SEMARANG, obyektif.tv – Komunitas Relawan Tzu Chi Semarang menggelar bazar dan penggalangan dana bertajuk Menebar Cinta Kasih di depan sekretariat mereka, Jalan Ahmad Yani, Kota Semarang, bertepatan dengan kegiatan Car Free Day (CFD), Minggu (1/11/2026). Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya mengumpulkan dana untuk mendukung berbagai program bakti sosial dan kemanusiaan.
Dalam bazar tersebut, relawan menawarkan berbagai pakaian dan barang layak pakai dengan harga terjangkau, yakni Rp10.000 per barang. Dari kegiatan yang berlangsung sejak pagi itu, dana yang berhasil dikumpulkan mencapai lebih dari Rp5 juta.
Relawan Tzu Chi Semarang, Maria Veronica, mengatakan bazar merupakan salah satu bentuk penggalangan dana yang dilakukan komunitas untuk mendukung pembiayaan berbagai kegiatan sosial.
Menurutnya, kegiatan relawan tidak hanya berfokus pada penyaluran bantuan, tetapi juga berupaya menghimpun dana dan barang dari masyarakat agar program kemanusiaan dapat terus berjalan.
“Uang yang terkumpul dari kegiatan ini nantinya digunakan untuk biaya bakti sosial. Jadi, kami menggalang dana untuk mendukung kegiatan amal dan membantu masyarakat yang membutuhkan,” ujar Veronica, sapaan akrabnya.

Ia menjelaskan, bazar kali ini melibatkan sekitar 12 relawan. Persiapan telah dilakukan sejak pukul 05.00 WIB, mulai dari menata barang hingga melayani masyarakat yang datang berbelanja. Kegiatan berlangsung hingga sekitar pukul 09.00 WIB.
Setelah bazar selesai, para relawan kembali menyortir barang-barang yang belum terjual. Sebagian disimpan untuk kegiatan bazar berikutnya, sedangkan barang lainnya disiapkan untuk disumbangkan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Veronica mengatakan, komunitas juga memiliki program kunjungan sosial ke panti jompo dan panti asuhan yang diupayakan berlangsung setiap bulan. Beberapa kegiatan sebelumnya telah dilaksanakan di wilayah Ngaliyan dan Panti Asuhan Eunike.
“Barang-barang yang masih tersisa akan kami sortir kembali. Ada yang disimpan untuk kegiatan bulan depan dan sebagian akan kami donasikan karena kami juga memiliki program ke panti jompo dan panti asuhan,” jelasnya.
Selain melalui bazar, penggalangan dana dilakukan dengan melibatkan para relawan dan masyarakat yang ingin berpartisipasi. Salah satu caranya melalui celengan bambu, sebutan yang digunakan komunitas untuk wadah donasi. Masyarakat juga dapat memberikan sumbangan secara langsung melalui Kartu Cinta Kasih atau scan QR code.
Donasi yang diterima tidak terbatas pada uang. Masyarakat juga dapat menyumbangkan barang maupun kebutuhan pokok untuk mendukung berbagai kegiatan sosial.
Veronica berharap kegiatan bazar dapat dilaksanakan secara rutin setiap bulan sehingga semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk berbagi. Untuk mendukung program berskala lebih besar, komunitas juga mengandalkan bantuan para donatur melalui berbagai saluran donasi, termasuk kode QR yang dimiliki masing-masing relawan.
“Harapan kami, dana yang terkumpul bisa digunakan untuk kegiatan amal dan bakti sosial. Tzu Chi memiliki banyak program kemanusiaan, sehingga dukungan dari masyarakat dan para donatur sangat berarti,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Veronica juga menjelaskan bahwa aktivitas Tzu Chi di Semarang melibatkan dua kelompok, yakni XL Smart Tzu Chi dan Komunitas Relawan Tzu Chi Semarang yang keduanya berada di bawah naungan Sinar Mas.
Komunitas Relawan Tzu Chi Semarang sendiri mulai menjalankan aktivitasnya pada 2025 dengan sekretariat di Jalan Ahmad Yani. Saat ini, jumlah relawan yang tercatat sekitar 100 orang, meskipun yang aktif mengikuti berbagai kegiatan berkisar 25 orang.
Ia menambahkan, relawan berasal dari berbagai latar belakang agama dan golongan. Semangat yang diutamakan adalah kepedulian serta kemauan untuk membantu sesama tanpa membedakan latar belakang.
“Relawan kami universal, berasal dari berbagai golongan dan agama. Di Tzu Chi, semuanya disebut relawan, termasuk mereka yang berada di tingkat atas organisasi. Kami mengenal calon relawan, sukarelawan, dan relawan,” ungkapnya.
Ke depan, komunitas merencanakan kembali menggelar bazar pada akhir November 2026. Selain itu, kegiatan donor darah juga dijadwalkan berlangsung pada 11 November 2026 di sekretariat XL Smart Tzu Chi, Jalan Ahmad Yani, Semarang.

Kegiatan bazar tersebut turut mendapat perhatian dari masyarakat yang melintas di kawasan CFD. Salah satunya Harjanto Halim, pemilik sekaligus pendiri Marimas, yang menyempatkan diri mampir dan berdiskusi dengan para relawan.
Dalam kesempatan itu, Harjanto menanyakan respons masyarakat terhadap bazar sekaligus memberikan sejumlah masukan. Ia menyarankan agar barang-barang dagangan ditempatkan lebih ke depan sehingga mudah terlihat pengunjung. Lokasi penjualan di tempat lain yang lebih ramai juga dapat menjadi alternatif untuk memperluas jangkauan kegiatan.
Berawal dari Gerakan Kepedulian di Taiwan
Tzu Chi merupakan organisasi kemanusiaan internasional yang didirikan oleh Master Cheng Yen pada 14 Mei 1966 di Hualien, Taiwan. Organisasi yang dikenal dengan nama Buddhist Compassion Relief Tzu Chi Foundation ini lahir dari kepedulian terhadap masyarakat miskin dan keinginan untuk membantu sesama tanpa membedakan latar belakang.
Cikal bakal gerakan tersebut bermula dari langkah sederhana. Master Cheng Yen mengajak 30 ibu rumah tangga untuk menyisihkan sebagian uang belanja setiap hari dan memasukkannya ke dalam celengan bambu. Dana yang terkumpul digunakan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
Dari gerakan kecil tersebut, Tzu Chi berkembang menjadi organisasi kemanusiaan internasional yang menjalankan berbagai misi sosial. Nama Tzu Chi sendiri memiliki makna cinta kasih dan pertolongan, yang menjadi landasan dalam setiap kegiatan kemanusiaannya.
Dalam perkembangannya, Tzu Chi mengembangkan empat misi utama, yakni amal, kesehatan, pendidikan, dan budaya humanis. Kegiatan tersebut kemudian diperluas melalui berbagai program, antara lain bantuan bencana, pelestarian lingkungan, donor sumsum tulang, dan pemberdayaan relawan komunitas.
Perkembangan Tzu Chi di Indonesia
Gerakan Tzu Chi mulai masuk ke Indonesia pada 1993 melalui inisiatif Liang Cheung, seorang relawan Tzu Chi Taiwan yang datang ke Indonesia. Ia kemudian mengajak sejumlah perempuan yang memiliki hubungan dengan komunitas pengusaha Taiwan untuk menjadi donatur dan terlibat dalam kegiatan sosial.
Pada 1994, sejumlah calon relawan berkunjung ke Hualien, Taiwan, untuk bertemu Master Cheng Yen sekaligus meminta restu mendirikan Tzu Chi di Indonesia. Sejak itu, kegiatan kemanusiaan Tzu Chi semakin berkembang dan menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Dalam perjalanannya, Tzu Chi Indonesia menjalankan berbagai program sosial, mulai dari bantuan kepada masyarakat kurang mampu, kunjungan ke panti jompo, pelayanan kesehatan, beasiswa pendidikan, pembangunan rumah layak huni, hingga bantuan bagi korban bencana.
Hingga 2025, jaringan relawan Tzu Chi telah tersebar di 68 negara dan wilayah serta memberikan bantuan kemanusiaan ke 139 negara dan wilayah. Seluruh kegiatan tersebut berlandaskan cinta kasih universal tanpa membedakan suku, bangsa, ras, maupun agama.
Menumbuhkan Kepedulian dari Semarang
Semangat kemanusiaan tersebut juga menjadi landasan aktivitas Komunitas Relawan Tzu Chi Semarang. Melalui berbagai kegiatan sederhana, seperti bazar barang layak pakai, penggalangan donasi, kunjungan ke panti sosial, hingga kegiatan donor darah, para relawan berupaya menghadirkan manfaat bagi masyarakat sekitar.
Bagi mereka, kegiatan berbagi tidak selalu harus dimulai dari sumbangan dalam jumlah besar. Kepedulian dapat tumbuh melalui langkah sederhana, mulai dari menyisihkan sebagian rezeki, menyumbangkan barang layak pakai, hingga meluangkan waktu untuk membantu sesama. ***






