SEMARANG, obyektif.tv – Berawal dari kehilangan mata pencaharian saat pandemi Covid-19, Janu Ade Saputra membangun Sigur.id, usaha kerajinan berbasis kayu dan resin dari Desa Branjang, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Dari material yang sebelumnya kurang bernilai, ia menciptakan berbagai produk dengan memadukan kreativitas, nilai estetika, dan unsur budaya Nusantara.
Kisah tersebut dibagikan Janu dalam kegiatan Epostika Kelana, program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Konversi Universitas Diponegoro (Undip), melalui Seminar Nasional dan Pemutaran Film Dokumenter Epostika Tutur yang mengangkat tema “Ekokultural sebagai Pilar Penguatan Ekosistem Ekonomi Kreatif Berkelanjutan” di Gedung Art Center Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Undip, Jumat (28/8/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Janu menegaskan bahwa dirinya hadir bukan sebagai pakar bisnis, melainkan untuk berbagi pengalaman perjalanan membangun usaha dari situasi yang tidak mudah.
“Usaha itu lahir bukan dari perencanaan yang sudah saya siapkan, proposal yang sudah matang, atau modal yang cukup. Sigur lahir dari keadaan yang memaksa saya saat Covid untuk mencari jalan lain agar tetap bisa bertahan,” ujar Janu.
Menurut Janu, nama Sigur terinspirasi dari nama band asal Islandia, Sigur Rós. Musik band tersebut, menemani proses dirinya melewati masa sulit setelah kehilangan mata pencaharian sekaligus mengawali perjalanan membangun usaha baru.
Ia kemudian mengembangkan konsep ekokultural dengan memanfaatkan limbah atau potongan kayu yang kurang bernilai dan memadukannya dengan epoxy resin. Material tersebut diolah menjadi produk kerajinan yang memiliki nilai estetika dan ekonomi.
“Ekokultural, kita mengambil dua sisi. Kita memanfaatkan limbah kayu dan memadukannya dengan epoxy resin agar menjadi produk yang mempunyai nilai. Sisi kulturalnya, saya biasanya menciptakan karya-karya dengan lanskap-lanskap yang ada di Nusantara,” katanya.

Mengubah Material Sederhana Menjadi Produk Kreatif
Sigur.id mengembangkan beragam produk kerajinan, mulai dari aksesori seperti gantungan kunci, kalung, gelang, dan cincin, hingga produk dekorasi dan kebutuhan rumah tangga, seperti coaster, jam dinding, lampu tidur, dan meja.
Selain itu, Sigur juga menghasilkan karya berbentuk diorama serta produk yang mengangkat unsur alam, budaya, dan cerita lokal. Karakter setiap produk berbeda karena dipengaruhi bentuk, serat, serta warna alami kayu yang digunakan.
Bagi Janu, produk yang dihasilkan bukan sekadar benda kerajinan, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan cerita.
“Produk kita adalah narasi visual, bukan hanya benda tradisional,” tegasnya.
Ia juga mendorong generasi muda untuk berani mencoba hal baru dan mengembangkan potensi yang dimiliki.
“Jangan takut untuk mencoba sesuatu yang baru atau beraktivitas dengan diri kalian sendiri. Jika kalian tidak mencoba, kalian tidak akan pernah tahu,” tuturnya.
Tidak hanya memproduksi kerajinan, Sigur.id juga mengembangkan pelatihan dan workshop pembuatan kerajinan resin bagi masyarakat maupun sekolah. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pengetahuan sekaligus membuka ruang pemberdayaan melalui ekonomi kreatif.

Potensi Desa Perlu Diperkuat
Ketua Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Semarang, Dimas Herdy Utomo, mengapresiasi pelaksanaan Epostika Kelana yang dinilainya mampu mempertemukan kalangan akademisi dengan potensi ekonomi kreatif di tingkat daerah hingga desa.
Menurut Dimas, kegiatan semacam itu dapat menjadi ruang untuk menemukan pelaku kreatif lokal yang memiliki produk berkualitas dan berdaya saing untuk kemudian diperkenalkan ke tingkat yang lebih luas.
“Dalam konteks ekosistem hexahelix, khususnya kalangan akademisi, kegiatan ini bisa menggali potensi-potensi di daerah sampai desa, yang akhirnya menemukan hero-hero yang menciptakan produk berkualitas dan berdaya saing,” katanya.
Ia menilai perjalanan Janu membangun Sigur sejak masa pandemi merupakan contoh ketekunan yang dapat menjadi inspirasi bagi pelaku UMKM lainnya.
Dimas juga menekankan pentingnya keberlanjutan program pemberdayaan. Menurutnya, kegiatan seperti Epostika Kelana tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi perlu terus dikembangkan sehingga mampu melahirkan lebih banyak pelaku ekonomi kreatif dari desa.
“Selain apresiasi, saya juga ikut belajar bahwa satu orang ternyata bisa menggerakkan banyak ekosistem yang tumbuh di dalamnya, termasuk ekosistem pemberdayaan desa,” ujarnya.
Pemerintah Dorong Penguatan Ekosistem Ekraf
Sementara itu, Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Provinsi Jawa Tengah, Sarido Maksudi, menilai Epostika Kelana memberikan wawasan bagi generasi muda mengenai potensi ekonomi kreatif yang sebenarnya dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ia mengapresiasi rangkaian kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut, terutama karena menghadirkan pengalaman langsung dari pelaku ekonomi kreatif dan membuka ruang diskusi mengenai pengembangan subsektor ekonomi kreatif.
“Kegiatan Epostika Kelana ini luar biasa menginspirasi. Harapannya, inspirasi kegiatan-kegiatan pengembangan ekonomi kreatif bisa terus melaju meningkatkan karya-karya terbaik di seluruh subsektor,” kata Sarido.

Sarido mengatakan pemerintah daerah terus berupaya memberikan pendampingan kepada pelaku ekonomi kreatif sesuai kewenangannya. Dukungan tersebut antara lain melalui pelatihan, sertifikasi kompetensi, serta fasilitasi sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Meski mengakui adanya keterbatasan anggaran pemerintah daerah dalam kondisi keuangan nasional saat ini, ia memastikan upaya mendukung pelaku ekonomi kreatif tetap dilakukan.
“Kami sebagai pemerintah daerah berupaya terus mendampingi para pelaku ekonomi kreatif. Kita bisa memberikan pelatihan, sertifikasi kompetensi, dan sertifikat Hak Kekayaan Intelektual,” ujarnya.
Epostika Kelana menjadi ruang pertemuan antara dunia akademik, pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat dalam mendorong pengembangan seni, budaya, serta ekonomi kreatif lokal.
Kisah Sigur.id yang diangkat melalui film dokumenter dalam rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa potensi ekonomi kreatif dapat tumbuh dari persoalan sederhana di lingkungan sekitar. Material yang semula dianggap tidak terpakai dapat diolah menjadi produk bernilai ketika bertemu dengan kreativitas, ketekunan, dan kemampuan membaca peluang.
Dari Desa Branjang, perjalanan Sigur.id sekaligus memperlihatkan bahwa pengembangan ekonomi kreatif tidak selalu bermula dari modal besar. Kreativitas dalam mengolah sumber daya lokal dan kemampuan membangun narasi produk dapat menjadi modal penting untuk menciptakan karya yang memiliki nilai ekonomi sekaligus identitas budaya. ***






