SEMARANG, obyektif.tv – Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, menilai media memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem seni yang sehat dan berkelanjutan. Menurutnya, media tidak cukup hanya melaporkan sebuah kegiatan, tetapi juga harus mampu menghadirkan narasi yang memperkaya pemahaman publik terhadap karya seni.
Samuel mengatakan media merupakan bagian penting dalam membangun nilai sebuah karya. Pelaku seni membutuhkan ruang publikasi sekaligus narasi yang mampu menjelaskan makna di balik proses kreatif yang mereka lakukan.
“Media memiliki peran yang sangat krusial. Pelaku seni membutuhkan media dan membutuhkan narasi. Yang perlu menjadi refleksi bersama adalah, apakah media hanya berhenti pada liputan, atau sudah ikut membangun ekosistem seni melalui pemberitaan yang lebih mendalam,” ujarnya, Rabu (5/7/2026).
Ia mencontohkan pengalamannya saat terlibat dalam produksi Teater Koma di Jakarta. Dalam pertunjukan tersebut, ia merancang kostum dengan konsep, pewarnaan, dan detail yang menurutnya membawa gagasan baru. Namun, sebagian besar pemberitaan hanya menyoroti keindahan visual kostum tanpa mengulas konsep maupun pesan artistik yang ingin disampaikan.
Menurut Samuel, apresiasi terhadap karya seni seharusnya tidak berhenti pada penilaian “bagus” atau “unik”, melainkan juga menggali alasan di balik keunikan tersebut melalui pertanyaan dan sudut pandang yang lebih kritis.
“Media seharusnya mampu menangkap gagasan yang ingin disampaikan seniman. Di situlah nilai jurnalistik menjadi penting, yaitu menghadirkan pertanyaan yang mampu mengungkap makna sebuah karya,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Samuel juga mengingatkan para pelaku seni agar tidak hanya menempatkan diri sebagai pekerja yang menunggu proyek atau anggaran dari pihak lain. Menurutnya, seniman harus berani menjadi pencipta gagasan sekaligus penggerak kolaborasi dengan masyarakat.
Ia menilai semangat berkesenian harus lahir dari keinginan untuk berdialog dengan publik. Seni, kata dia, dapat menjadi medium untuk menyampaikan pandangan terhadap berbagai persoalan sosial, budaya, maupun kondisi bangsa.
“Jangan hanya bertanya berapa anggarannya. Bangun idenya, ajak orang lain mencari solusi bersama. Tari, musik, puisi, teater, semuanya hanyalah sarana. Yang terpenting adalah apa yang ingin disampaikan kepada masyarakat,” ungkapnya.
Samuel juga mengajak insan media untuk lebih menggali sisi kemanusiaan dalam setiap pemberitaan. Menurutnya, manusia memiliki kompleksitas yang sangat luas sehingga selalu ada ruang untuk menghadirkan cerita yang lebih bermakna daripada sekadar mengejar pernyataan sensasional.
Ia menambahkan bahwa sebuah isu sebaiknya dijadikan pintu masuk untuk mengembangkan cerita yang lebih luas, bukan menjadi satu-satunya fokus pemberitaan.
Sebagai ilustrasi, Samuel mengangkat kisah almarhum Dynand Fariz, pendiri Jember Fashion Carnaval. Menurutnya, festival yang kini dikenal sebagai salah satu karnaval fesyen terbesar di dunia itu berawal dari kegiatan sederhana bersama keluarga dengan keyakinan yang kuat terhadap sebuah gagasan.
“Besar kecilnya sebuah karya ditentukan oleh keyakinan terhadap ide yang dimiliki. Rasa percaya itu harus dimulai dari diri sendiri. Tidak hanya seniman, tetapi juga media harus percaya bahwa mereka mampu menghadirkan perspektif yang memberi dampak bagi masyarakat,” pungkasnya. ***







