhadap masyarakat yang menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan dasar selama musim kemarau.

“Air adalah kebutuhan paling mendasar dalam kehidupan. Kami tergerak berkolaborasi dengan sekolah untuk menyalurkan bantuan ini. Aksi ini akan diupayakan terus berjalan sepanjang musim kemarau beriringan dengan penggalangan donasi yang dikelola alumni,” ujar Saeroji saat penyaluran bantuan air bersih, Senin (31/8/2026).

Saeroji mengatakan penyaluran air bersih akan terus diupayakan selama musim kemarau berlangsung. Alumni juga membuka ruang penggalangan donasi untuk mendukung keberlanjutan program tersebut di berbagai wilayah yang membutuhkan.

Aksi sosial tersebut mendapat apresiasi dari pihak SMKN 2 Purwodadi. Humas SMKN 2 Purwodadi, Sunardi, menilai kepedulian alumni menjadi bentuk respons terhadap kondisi masyarakat di Grobogan yang sejumlah wilayahnya kerap menghadapi kemarau panjang.

“Pihak sekolah mengapresiasi kepekaan alumni yang tanggap terhadap kondisi masyarakat. Harapannya, ketersediaan air bersih ini dapat mengurangi beban warga dalam memenuhi kebutuhan harian,” tutur Sunardi.

Menurutnya, bantuan air bersih tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama ketika sumber air yang biasa digunakan warga mengalami kekeringan.

Kondisi kekeringan turut menambah beban pengeluaran masyarakat. Ketua RT 03 Dusun Domas, Sukamto, mengatakan warga di wilayahnya mulai membeli air bersih secara mandiri sejak Juni 2026 setelah sumber air warga mengering.

“Warga membeli air sejak Juni. Rata-rata harga satu toren Rp60.000 untuk pemakaian satu minggu. Bagi keluarga dengan anggota lebih banyak, air satu toren bahkan habis dalam lima hari,” kata Sukamto.

Kebutuhan air bersih yang harus dipenuhi dengan membeli pasokan dari luar membuat pengeluaran rumah tangga warga bertambah, terutama bagi keluarga dengan jumlah anggota yang lebih banyak.

Kekeringan Tekan Produktivitas Pertanian

Dampak kemarau tidak hanya dirasakan dalam pemenuhan kebutuhan air sehari-hari. Sektor pertanian warga juga ikut terdampak akibat terbatasnya ketersediaan air.

Sejumlah tanaman komoditas utama, seperti jagung dan tembakau, mengalami kekeringan yang berpengaruh terhadap produktivitas lahan dan pendapatan petani.

“Pendapatan petani turun drastis, rata-rata hanya tersisa 25 persen dari kondisi normal karena tanaman kekurangan air,” ujar Sukamto.

Sukamto menyambut baik bantuan yang disalurkan Ikatan Alumni SMKN 2 Purwodadi bersama pihak sekolah. Ia menyebut bantuan tersebut menjadi pasokan air bersih pertama yang diterima warga RT 03 Dusun Domas selama musim kemarau tahun ini.

Di tengah kondisi kekeringan yang masih berlangsung, Ikatan Alumni SMKN 2 Purwodadi memastikan penyaluran air bersih akan terus dilanjutkan secara berkesinambungan. Upaya tersebut diharapkan dapat meringankan beban masyarakat yang masih menghadapi keterbatasan akses air bersih selama musim kemarau. ***

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *