SEMARANG, obyektif.tv – Jejak 159 tahun perjalanan kereta api Indonesia kembali ditelusuri di Kota Semarang. Sejumlah arsip, foto, benda peninggalan, dan dokumentasi perjalanan perkeretaapian dipamerkan untuk mengajak masyarakat mengenal kembali posisi Semarang sebagai salah satu titik penting dalam sejarah awal kereta api Indonesia.
Kegiatan tersebut digelar di Rumah Pohan, Jalan Kepodang Nomor 64, Semarang, Minggu (30/8/2026). Kegiatan digagas Indonesia Railway Preservation Society (IRPS) Wilayah Semarang bersama Alliance Française dan diikuti masyarakat umum, pelajar, serta kalangan anak muda.
Rangkaian kegiatan tidak hanya berupa pameran. Pengunjung juga mengikuti diskusi sejarah, melihat koleksi benda-benda perkeretaapian, mengamati arsip dan foto perjalanan kereta api dari masa lalu, serta menyaksikan pemutaran video dokumentasi kereta api klasik.

Diskusi sejarah dimulai sekitar pukul 10.00 WIB dengan menghadirkan Tjahjono Rahardjo dan Ratri Septina Saraswati sebagai narasumber.
Semarang dalam Sejarah Awal Kereta Api
Tjahjono Rahardjo mengatakan, peringatan 159 tahun perkeretaapian Indonesia menjadi momentum untuk mengingat kembali sejarah awal kereta api yang memiliki kaitan erat dengan Kota Semarang.
“Kami memperingati 159 tahun perkeretaapian di Indonesia yang berawal dari Kota Semarang. Jadi untuk menunjukkan bahwa Kota Semarang ini punya posisi penting di dalam perkeretaapian di Indonesia,” ujarnya.
Menurut Tjahjono, posisi Semarang tidak hanya penting dalam sejarah transportasi, tetapi juga dalam perkembangan sejarah Indonesia. Kehadiran kereta api pada masa itu turut mendorong munculnya berbagai gagasan dan perubahan di tengah masyarakat.
Ia menyebut Semarang sebagai kota yang progresif, tempat berbagai gagasan baru, bahkan gagasan yang pada masanya dianggap radikal, berkembang seiring dengan hadirnya jaringan kereta api.
Karena itu, Tjahjono berharap masyarakat Semarang memahami bahwa kota tersebut memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah perkeretaapian sekaligus sejarah Indonesia.
“Harapannya orang Semarang itu paham bahwa Kota Semarang itu kota yang penting dalam sejarah perkeretaapian maupun dalam sejarah Indonesia,” katanya.

Menelusuri Stasiun Samarang NIS
Pembahasan kemudian dilanjutkan Ratri Septina Saraswati, anggota IRPS sekaligus dosen Program Studi Arsitektur Universitas PGRI Semarang.
Ratri mengulas lebih jauh mengenai keberadaan Stasiun Samarang milik Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Ia membahas lokasi stasiun, kondisi bangunan pada masa lalu, serta perubahan yang terjadi dalam perkembangan jaringan perkeretaapian di Semarang.
Menurut Ratri, kajian tersebut juga dilakukan melalui riset dan rekonstruksi bersama mahasiswa untuk mendapatkan gambaran mengenai bangunan-bangunan perkeretaapian yang pernah berdiri di kawasan tersebut.
Selain Stasiun Samarang NIS, ia menjelaskan perkembangan bangunan stasiun di jalur Semarang hingga Tanggung. Seiring meningkatnya kebutuhan dan perkembangan perusahaan perkeretaapian, bangunan-bangunan stasiun mengalami transformasi, dari bentuk yang sederhana menjadi lebih besar dan representatif.
“Dari bangunan yang sangat sederhana kemudian menjadi bangunan yang indah dengan material yang lebih mahal,” jelasnya.
Ratri juga melihat sejarah awal perkeretaapian sebagai pelajaran penting untuk pengembangan transportasi saat ini. Menurutnya, kereta api sejak awal tidak hanya digunakan untuk kepentingan militer, tetapi juga untuk mengangkut barang.
Konsep tersebut, menurut dia, masih relevan untuk dikembangkan pada masa sekarang, termasuk dalam pengangkutan barang maupun penumpang. Kereta api juga memiliki keunggulan karena mampu mengangkut orang dan barang dalam jumlah besar dalam satu rangkaian sehingga dapat membantu mengurangi penggunaan kendaraan di jalan raya dan dampak lingkungan.
“Dengan satu rangkaian yang panjang untuk mengangkut orang dan barang lebih banyak ketimbang angkutan satu per satu lewat jalan aspal,” ujarnya.

Ketertarikan Ratri terhadap sejarah perkeretaapian juga tidak terlepas dari latar belakang keluarganya. Ia tumbuh dalam keluarga yang dekat dengan dunia kereta api karena ayahnya merupakan orang perkeretaapian.
Kondisi tersebut membuat Ratri sejak kecil akrab dengan lingkungan bangunan kolonial dan sejarah perkeretaapian. Ketika kemudian diajak bergabung dengan IRPS, fokus yang dipilihnya adalah aspek bangunan dan upaya pelestariannya.
“Saya tidak suka membahas tentang rel dan saya tidak tertarik tentang itu. Mereka meminta saya masuk untuk preservation bangunannya,” ujarnya.
IRPS Dorong Edukasi dan Pelestarian
Ketua panitia sekaligus anggota IRPS, Martinus Setiabudi, mengatakan kegiatan tersebut merupakan agenda rutin IRPS sebagai komunitas yang memiliki perhatian terhadap sejarah dan preservasi perkeretaapian.
Menurut Martinus, berbagai momentum yang berkaitan dengan perjalanan kereta api berupaya diperingati melalui kegiatan edukasi maupun pelestarian. IRPS juga menyusun Calendar of Event (COE) setiap tahun sebagai agenda kegiatan komunitas.
“Sebetulnya secara rutin, IRPS sebagai komunitas kereta api yang konsen di bidang sejarah dan preservasi kami rutin tiap tahun mengadakan salah satunya seperti ulang tahun ini,” katanya.
Ia mencontohkan kegiatan lain yang pernah dilakukan IRPS, termasuk memperingati ulang tahun kereta api atau lokomotif serta melakukan kegiatan yang berkaitan dengan perawatan dan preservasi.
Bagi Martinus, kegiatan tersebut tidak sekadar memperingati sebuah tanggal, tetapi juga mengingatkan masyarakat mengenai perjalanan perkembangan kereta api sejak masa kolonial hingga saat ini.
Selain itu, kegiatan tersebut bertujuan memberikan edukasi kepada masyarakat agar semakin mengenal sejarah sekaligus mencintai kereta api.
IRPS, kata dia, terbuka bagi masyarakat umum yang memiliki ketertarikan terhadap sejarah dan perkeretaapian untuk bergabung. Komunitas tersebut juga siap mendukung kegiatan edukasi di sekolah.
“Kami sangat membuka apabila masyarakat umum, tidak hanya anak muda, masyarakat umum yang tertarik dengan sejarah dan perkeretaapian silakan bergabung,” ujarnya.
Martinus mengatakan IRPS juga dapat hadir ke sekolah untuk memberikan informasi mengenai sejarah transportasi massal, khususnya perkembangan kereta api pada masa kolonial.
Antusiasme masyarakat terhadap kegiatan tersebut di luar perkiraan panitia. Martinus mengatakan, semula panitia hanya menargetkan sekitar 50 hingga 60 pengunjung. Namun, jumlah yang hadir mencapai lebih dari 100 orang.

“Kami sebetulnya hanya menargetkan 50 atau 60 orang, tetapi ternyata yang datang 100 orang lebih,” ungkapnya.
Ia berharap ketertarikan masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap sejarah perkeretaapian terus berkembang melalui kegiatan-kegiatan edukatif dan komunitas.
Arsip dan Dokumentasi Jadi Ruang Belajar
Selama kegiatan berlangsung, pengunjung tampak mengamati berbagai arsip dan foto perjalanan kereta api dari masa lalu. Sejumlah pengunjung juga berfoto menggunakan latar belakang foto stasiun zaman dahulu.
Benda-benda peninggalan perkeretaapian, termasuk lampu kereta dari masa kolonial, turut menjadi perhatian pengunjung. Koleksi tersebut memberikan gambaran mengenai perjalanan teknologi dan kehidupan perkeretaapian pada masa lalu.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pemutaran video dokumentasi kereta api zaman dahulu. Melalui dokumentasi visual tersebut, pengunjung diajak bernostalgia sekaligus mengenal kembali suasana perjalanan kereta api pada masa lalu.
Pameran dan diskusi tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan sejarah dengan generasi masa kini. Arsip, foto, benda peninggalan, dan cerita dari para pegiat sejarah perkeretaapian menjadi jembatan untuk memahami bahwa perjalanan kereta api tidak hanya berkaitan dengan rel dan stasiun, tetapi juga memiliki kaitan erat dengan perkembangan Kota Semarang dan sejarah Indonesia. ***










