SEMARANG, obyektif.tv – Paradoks tidak selalu tentang pertentangan yang sulit dipahami. Dalam seni rupa, sesuatu yang tampak berlawanan, janggal, atau tidak logis justru dapat menjadi cara seniman menyampaikan gagasan dan membaca kehidupan. Pemaknaan tersebut hadir dalam pameran Paradoks yang menandai pembukaan Padma Art Space di Padma Piazza, Perumahan Graha Padma, Semarang, Kamis (8/10/2026) malam.
Pameran ini menghadirkan karya lima seniman asal Yogyakarta, yakni Akmal Jaya, Anggar Prasetyo, Budi Ubrux, Gunawan Bonaventura, dan Pupuk DP. Dikuratori Bambang ‘Toko’ Witjaksono, pameran dibuka oleh pemerhati seni rupa Oei Hong Djien.
Puluhan tamu undangan dan pegiat seni menghadiri pembukaan yang berlangsung mulai pukul 19.00 WIB. Pengunjung tampak mengamati beragam karya yang dipamerkan, mulai dari lukisan hingga patung. Suasana acara turut dihidupkan oleh penampilan musisi asal Yogyakarta, Sri Krishna Encik, sebelum dilanjutkan dengan pemotongan pita sebagai simbol peresmian Padma Art Space.
Dalam rangkaian acara, para tamu juga berkesempatan memberikan goresan cat pada sebuah kanvas kosong. Kanvas tersebut selanjutnya akan dilanjutkan oleh kelima seniman peserta pameran.

Kurator Bambang ‘Toko’ Witjaksono menjelaskan, paradoks merujuk pada sesuatu yang berlawanan atau tampak tidak logis. Dalam seni rupa, pertentangan tersebut dapat menjadi metode berkarya untuk menghadirkan keunikan sekaligus membuka perspektif baru bagi penikmat seni.
“Paradoks itu arti katanya kebalikan atau berlawanan, sesuatu yang tidak logis. Tetapi dalam seni, justru dijadikan metode berkarya seniman. Sesuatu yang seolah-olah aneh, unik, dan berbeda, di situlah simbolisasi dan seninya,” jelasnya.
Menurut Bambang, kehadiran Padma Art Space menambah pilihan ruang pamer sekaligus membuka peluang bagi perkembangan ekosistem seni rupa di Semarang. Ia berharap ruang tersebut tidak hanya menjadi tempat memajang karya, tetapi juga berkembang sebagai ruang pertukaran gagasan melalui diskusi, artist talk, peluncuran buku, hingga pemutaran dokumentasi tentang seniman.
“Senang sekali, acara di Semarang ini menambah galeri, menambah art space. Harapannya, ini ada terus dan ke depannya seniman-seniman Semarang bisa memberikan sumbangsih. Seni rupa di Semarang, termasuk para senimannya, akan berkembang terus dan melahirkan banyak karya,” ujarnya.

Salah satu peserta pameran, Anggar Prasetyo, membawa tiga lukisan dan tiga patung berukuran kecil berbahan fiberglass. Ia menyambut baik kesempatan berpameran di Semarang dan berharap pembukaan Padma Art Space menjadi awal bagi penyelenggaraan pameran berikutnya.
“Terima kasih sudah diberi kesempatan berpameran di Semarang. Semoga ini menjadi tonggak perdana bagi pameran-pameran berikutnya dan Semarang menjadi kota seni yang turut meramaikan dunia seni rupa Indonesia,” kata Anggar.

Sementara itu, Akmal Jaya menampilkan patung berbahan batu alam yang diolah menggunakan gerinda. Seniman kelahiran Padang yang telah lama menetap di Bantul tersebut menilai kehadiran ruang seni baru dapat memperluas kesempatan bagi seniman untuk memperkenalkan karya kepada publik.
Pupuk DP menghadirkan enam karya yang berangkat dari pengamatannya terhadap kehidupan sehari-hari. Baginya, paradoks dapat ditemukan dalam pengalaman manusia ketika kenyataan tidak berjalan sesuai keinginan atau harapan.
“Dalam hidup kita, sepanjang hari selalu ada paradoks yang kita lalui. Misalnya, kita menginginkan sesuatu, tetapi yang terjadi justru berbeda. Itu sebuah paradoks yang terkadang tidak kita sadari,” ujarnya.

Ia berharap Semarang semakin ramai dengan kegiatan seni dan budaya, khususnya pameran seni rupa yang berlangsung secara berkelanjutan. Dengan demikian, seniman lokal memiliki lebih banyak kesempatan untuk menampilkan karya dan memperoleh apresiasi masyarakat.
Adapun Budi Ubrux membawa tiga lukisan akrilik di atas kanvas. Seniman yang dikenal menggunakan koran sebagai elemen visual tersebut mengangkat cerita dan kehidupan sehari-hari sebagai sumber penciptaan. Sejumlah karyanya terinspirasi dari berita yang dibacanya, terutama di surat kabar, yang kemudian memunculkan beragam interpretasi, mulai dari kritik sosial hingga respons terhadap situasi politik dan kondisi negara.
Budi mengaku antusias dapat kembali berpameran di Semarang setelah sekitar 25 tahun sejak keikutsertaannya dalam sebuah pameran di Gakkai, Jalan Dr. Cipto. Ia berharap Padma Art Space dapat terus berkembang dan menjadi salah satu ruang seni favorit di Semarang.
“Saya sangat semangat karena masih diingat dan diajak berpameran kembali di Semarang. Harapannya, seni di mana pun semakin berkembang, dan Padma Art Space terus berlanjut serta menjadi tempat favorit di Semarang,” tuturnya.

Pameran Paradoks berlangsung hingga 29 November 2026. Melalui beragam medium dan perspektif, pameran ini mengajak pengunjung menafsirkan kembali hal-hal yang tampak bertentangan dalam kehidupan. Kehadiran Padma Art Space sekaligus diharapkan menjadi ruang perjumpaan bagi seniman, pegiat seni, dan masyarakat untuk berdialog serta mengapresiasi perkembangan seni rupa di Semarang. ***







