Beranda / LIFESTYLE / Sentiling, Jajanan Tradisional Berbahan Singkong yang Sarat Filosofi Jawa

Sentiling, Jajanan Tradisional Berbahan Singkong yang Sarat Filosofi Jawa

SEMARANG, obyektif.tv – Ketergantungan masyarakat terhadap beras sebagai sumber pangan pokok mulai mendapat perhatian seiring meningkatnya dorongan untuk mengembangkan pangan lokal. Indonesia memiliki beragam sumber karbohidrat alternatif yang tidak hanya mudah diperoleh, tetapi juga dapat diolah menjadi berbagai makanan tradisional.

Salah satunya adalah singkong. Umbi yang banyak tumbuh di berbagai daerah di Indonesia ini kaya akan karbohidrat dan dapat diolah menjadi beragam pangan, mulai dari makanan pokok hingga jajanan tradisional. Salah satu olahan singkong yang hingga kini masih dikenal masyarakat, khususnya di Jawa, adalah kue Sentiling.

Sentiling merupakan jajanan tradisional berbahan dasar singkong parut yang memiliki tekstur kenyal dan cita rasa manis. Kue ini umumnya disajikan dengan balutan parutan kelapa. Selain menawarkan cita rasa khas, Sentiling juga dapat menjadi contoh pemanfaatan bahan pangan lokal yang sederhana menjadi makanan yang menarik dan bernilai ekonomi.

Singkong, bahan dasar membuat Kue Sentiling.

Proses pembuatannya diawali dengan mengupas singkong, kemudian mencucinya hingga bersih dan memarutnya. Singkong hasil parutan selanjutnya diperas untuk mengurangi kadar air. Setelah ditiriskan, parutan singkong dicampur dengan kelapa parut, gula, dan sedikit garam hingga menjadi adonan.

Adonan tersebut kemudian dibagi menjadi tiga bagian. Masing-masing bagian diberi warna berbeda untuk menghasilkan tampilan berlapis. Pewarna yang digunakan dapat berasal dari bahan alami, seperti buah naga untuk menghasilkan warna merah dan daun suji untuk warna hijau. Sementara itu, warna putih diperoleh dari warna alami singkong.

Loyang yang telah diolesi sedikit mentega kemudian disiapkan sebagai wadah adonan. Adonan putih dimasukkan terlebih dahulu dan dikukus dengan api sedang selama sekitar 10 menit hingga setengah matang. Setelah itu, adonan merah ditambahkan dan kembali dikukus selama sekitar 10 menit. Tahapan yang sama dilakukan untuk adonan hijau.

Pewarna alami dari Buah Naga dan Daun Suji untuk campuran adonan Kue Sentiling.

Setelah seluruh lapisan masuk, adonan kemudian dikukus hingga matang selama kurang lebih 30 menit. Sentiling yang telah matang dikeluarkan dari loyang, ditiriskan, kemudian dipotong sesuai selera. Sebelum disajikan, potongan Sentiling biasanya dibalut dengan parutan kelapa.

Di balik bentuknya yang sederhana, Sentiling juga memiliki nilai filosofis yang dekat dengan kehidupan masyarakat Jawa. Nama Sentiling kerap dikaitkan dengan kata “sentil”, yang dapat dimaknai sebagai pengingat atau teguran agar seseorang kembali eling, yakni mengingat dan bersyukur kepada Allah.

Ungkapan Jawa “disentil ben eling Gusti Allah” menggambarkan pandangan bahwa teguran atau ujian dalam kehidupan dapat menjadi sarana untuk mengingatkan manusia kepada Sang Pencipta. Sentilan tidak selalu dimaknai sebagai hukuman, tetapi dapat dipandang sebagai bentuk kasih sayang agar manusia tidak terlena dengan kesenangan, kesuksesan, maupun segala sesuatu yang dimilikinya.

Adonan Kue Sentiling yang telah diberi pewarna alami.

Dalam kehidupan sehari-hari, sentilan tersebut dapat berupa berbagai persoalan atau ujian kecil. Pengalaman itu diharapkan mampu membuat seseorang kembali menyadari keterbatasan dirinya, menjauh dari sifat sombong atau kemaki, serta kembali bersikap rendah hati atau andhap asor.

Filosofi tersebut membuat Sentiling tidak sekadar menjadi jajanan tradisional berbahan singkong. Di dalamnya terdapat pesan tentang pentingnya memanfaatkan apa yang tersedia di alam, menjaga tradisi kuliner, sekaligus mengingat nilai-nilai kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun.

Di tengah upaya mendorong diversifikasi pangan, keberadaan makanan seperti Sentiling menjadi bagian penting dari kekayaan pangan lokal yang patut dipertahankan. Singkong yang selama ini kerap dipandang sebagai bahan pangan sederhana dapat diolah menjadi sajian tradisional yang menarik sekaligus membawa pesan budaya bagi generasi berikutnya. ***

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *