Beranda / LIFESTYLE / SENI BUDAYA / Dari Semarang Kita Mulai, Mendekatkan Sejarah kepada Generasi Muda

Dari Semarang Kita Mulai, Mendekatkan Sejarah kepada Generasi Muda

SEMARANG, obyektif.tv – Mengenalkan sejarah perjuangan kepada generasi muda tidak cukup hanya melalui buku atau pameran. Sejarah perlu dihadirkan lebih dekat dengan kehidupan masyarakat agar peristiwa masa lalu dapat dipahami dan nilai-nilainya diteruskan kepada generasi berikutnya. Semangat inilah yang mengemuka dalam pameran Dari Semarang Kita Mulai yang mengangkat sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang.

Pameran yang berlangsung pada 15–20 Oktober 2026 di Rumah PoHan, Jalan Kepodang Nomor 64, kawasan Kota Lama Semarang, menampilkan arsip foto dan koleksi benda bersejarah terkait pertempuran tersebut. Selain menjadi ruang untuk mengenang perjuangan mempertahankan kemerdekaan, pameran ini juga membuka kesempatan bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal lebih dekat sejarah kotanya.

Anggota Komisi VII DPR RI Samuel Wattimena mengapresiasi penyelenggaraan pameran tersebut. Namun, ia menilai pengenalan sejarah perlu menjangkau masyarakat yang lebih luas, tidak hanya mereka yang datang langsung ke lokasi pameran.

Menurut Samuel, edukasi sejarah perlu dibawa ke lingkungan masyarakat, termasuk kampung dan desa. Pemanfaatan teknologi digital dapat menjadi salah satu cara untuk memperluas jangkauan sekaligus menyesuaikan penyajian materi dengan kebiasaan generasi muda.

“Jauh akan lebih mudah dan lebih kena kalau pameran ini menjemput bola, dibawa turun. Tentu formatnya tidak bisa seperti ini, tetapi kita bisa memanfaatkan format digital dan membuat acara-acara khusus,” ujarnya, usai pembukaan pameran, Kamis (15/10/2026).

Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena.

Ia mengingatkan bahwa memahami sejarah perjuangan bukan sekadar mengetahui peristiwa yang terjadi pada masa lalu. Lebih dari itu, generasi muda perlu menangkap makna perjuangan dan menghubungkannya dengan tanggung jawab mereka pada masa kini.

Jika dahulu para pejuang mempertahankan kemerdekaan melalui pertempuran fisik, generasi sekarang dapat meneruskan semangat tersebut melalui ilmu pengetahuan, keterampilan, dan kreativitas yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Samuel juga menyoroti cara penyajian materi sejarah agar lebih mudah dipahami. Menurutnya, naskah sejarah yang lengkap tetap penting untuk menjaga keutuhan informasi, tetapi perlu didampingi ringkasan atau cuplikan yang membantu pengunjung menangkap inti cerita.

“Kalau naskahnya panjang, tidak mudah bagi kita untuk tetap fokus, apalagi generasi sekarang. Karena itu, naskah utama tetap ada, tetapi disertai cuplikan-cuplikan yang memberikan pemahaman lebih dalam,” katanya.

Ia mengusulkan agar materi pameran dikembangkan dalam format digital sehingga dapat dibawa ke balai desa atau ruang pertemuan warga. Penjelasan dari narasumber yang memahami sejarah juga dapat direkam dan dilengkapi narasi pendukung agar lebih mudah dipahami oleh kalangan muda.

Bagi Samuel, upaya mendekatkan sejarah kepada generasi muda juga perlu berjalan beriringan dengan pengenalan tradisi dan kebudayaan Indonesia. Kekayaan budaya yang dimiliki bangsa, menurutnya, perlu didata, dipahami, dan dikelola dengan baik. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperluas pengenalan sekaligus mengembangkan potensi tradisi agar tetap relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.

Budayawan Sukirno menyambut positif pameran tersebut sebagai salah satu upaya mengenalkan kembali Pertempuran Lima Hari di Semarang kepada masyarakat. Ia berharap kegiatan serupa tidak berhenti pada satu penyelenggaraan, tetapi terus dilakukan di berbagai tempat agar sejarah perjuangan Semarang semakin dikenal.

Menurut Sukirno, pengenalan sejarah dapat dikemas melalui beragam kegiatan yang melibatkan masyarakat. Selain pameran, misalnya, kisah Pertempuran Lima Hari di Semarang dapat diangkat melalui lomba sandiwara radio atau pementasan yang menghadirkan tokoh dan suasana perjuangan.

Sukirno, yang pernah menjabat Rektor Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang selama dua periode pada 1998–2006, menekankan bahwa salah satu nilai penting dari perjuangan para pendahulu adalah persatuan. Para pejuang memiliki tujuan bersama untuk mempertahankan kemerdekaan tanpa menjadikan perbedaan agama, suku, maupun latar belakang sebagai penghalang.

“Yang terang, mereka mempunyai niat untuk mempertahankan negara dan mengusir penjajah. Jadi, persatuan adalah sesuatu yang diinginkan,” ujarnya.

Ia mengibaratkan persatuan seperti lidi yang dirangkai menjadi sapu. Lidi yang berdiri sendiri merupakan bagian-bagian yang terpisah, sedangkan ketika disatukan, semuanya memiliki kekuatan untuk menjalankan fungsi bersama. Menurutnya, persatuan harus dibangun dengan sikap saling menghormati dan toleransi.

“Berbeda agama bukan berarti bermusuhan,” katanya.

Sukirno berharap generasi muda mampu membangun persaudaraan di tengah perbedaan agama, suku, dan daerah asal. Baginya, semangat persatuan yang diwariskan para pejuang tetap relevan untuk menjaga keutuhan bangsa di tengah berbagai tantangan masa kini.

Bincang santai budayawan, Sukirno dengan sejumlah siswa dari SMA Negeri 1 Semarang.

Pesan tentang sejarah dan perjuangan juga mengemuka dalam perbincangan santai Sukirno dengan sejumlah siswa SMA Negeri 1 Semarang usai pembukaan pameran. Dalam suasana akrab, para siswa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bertanya dan mendengarkan pandangan Sukirno mengenai Pertempuran Lima Hari di Semarang serta relevansi nilai perjuangan bagi generasi muda.

Salah satu siswa, Lintang Adzani Palestina, siswi kelas XII SMA Negeri 1 Semarang, mengaku terinspirasi oleh pesan yang disampaikan Sukirno. Menurutnya, keberanian untuk memulai sesuatu menjadi hal penting bagi anak muda dalam mengembangkan gagasan dan mewujudkan cita-cita.

Ia menilai pesan tersebut relevan bagi generasi sekarang yang kerap menginginkan hasil secara cepat. Melalui perbincangan itu, ia terdorong untuk lebih berani mengembangkan ide kreatif dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan.

“Anak-anak muda zaman sekarang lebih berani untuk memulai apa yang menjadi visi, misi, atau cita-citanya dan jangan takut gagal terlebih dahulu, karena kita tidak tahu kalau kita mulai,” ujar Lintang.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengenalan sejarah dapat berlangsung melalui berbagai cara, termasuk percakapan langsung yang memberi ruang bagi generasi muda untuk bertanya dan bertukar pandangan.

Melalui pameran Dari Semarang Kita Mulai, sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang dihadirkan kembali sebagai bagian penting dari ingatan kolektif masyarakat. Upaya mengenalkan sejarah kepada generasi muda diharapkan tidak hanya menumbuhkan pengetahuan tentang masa lalu, tetapi juga memperkuat semangat persatuan, toleransi, dan kepedulian terhadap masa depan bangsa. ***

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *