SEMARANG, obyektif.tv – Dewan Kesenian Semarang (Dekase) menghidupkan kembali karya dan pemikiran penyair sekaligus budayawan Darmanto Jatman melalui malam mengenang yang digelar di kawasan Taman Budaya Raden Saleh, Semarang, Minggu (23/8/2026).
Bertajuk “Mengenang Darmanto Jatman: Membaca Patriotisme Kromo, Doa, Puisi, Memori”, kegiatan tersebut mempertemukan komunitas sastra, pelaku seni, serta orang-orang yang pernah dekat dengan Darmanto. Pembacaan puisi, doa, dan kesaksian para sahabat serta murid menjadi cara untuk menjaga karya dan pemikiran Darmanto tetap dikenal lintas generasi.
Puluhan peserta hadir dalam suasana sederhana dan akrab. Mereka duduk menghadap pendopo dengan latar foto Darmanto Jatman, mengikuti rangkaian acara yang diawali pembacaan doa dan sambutan Ketua Dekase Aditya Armitrianto.
Aditya mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari program rutin Dekase bertajuk “Untuk Perawi”, yang secara khusus digelar untuk mengenang para penulis dan sastrawan yang telah wafat. Kegiatan mengenang Darmanto menjadi agenda kelima dalam program tersebut.
“Ini yang kelima dan bulan ini kami mengenang Darmanto Jatman. Beliau lahir 16 Agustus, sehingga pada bulan ini kami adakan. Terutama mengenang karya-karya sastranya yang ditulis sangat luar biasa, tetapi juga keteladanan lain yang beliau tinggalkan,” kata Aditya.

Menurut Aditya, program tersebut berangkat dari kegelisahan terhadap semakin berkurangnya generasi muda yang mengenal dan membaca karya para sastrawan yang telah meninggal dunia. Padahal, karya mereka merupakan bagian dari perjalanan kebudayaan Kota Semarang.
Karena itu, Dekase telah mendata sejumlah sastrawan yang telah berpulang untuk dikenang secara berkala. Momentum kegiatan disesuaikan dengan tanggal lahir atau tanggal wafat masing-masing tokoh.
“Kami berharap karya sastra dan pengetahuan mereka tidak dilupakan oleh generasi muda. Kami ingin menunjukkan bahwa Semarang tidak kering terhadap kesenian, tetapi justru memiliki tokoh-tokoh yang menjadi pilar kemajuan kebudayaan,” ujarnya.
Rangkaian acara kemudian diisi pembacaan puisi karya Darmanto Jatman oleh sejumlah pegiat sastra, salah satunya Teguh Satria atau Tesa, anggota Komite Sastra Dekase. Sejumlah sahabat dan murid Darmanto juga menyampaikan kesaksian mengenai sosok dan kiprah sang penyair.
Salah satunya Triyanto Triwikromo, yang pernah menjadi murid Darmanto ketika menempuh pendidikan S2 di Universitas Diponegoro. Ia menilai Darmanto merupakan salah satu penyair Indonesia yang memiliki gagasan kuat dan mampu menerobos batas-batas perpuisian Indonesia pada masanya.

Menurut Triyanto, salah satu kekuatan utama Darmanto terletak pada konsep multilingualisme dalam puisinya. Darmanto menggunakan berbagai bahasa sebagai bagian dari ekspresi puitiknya, tetapi tetap menjadikan kebudayaan Jawa sebagai salah satu basis penting dalam karyanya.
“Puisi-puisi Pak Darmanto sebenarnya mengangkat kebudayaan Jawa, tetapi kemudian dipertajam dengan pemahaman beliau yang sangat luar biasa mengenai ilmu, sains, dan pengetahuan dari berbagai belahan dunia,” kata Triyanto.
Pendekatan tersebut, lanjut dia, membuat karya Darmanto memiliki karakter yang khas dan berbeda. Terobosan itu pula yang membuat nama Darmanto dikenal luas dalam dunia perpuisian Indonesia hingga mendapatkan penghargaan sastra tingkat Asia Tenggara.
Triyanto mengatakan, kekhasan karya Darmanto juga pernah ia gambarkan dalam salah satu bukunya melalui sosok bernama “Banjaran Dharma”.
“Puisi Pak Darmanto menjadi sangat istimewa, tidak ada duanya. Dengan acara semacam ini, karya-karya Pakdar akan bertemu dengan generasi-generasi terkini,” ujarnya.
Ia menilai upaya menghidupkan kembali karya Darmanto menjadi penting karena tidak semua generasi muda saat ini mengenal sosok dan karya penyair tersebut. Melalui pembacaan puisi dan diskusi, karya lama dapat kembali menemukan pembaca baru.
“Dengan dikenang, puisi-puisinya dikenal kembali dan dibaca kembali. Bagi anak-anak muda sekarang yang belum tahu siapa Pak Darmanto, acara semacam ini menjadi ruang pertemuan dengan karya-karyanya,” kata Triyanto.
Suasana semakin hangat ketika putri sulung Darmanto Jatman, Abigael Wohing Atik, hadir dalam kegiatan tersebut. Abigael kemudian menyerahkan buku karya ayahnya kepada Ketua Dekase Semarang Aditya Armitrianto sebagai kenang-kenangan.
Abigael mengaku senang dan bangga melihat masih banyak sahabat serta murid ayahnya yang mengingat perjalanan dan karya Darmanto. Ia juga mendapatkan sejumlah cerita personal yang sebelumnya belum pernah didengarnya.

“Kami sangat senang dan bangga. Tidak menyangka bapak saya masih diingat oleh teman-temannya. Ada banyak cerita personal yang teman-teman masih ingat, dan beberapa di antaranya justru membuat orang lain lebih termotivasi untuk maju,” ujar Abigael.
Menurut Abigael, Darmanto merupakan salah satu tokoh penting dalam perkembangan sastra di Semarang. Ia berharap karya ayahnya, maupun karya sastrawan Semarang lainnya, tidak hanya dikenang melalui kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya karya-karya baru.
Ia mengusulkan agar generasi muda tidak berhenti pada membaca puisi Darmanto, tetapi memberikan respons kreatif terhadap karya-karya tersebut. Respons itu dapat diwujudkan dalam bentuk puisi, tulisan, musik, maupun karya seni lainnya.
“Tidak hanya bapak saya, tetapi juga sastrawan-sastrawan lain, terutama yang dari Semarang, lebih banyak menjadi motivasi bagi teman-teman yang masih muda untuk berkarya,” katanya.
Bagi Abigael, langkah tersebut penting untuk menunjukkan bahwa Semarang memiliki ekosistem sastra dan kebudayaan yang kuat. Ia melihat masih banyak potensi kreatif dari para seniman dan sastrawan Semarang yang layak terus dikembangkan.
Kegiatan mengenang Darmanto Jatman akhirnya tidak sekadar menjadi ruang nostalgia bagi sahabat dan muridnya. Lebih dari itu, pertemuan tersebut menjadi upaya untuk menghubungkan kembali karya dan pemikiran seorang penyair dengan generasi baru.
Dekase memastikan program mengenang para sastrawan akan terus dilaksanakan secara rutin. Dengan konsep sederhana dan mengutamakan kebersamaan, kegiatan tersebut diarahkan menjadi ruang untuk membaca kembali karya, mengenal pemikiran, sekaligus meneruskan nilai-nilai yang ditinggalkan para tokoh sastra.
Melalui cara itu, karya dan pemikiran Darmanto Jatman diharapkan tidak berhenti sebagai catatan masa lalu, tetapi terus hidup dalam ingatan, pembacaan, dan karya generasi berikutnya. ***









