SEMARANG, obyektif.tv – Ancaman rob yang terus membayangi kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa direspons para seniman melalui musik, seni rupa, instalasi, dan eksplorasi bunyi dalam gelaran Sound Art Rob di Rumah Pohan, Jalan Kepodang, Kota Lama Semarang, Senin (14/9/2026).
Kegiatan yang didukung Kementerian Kebudayaan, Dana Indonesia Raya, dan LPDP tersebut menjadi ruang ekspresi sekaligus diskusi untuk mengangkat persoalan lingkungan, khususnya kondisi masyarakat di kawasan Sayung, Kabupaten Demak, yang terdampak rob.
Sound Art Rob berlangsung pada 14 dan 17 September 2026. Pameran, pertunjukan, dan workshop digelar mulai pukul 15.00 hingga 22.00 WIB dengan melibatkan sejumlah seniman musik dan seni rupa, di antaranya Andi Sueb, Usman Wafa, Guh Kribo, Miarsa, Ziarah Tanah-Jumbuh, Pexad, Tridhatu, Luh Jiwa, Andi Meinl, Amala Taliban, dan Dawam.
Dosen Seni Musik Universitas Negeri Semarang (Unnes) sekaligus founder komunitas Miarsa, Usman Wafa, mengatakan keterlibatannya dalam Sound Art Rob menjadi kesempatan untuk bersama-sama merespons kondisi lingkungan melalui seni.
Menurut Usman, rob yang dalam beberapa tahun terakhir semakin sering terjadi, terutama di kawasan Pantura, dapat menjadi bagian dari narasi yang disampaikan seniman kepada masyarakat.
“Menarik karena saya dipercaya ikut mengayubagyo Mas Sueb dan kawan-kawan. Salah satu seniman dari Semarang berusaha mengangkat bagaimana keadaan alam yang terjadi saat ini,” ujar Usman.
Ia menilai Sound Art Rob tidak hanya menghadirkan karya seni, tetapi juga mengemas persoalan lingkungan melalui instalasi, pembahasan interaktif, dan respons bunyi.
“Keadaan rob itu sudah menjadi hal yang sering kali kita lihat beberapa tahun terakhir, yang mana saat ini paling parah. Dari hal tersebut Mas Sueb dan kawan-kawan mengangkat isu tersebut dalam hal seni instalasi, pembahasan interaktif dan ada respons bunyinya,” katanya.
Usman mengatakan, pendekatan tersebut menjadi salah satu cara seniman menyampaikan kondisi lingkungan kepada khalayak. Salah satunya melalui eksplorasi limbah plastik yang dikaitkan dengan kondisi rob.
Menurutnya, material yang selama ini dianggap sebagai sampah dapat diolah menjadi karya sekaligus menjadi bagian dari pesan yang ingin disampaikan.
“Plastik yang ada dari sampah itu biasanya kita biarkan saja, tetapi dengan kesadaran mengambil sampah itu menjadi suatu karya. Nah, itu kita apresiasi,” ujarnya.
Usman berharap semakin banyak persoalan lingkungan di Semarang dan sekitarnya yang diangkat melalui karya seni sehingga masyarakat dapat melihat bahwa seniman turut merespons kondisi yang terjadi di sekitarnya.
“Harapannya, dengan semakin banyak keadaan Semarang yang diangkat melalui seni, akan menjadi perhatian bahwa seniman di Semarang tidak tinggal diam dengan keadaan seperti ini,” katanya.
Selain pameran dan pertunjukan, Sound Art Rob juga menghadirkan Workshop Bunyi yang dipandu Adit Devan atau akrab disapa Pexad, seorang instrumen dan pedal efek builder.
Dalam workshop tersebut, peserta diajak membuat efek gitar dengan memanfaatkan plastik limbah sebagai material casing. Sejumlah barang bekas, termasuk botol plastik, juga dapat digunakan sebagai bahan yang diolah kembali.
“Tadi nyolder efek gitar, bahan casingnya dari plastik. Sampah yang didaur ulang atau botol-botol bekas seperti itu bisa digunakan,” jelas Pexad.
Minat peserta terhadap workshop tersebut cukup tinggi. Namun, Pexad membatasi jumlah peserta sekitar empat hingga lima orang agar proses pendampingan dapat dilakukan secara maksimal.
Ia juga mengapresiasi gagasan Sound Art Rob yang menghubungkan kreativitas anak muda dengan persoalan lingkungan dan kehidupan masyarakat terdampak rob.
“Saya salut untuk warga yang terdampak rob, sampai saat ini masih bertahan untuk hidup. Itu sangat keren menurut saya,” ujarnya.
Pexad berharap kegiatan semacam itu dapat terus berlanjut dan menjadi ruang yang mempertemukan seni, kreativitas, persoalan lingkungan, serta keberlangsungan kehidupan masyarakat.
“Acara ini ke depannya enaknya ada terus, karena saling berkesinambungan antara seni, kejadian perkara, kreativitas anak-anak muda Semarang, dan keberlangsungan warga,” katanya.
Sementara itu, memasuki sekitar pukul 20.00 WIB, band instrumental Dawam tampil di hadapan pengunjung. Band yang digawangi Andi Sueb, yang juga merupakan ketua panitia Sound Art Rob, tersebut menjadi salah satu penampil dalam rangkaian acara.
Andi menjelaskan, nama Sound Art Rob dipilih sebagai bentuk respons seniman terhadap persoalan lingkungan, terutama ancaman rob yang terjadi di kawasan Pantura Jawa.
“Ini adalah sebuah bentuk respons terhadap isu lingkungan, terutama di daerah Pantura Jawa, khususnya di daerah Sayung, Demak. Ini adalah bentuk cara seniman, teman-teman pelaku musisi, seni rupa menyuarakan isu itu,” kata Andi.
Menurut Andi, masyarakat di kawasan terdampak rob tetap berupaya mempertahankan kehidupan meski kondisi lingkungan dan tempat tinggal mereka terus berubah akibat genangan.
“Kita melihat beberapa teman atau warga Sayung khususnya, mereka masih tetap hidup dan terus berjuang walau tanah mereka tenggelam. Ini adalah bentuk kami merespons itu,” ujarnya.
Ia mengatakan, Sound Art Rob juga menjadi ruang kolaborasi bagi para pelaku seni dan komunitas untuk membahas persoalan lingkungan melalui diskusi, musik, seni rupa, hingga eksplorasi bunyi.
Andi berharap ruang-ruang semacam itu dapat terus tersedia sehingga seniman memiliki wadah untuk menyuarakan berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat.
“Harapannya harus ada ruang-ruang diskusi seperti ini lagi. Karena acara ini ada diskusinya, ada workshop membuat sound effect dan bebunyian yang tidak konvensional,” katanya.
Rangkaian Sound Art Rob akan kembali digelar pada 17 September 2026 dengan mengangkat tema wayang. Pertunjukan tersebut juga akan menggunakan material berbahan limbah plastik.
Pemanfaatan limbah plastik menjadi salah satu benang merah dalam kegiatan tersebut, sekaligus memperlihatkan bagaimana material yang dianggap sebagai sampah dapat diolah menjadi medium seni untuk menyampaikan pesan mengenai persoalan lingkungan dan ancaman rob di Pantura. ***




