SEMARANG, obyektif.tv – Kekayaan tradisi Indonesia tidak hanya menjadi warisan yang perlu dilestarikan, tetapi juga dapat menjadi kekuatan bangsa jika dikelola dan dikembangkan sesuai perkembangan zaman. Anggota Komisi VII DPR RI Samuel Wattimena menilai, pemanfaatan teknologi menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan tradisi kepada masyarakat luas sekaligus membuka peluang pengembangan nilai ekonominya.
Hal tersebut disampaikan Samuel saat menghadiri pembukaan pameran Pertempuran Lima Hari di Semarang: Dari Semarang Kita Mulai di Rumah PoHAn, Kota Lama Semarang, Kamis (15/10/2026).
Menurut Samuel, Indonesia memiliki kekayaan tradisi yang sangat beragam. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya didata, dipahami, dan dikelola secara optimal sehingga belum banyak dikembangkan menjadi sumber nilai ekonomi.
“Ini belum kita data, belum kita pahami, dan belum kita kelola sehingga belum bisa dimonetisasi,” ujarnya.
Samuel mencontohkan, jika pada masa perjuangan kemerdekaan bambu runcing menjadi salah satu simbol perlawanan rakyat, pada masa kini kekuatan bangsa dapat dibangun melalui pengelolaan kekayaan tradisi yang dimiliki. Tradisi perlu terus dihidupkan agar tetap relevan dengan perkembangan masyarakat.
Ia menekankan, upaya menjaga tradisi tidak cukup hanya dengan mempertahankan bentuk dan nilai yang diwariskan. Perlu ada pendekatan baru agar tradisi lebih mudah dikenal, dipahami, dan diterima oleh generasi muda.
Dalam hal ini, teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan sosialisasi dan memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat yang lebih luas. Dengan demikian, tradisi tidak hanya menjadi bagian dari masa lalu, tetapi juga memiliki peluang untuk berkembang dan memberikan manfaat pada masa kini.
Pesan tersebut sejalan dengan semangat pameran Dari Semarang Kita Mulai yang mengajak masyarakat melihat kembali sejarah perjuangan melalui arsip foto dan koleksi benda bersejarah. Pameran ini mengangkat peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang sebagai bagian penting dari perjalanan sejarah bangsa.
Digelar pada 15–20 Oktober 2026 di Rumah PoHAn, Jalan Kepodang Nomor 64, Kota Lama Semarang, pameran ini juga menghadirkan napak tilas pertempuran, tur kuratorial, dan kuliah terbuka.
Melalui pameran tersebut, masyarakat diajak mengenali kembali jejak perjuangan sekaligus memahami pentingnya merawat warisan sejarah dan budaya. Kekayaan tradisi dan ingatan sejarah diharapkan tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, tetapi terus dihidupkan dan dikembangkan sebagai bagian dari kekuatan bangsa. ***




