SEMARANG, obyektif.tv – Desa Wisata Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, tidak hanya memiliki potensi wisata alam dan budaya, tetapi juga kekayaan kuliner yang lekat dengan kehidupan masyarakat. Dua di antaranya adalah Sego Khetek dan Dawet Rempah Sayur, kuliner yang tidak hanya menawarkan cita rasa, tetapi juga menyimpan cerita tentang tradisi dan kearifan lokal masyarakat.
Sego Khetek merupakan sajian nasi dengan lauk sederhana yang lekat dengan kehidupan masyarakat pedesaan. Dalam satu porsi, kuliner ini antara lain terdiri atas oseng daun singkong, oseng daun pepaya, orek tempe, telur dadar, sambal, dan peyek teri.
Pada masa lalu, sajian serupa menggunakan gudangan sebagai salah satu lauk. Namun, masyarakat kemudian mengolah sayuran menjadi oseng karena dinilai lebih tahan lama dan tidak cepat basi.
Di balik sajian tersebut terdapat tradisi yang menjadi asal-usul nama Sego Khetek. Dalam masyarakat Desa Kandri, istilah “khetek” berasal dari kata “khetekan”, yang berarti estafet atau sambung-menyambung.
Tradisi khetekan tidak hanya digunakan untuk memindahkan hasil pertanian atau barang dari satu tempat ke tempat lainnya. Khetekan juga dilakukan untuk mengantarkan bekal makanan kepada para petani yang sedang bekerja di sawah.
Kondisi lahan pertanian yang tidak memungkinkan warga melintas langsung di tengah sawah membuat bekal tersebut disampaikan secara sambung-menyambung dari satu orang kepada orang berikutnya hingga sampai kepada petani.
Kebiasaan tersebut kemudian melekat pada bekal makanan yang diantarkan secara khetekan dan dikenal sebagai Sego Khetek. Nama tersebut hingga kini tetap digunakan sebagai salah satu kuliner khas Desa Kandri.
Dengan demikian, Sego Khetek bukan sekadar sajian nasi dengan lauk, tetapi juga menjadi bagian dari cerita kehidupan masyarakat petani. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, saling membantu, dan gotong royong yang diwariskan secara turun-temurun.
Sego Khetek juga masih kerap disajikan dalam berbagai kegiatan masyarakat di Desa Kandri. Kuliner tersebut menjadi suguhan sekaligus sarana untuk memperkenalkan kearifan lokal kepada masyarakat yang datang berkunjung.

Selain Sego Khetek, Desa Wisata Kandri memiliki Dawet Rempah Sayur, sebuah inovasi kuliner yang memanfaatkan sawi hijau sebagai bahan dasar utama butiran dawet.
Sawi hijau segar diolah dengan cara diblender dan disaring untuk mengambil sarinya. Sari sawi kemudian dimasak bersama adonan tepung beras dan tapioka hingga mengental dan matang.
Proses pemasakan tersebut menjadi bagian penting dalam pengolahan untuk mengurangi aroma langu dari sayuran, sekaligus menghasilkan butiran dawet berwarna hijau alami dengan tekstur kenyal dan lembut.
Keunikan Dawet Rempah Sayur juga terletak pada kuahnya yang tidak menggunakan santan. Sebagai gantinya, butiran dawet disajikan bersama campuran susu segar dan rebusan rempah tradisional seperti jahe, serai, dan kayu manis.
Perpaduan tersebut kemudian dilengkapi dengan gula aren cair yang memberikan rasa manis. Dawet Rempah Sayur dapat disajikan dalam kondisi dingin sehingga memberikan sensasi menyegarkan, dengan karakter rasa yang berbeda dari dawet pada umumnya.
Sego Khetek dan Dawet Rempah Sayur menunjukkan kreativitas masyarakat Kandri dalam mengembangkan kuliner berbasis bahan pangan lokal. Keduanya juga memiliki cerita berbeda yang memperkuat identitas Desa Wisata Kandri.
Sego Khetek membawa cerita tentang kehidupan petani dan tradisi khetekan sebagai bentuk gotong royong. Sementara Dawet Rempah Sayur menunjukkan inovasi masyarakat dalam mengolah bahan pangan lokal menjadi produk kuliner yang memiliki daya tarik bagi wisatawan.
Bagi Desa Wisata Kandri, kekayaan kuliner tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat karakter destinasi. Makanan dan minuman tidak hanya menjadi sajian bagi wisatawan, tetapi juga menjadi media untuk mengenalkan tradisi, kehidupan masyarakat, dan potensi ekonomi kreatif desa.
Pengembangan dan promosi yang tepat diharapkan dapat menjadikan Sego Khetek dan Dawet Rempah Sayur sebagai bagian dari produk unggulan kuliner Desa Wisata Kandri sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat setempat. ***






