JAKARTA, obyektif.tv – Pengembangan industri kreatif di era digital dinilai membutuhkan kolaborasi lintas generasi. Talenta dan kreativitas anak muda perlu dipadukan dengan pengetahuan, keterampilan, serta kekayaan budaya yang telah diwariskan generasi sebelumnya agar memiliki nilai ekonomi dan mampu membuka lapangan kerja.
Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, dalam program Jendela Negeri TVRI bertajuk “Industri Kreatif Buka Lapangan Kerja”, Kamis (13/8/2026). Program tersebut dipandu Brigita Kwee dan Akbar Syam.
Samuel mengatakan, Indonesia memiliki modal besar dalam pengembangan industri kreatif karena kreativitas telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak generasi terdahulu. Karena itu, perkembangan teknologi digital yang dikuasai generasi muda perlu dipertemukan dengan kekayaan budaya yang dimiliki bangsa.
“Bangsa kita itu diberkati dengan kreativitas. Kalau bicara anak muda, mereka memang menjadi motor, tetapi yang tua-tua, nenek moyang kita, itu semua pelaku kreatif yang dahsyat sekali,” ujar Samuel.
Menurutnya, berbagai karya yang berkembang sejak masa lalu, seperti anyaman, tenun, sanggul, tata rias, hingga kostum, merupakan kekayaan intelektual yang memiliki potensi untuk dikembangkan lebih jauh. Selama ini, sebagian karya tersebut lebih banyak dipandang sebagai warisan budaya dan belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai aset ekonomi.
Memasuki era industri dan digital, Samuel menilai kekayaan tersebut dapat dikembangkan menjadi produk kreatif yang memiliki nilai tambah sekaligus menjangkau pasar yang lebih luas.
“Di sinilah fungsi anak-anak muda menurut saya, bisa bergandengan dengan generasi tua,” katanya.
Samuel menjelaskan, generasi muda memiliki keunggulan dalam memanfaatkan teknologi, platform digital, serta memahami tren pasar. Sementara generasi sebelumnya memiliki pengalaman dan pengetahuan mengenai akar budaya, teknik, serta nilai yang terkandung dalam berbagai karya tradisional.
Kolaborasi tersebut, kata dia, dapat menghasilkan produk kreatif yang tetap memiliki identitas budaya Indonesia, tetapi dikemas sesuai dengan kebutuhan dan selera masyarakat masa kini.
Ia juga mendorong generasi muda untuk tidak selalu menjadikan budaya negara lain sebagai sumber inspirasi. Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat besar dan dapat menjadi fondasi untuk menciptakan berbagai produk kreatif kekinian.
“Jadi kekayaan di negeri ini dimonetisasi secara nasional maupun internasional dengan pengakuan digital dari generasi muda,” ujar Samuel.
Menurut Samuel, pemahaman terhadap kekayaan intelektual menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Generasi muda perlu mengetahui apa yang dimiliki Indonesia sehingga kreativitas yang mereka kembangkan tidak kehilangan akar budaya sekaligus memiliki peluang untuk dikomersialkan.
Ia menyebut, kolaborasi tersebut mulai terlihat di sejumlah bidang, khususnya fesyen dan mode. Banyak anak muda dari lingkungan perguruan tinggi yang mulai mengembangkan wastra dan kriya menjadi produk yang lebih modern. Bahkan, sebagian di antaranya telah dibawa ke ranah digital, termasuk dikembangkan menjadi permainan atau games.
“Banyak sekali anak-anak muda dari universitas yang kemudian memproduksi wastra, kriya, dan juga beberapa sudah dijadikan games, digitalisasi,” katanya.
Samuel menilai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kekayaan budaya dan teknologi digital dapat saling melengkapi. Generasi muda tidak harus menciptakan sesuatu dari nol, tetapi dapat mengembangkan kekayaan yang telah dimiliki Indonesia dengan pendekatan baru yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.
Karena itu, kolaborasi lintas generasi dinilai menjadi salah satu kunci dalam memperkuat ekosistem industri kreatif. Dengan memadukan kreativitas anak muda, pengalaman generasi sebelumnya, kekayaan budaya, serta teknologi digital, berbagai karya lokal berpeluang berkembang menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus membuka lapangan kerja.
“Pemahaman itu menjadi penting,” tegas Samuel. ***









