Beranda / LIFESTYLE / SENI BUDAYA / Semarang Didorong Jadi Hub Kebudayaan Nusantara

Semarang Didorong Jadi Hub Kebudayaan Nusantara

SEMARANG, obyektif.tv – Kota Semarang didorong untuk memperkuat perannya sebagai hub atau pusat pertemuan kebudayaan Nusantara. Potensi tersebut dinilai dapat dikembangkan melalui berbagai festival, pertunjukan seni, serta penguatan ruang budaya dan ekonomi kreatif di Kota Semarang.

Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi VII DPR RI Samuel Wattimena saat menghadiri pembukaan Festival Kota Lama XV 2026 di Kota Semarang, Jumat (4/9/2026) malam.

Menurut Samuel, Semarang memiliki modal kuat untuk menjadi ruang bertemunya berbagai kesenian dan kebudayaan dari sejumlah daerah di Indonesia. Hal tersebut salah satunya terlihat dari penyelenggaraan Festival Kota Lama yang menghadirkan beragam pertunjukan budaya Nusantara.

“Kebetulan mitra saya pariwisata yang kemudian memberikan kesempatan di Kharisma Event Nusantara untuk Semarang. Ini adalah salah satu dari tiga program yang diberikan Kharisma Event Nusantara,” ujar Samuel.

Ia menilai penyelenggaraan Festival Kota Lama dari tahun ke tahun terus menunjukkan perkembangan. Namun, menurutnya, Semarang masih memiliki banyak potensi budaya yang dapat digali dan diberikan ruang lebih luas.

Samuel menyebut sejumlah kesenian yang memiliki akar sejarah di Semarang, seperti keroncong Semarangan, perlu kembali mendapat perhatian. Selain itu, berbagai kesenian tradisional dari daerah lain juga dinilai dapat menjadi bagian dari identitas Semarang sebagai pusat kebudayaan Nusantara.

“Ini orkestra bagus sekali, dan ini juga dari masa lalu sudah ada. Tapi kemudian kita juga punya Keroncong Semarangan. Ada hal-hal lainnya yang menurut saya harus diberikan ruangnya,” katanya.

Ia mengapresiasi kehadiran berbagai pertunjukan tari etnik dari sejumlah daerah dalam Festival Kota Lama. Menurutnya, keberagaman pertunjukan tersebut menjadi gambaran nyata semangat unity in diversity yang diusung festival.

“Berbagai daerah melakukan pertunjukan mereka di sini. Berarti Semarang ini bisa jadi haknya dari berbagai kesenian Nusantara. Orang datang ke Semarang dan kita bisa melihat Indonesia,” tuturnya.

Samuel mengatakan, penguatan posisi Semarang sebagai pusat kebudayaan perlu dibicarakan lebih lanjut bersama Pemerintah Kota Semarang dan para penyelenggara kegiatan. Hal itu penting untuk menggali kembali kekayaan budaya yang berasal dari masa lalu sekaligus mengembangkannya menjadi daya tarik wisata baru.

Kota Lama Jadi Modal Utama

Dalam kesempatan tersebut, Samuel juga menyoroti potensi kawasan Kota Lama sebagai salah satu modal utama Semarang untuk mengembangkan wisata berbasis sejarah dan budaya.

Ia mendukung gagasan pengembangan jalur jogging track yang menghubungkan kawasan Simpang Lima, Lawang Sewu hingga Kota Lama sebagaimana disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah.

“Menurut saya bagus sekali. Satu hal yang perlu disadari oleh kita semua yang ada di Semarang ini, Kota Lama yang paling baik dan sempurna di Indonesia itu hanya di Semarang,” ujarnya.

Menurut Samuel, keunggulan Kota Lama perlu lebih banyak dikenalkan kepada masyarakat. Ia juga mendorong media turut berperan dalam memperkenalkan kawasan tersebut sebagai salah satu aset budaya penting yang dimiliki Kota Semarang.

“Kota Lama ini spesial sekali, buat Indonesia spesial sekali. Ini perlu disosialisasikan oleh teman-teman media supaya masyarakat menyadari kelebihan yang mereka miliki,” katanya.

Dorong Ruang untuk Kostum Tradisional

Selain pengembangan kawasan Kota Lama, Samuel juga mendorong penyediaan ruang khusus untuk menampilkan dan mengenalkan berbagai kostum tradisional.

Ia mengapresiasi langkah Wali Kota Semarang yang telah menyiapkan ruangan untuk menindaklanjuti gagasan tersebut.

“Saya terus terang berterima kasih bahwa beliau masih menyimpan masukan saya tersebut dan masih berusaha mengeksekusi hal tersebut,” ucapnya.

Samuel mengatakan, pihaknya akan menindaklanjuti rencana tersebut dengan perangkat daerah terkait, termasuk bidang kebudayaan dan ekonomi kreatif serta pelaku pariwisata.

Ia menilai keberadaan ruang tersebut dapat menjadi wadah untuk mengkurasi, mendokumentasikan, sekaligus memperkenalkan kekayaan busana tradisional kepada masyarakat dan wisatawan.

Menurutnya, fasilitas tersebut bahkan berpotensi dikembangkan menjadi salah satu objek wisata baru di Kota Semarang.

“Tempatnya sudah disediakan, itu akan menjadi obyek turisme baru di Kota Semarang,” ujarnya.

Soroti Potensi Museum 3D

Samuel juga menilai pengembangan ekosistem budaya di Semarang perlu dilakukan secara menyeluruh. Ia menyoroti sejumlah fasilitas yang dinilai memiliki potensi untuk kembali dihidupkan sebagai destinasi wisata.

Salah satunya Museum 3D yang menurut Samuel saat ini tidak lagi berkembang secara optimal.

“Kostumnya ini banyak, apakah harus dikurasi? Harus dikurasi. Dan sebenarnya di Semarang ada yang sekarang lagi mati, itu adalah Museum 3D,” katanya.

Ia berharap Pemerintah Kota Semarang dapat mempertimbangkan pengembangan kembali Museum 3D sebagai salah satu destinasi unggulan.

“Saya tidak tahu apakah Ibu Wali Kota berminat untuk menghidupi itu kembali, karena ini menurut saya untuk unggulan buat Kota Semarang dibandingkan kota-kota yang lain,” pungkasnya. ***

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *