Beranda / LIFESTYLE / SENI BUDAYA / 29 Perupa Meriahkan “Merdeka dalam Warna Grobogan” di Kota Lama Semarang

29 Perupa Meriahkan “Merdeka dalam Warna Grobogan” di Kota Lama Semarang

SEMARANG, obyektif.tv – Sebanyak 29 perupa meramaikan pameran lukisan bertajuk “Kota Lama Bercerita: Merdeka dalam Warna Grobogan” yang digelar di Resto Pringsewu, kawasan Kota Lama Semarang, Minggu (9/8/2026).

Pameran yang digagas Komunitas Seni Rupa Grobogan (KSRG) tersebut menjadi ruang bagi para perupa untuk memamerkan karya sekaligus memperkenalkan seni rupa daerah kepada masyarakat yang lebih luas.

Dari 29 peserta yang ambil bagian, mayoritas merupakan perupa asal Grobogan. Namun, sejumlah peserta juga berasal dari luar Grobogan, termasuk Semarang dan daerah lainnya. Keberagaman asal peserta tersebut menunjukkan bahwa KSRG terbuka menjadi wadah bagi para perupa lintas daerah.

Pembukaan pameran ditandai dengan pemotongan pita oleh inisiator kegiatan, Gunarso, didampingi Ketua KSRG, Harjito.

Gunarso mengatakan, pameran di Kota Lama Semarang merupakan bagian dari upayanya menyediakan ruang bagi para perupa untuk terus berkarya sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap karya seni rupa.

“Event di Pringsewu ini tidak lepas dari agenda yang sudah saya canangkan, yaitu ingin berbagi tempat. Salah satunya dengan mendatangkan teman-teman dari Grobogan,” kata Gunarso.

Menurutnya, kegiatan tersebut tidak harus selalu diisi oleh perupa yang berasal dari Semarang. Selama masih berada dalam ekosistem seni rupa Jawa Tengah dan Indonesia, para perupa dari berbagai daerah memiliki kesempatan yang sama untuk menampilkan karya.

“Saya ingin meramaikan kegiatan seni di Semarang. Walaupun yang berpameran bukan orang Semarang, tidak masalah, yang penting masih Jawa Tengah, masih Indonesia,” ujarnya.

Gunarso mengaku mendapat respons positif terhadap penyelenggaraan pameran tersebut. Ia juga memberikan apresiasi terhadap karya-karya yang ditampilkan para peserta.

“Tanggapannya luar biasa, karya teman-teman juga luar biasa,” katanya.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus digelar sebagai ruang untuk menjaga semangat para pelukis agar tetap berkarya.

“Selagi kita masih diberi kesehatan, marilah kita selalu berkreasi untuk mengangkat harkat dan martabat teman-teman pelukis. Dengan adanya pameran-pameran ini, paling tidak semangat teman-teman bisa terbakar dan terakomodasi untuk pameran bersama,” tutur Gunarso.

Bagi Gunarso, setiap karya memiliki karakter dan nilai tersendiri. Karena itu, ia tidak melihat karya berdasarkan batasan aliran tertentu.

“Semua saya suka, karena saya tidak pernah berpikir bahwa melukis itu sebatas aliran. Mereka bebas melukis karena konsep masing-masing pelukis berbeda-beda, kemampuan juga berbeda-beda,” jelasnya.

Pembukaan pameran ditandai dengan pemotongan pita oleh inisiator kegiatan, Gunarso.

Sementara itu, Ketua KSRG Harjito mengatakan, pameran tersebut juga menjadi upaya untuk memacu kreativitas para anggota, termasuk generasi muda yang berkecimpung dalam seni rupa.

“Tujuannya dari Komunitas Seni Rupa Grobogan ini untuk memacu kreasi dan kreativitas, termasuk generasi muda. Semangat peserta KSRG juga sangat tinggi,” ujar Harjito.

Menurut Harjito, pemilihan Kota Lama Semarang sebagai lokasi pameran juga menjadi kesempatan bagi para perupa Grobogan untuk memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat yang lebih luas.

“Pameran di Semarang ini untuk memperkenalkan karya-karya teman-teman dari Grobogan supaya lebih dikenal luas oleh masyarakat Kota Lama dan sekitarnya,” katanya.

Harjito menegaskan, KSRG tidak membatasi keanggotaan berdasarkan daerah asal. Selain perupa dari Grobogan, komunitas tersebut juga menaungi anggota dari Semarang maupun daerah lainnya.

“Ada dari luar, campur. Peserta KSRG ini ada yang di Semarang, di luar Grobogan juga ada. KSRG itu hanya sekadar wadah, anggota bisa masuk dari mana saja,” jelasnya.

Ia berharap keberadaan KSRG ke depan semakin dikenal dan mampu mempertemukan lebih banyak perupa dari berbagai daerah dalam satu ruang berkesenian.

“Harapannya KSRG lebih dikenal lebih luas lagi dan banyak anggota lain, selain Grobogan, bisa lebih menyatu dengan seni rupa atau para perupa yang ada di Indonesia,” ungkap Harjito.

Pameran “Kota Lama Bercerita: Merdeka dalam Warna Grobogan” berlangsung mulai 9 Agustus hingga 8 November 2026 dan terbuka untuk umum. Pengunjung Resto Pringsewu tidak hanya dapat menikmati kuliner, tetapi juga melihat langsung karya-karya para perupa yang dipajang di area restoran.

Dengan melibatkan 29 perupa dari berbagai daerah, pameran ini diharapkan tidak berhenti sebagai ruang apresiasi karya, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring perupa dan menghidupkan ekosistem seni rupa di Jawa Tengah. Kehadiran karya-karya perupa Grobogan di Kota Lama Semarang sekaligus menjadi jembatan bagi seni rupa daerah untuk lebih dekat dengan masyarakat dan wisatawan.

Pameran dapat dikunjungi selama jam operasional Resto Pringsewu, yakni Senin-Jumat pukul 09.00-21.00 WIB dan Sabtu-Minggu pukul 09.00-22.00 WIB. ***

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *