Beranda / OBYEKTRIP / Promosi Bukan Sekadar Viral, Kesiapan Destinasi Jadi Kunci Majukan Desa Wisata

Promosi Bukan Sekadar Viral, Kesiapan Destinasi Jadi Kunci Majukan Desa Wisata

SEMARANG, obyektif.tv – Kesiapan destinasi dinilai menjadi faktor utama dalam meningkatkan kunjungan wisatawan. Promosi yang masif tanpa didukung fasilitas, pelayanan, serta keunikan destinasi justru berpotensi menimbulkan pengalaman negatif bagi wisatawan. Karena itu, pengembangan desa wisata harus dimulai dari pembenahan internal sebelum gencar dipasarkan.

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Diseminasi Strategi Promosi Pariwisata Nusantara di Era Digital: Makin Dikenal, Makin Dikunjungi yang digelar Kementerian Pariwisata RI di Hotel Dafam Semarang, Minggu (19/7/2026). Kegiatan menghadirkan Anggota Komisi VII DPR RI Samuel Wattimena, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang Indriyasari, serta Perwakilan Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata RI Prima Sukma Pawestri.

Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, menegaskan bahwa strategi promosi pariwisata harus diawali dengan memastikan kesiapan destinasi. Menurutnya, selama ini perhatian sering kali lebih banyak diarahkan pada upaya menarik wisatawan, sementara kesiapan di lapangan belum optimal.

“Sering kali kita sibuk melakukan promosi dari luar, tetapi di dalam belum siap. Akhirnya dampaknya justru negatif,” ujarnya.

Ia mencontohkan masih banyak desa wisata yang belum memperhatikan kebutuhan dasar wisatawan, seperti ketersediaan toilet yang ramah bagi lansia. Menurutnya, persoalan tersebut tidak selalu membutuhkan pembangunan baru, tetapi dapat disiasati dengan modifikasi fasilitas yang sudah ada agar lebih inklusif.

Selain infrastruktur, Samuel juga mendorong pengelola desa wisata agar lebih percaya diri mempromosikan potensi daerahnya. Setiap desa, kata dia, tidak perlu memiliki banyak atraksi wisata, melainkan cukup mengoptimalkan dua atau tiga keunggulan yang benar-benar khas.

Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena.

Ia juga mengusulkan adanya kolaborasi antardesa wisata sehingga masing-masing destinasi dapat saling melengkapi. Wisatawan yang datang ke satu desa dapat diarahkan mengunjungi desa lain yang memiliki atraksi berbeda sehingga tercipta paket perjalanan yang lebih menarik.

“Seperti sebuah tim sepak bola, masing-masing punya kekuatan dan fungsi. Kalau semuanya bekerja bersama, hasilnya akan jauh lebih maksimal,” katanya.

Samuel menilai desa wisata rintisan masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah, mulai dari kelengkapan atraksi, aksesibilitas, hingga penyediaan informasi bagi wisatawan. Menurutnya, setiap desa memiliki peluang yang sama untuk berkembang selama mampu mengenali keunggulan yang dimiliki.

Ia juga menekankan pentingnya kemampuan story telling dalam mempromosikan destinasi. Keberadaan air terjun, misalnya, tidak cukup hanya ditampilkan sebagai objek wisata, tetapi perlu dibangun narasi menarik mengenai sejarah, keunikan, maupun cerita yang menyertainya sehingga memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan.

Lebih lanjut, Samuel mengusulkan agar desa wisata tidak hanya dikelompokkan berdasarkan status pemerintah seperti rintisan, berkembang, maju, atau mandiri, tetapi juga berdasarkan segmentasi wisatawan, seperti desa ramah anak, ramah keluarga, atau ramah lansia.

“Kalau akses menuju desa terlalu ekstrem, jangan dipromosikan untuk lansia. Tentukan siapa target wisatawannya agar promosi lebih tepat sasaran dan tidak menimbulkan kekecewaan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, mengatakan Pemkot Semarang terus melakukan pembinaan terhadap desa wisata melalui program Si Barista (Sinau Bareng Pariwisata).

Melalui program tersebut, tim pendamping turun langsung ke desa-desa wisata untuk menggali potensi lokal, mulai dari atraksi, kuliner khas, produk UMKM, hingga sarana pendukung wisata.

“Kami membentuk tim kecil yang datang langsung ke lokasi untuk mendampingi desa wisata. Potensi mereka kami petakan, kemudian disusun menjadi paket wisata yang memiliki ciri khas masing-masing,” ujarnya.

Kepala Disbudpar Kota Semarang, Indriyasari.

Setelah paket wisata siap, lanjut Indriyasari, desa wisata akan menjalani tahap uji coba dengan memasarkan produknya secara langsung. Apabila dinilai siap menerima wisatawan, barulah promosi dilakukan secara lebih luas.

Ia menambahkan, Kementerian Pariwisata bersama DPR RI juga memberikan dukungan melalui berbagai program pembinaan sehingga diharapkan mampu mempercepat peningkatan kualitas desa wisata di Kota Semarang.

Terkait promosi digital, Indriyasari mengakui sebagian besar desa wisata telah memiliki media sosial. Namun, menurutnya, konten yang disajikan masih belum cukup menarik dan belum memiliki karakter yang kuat.

“Promosinya masih biasa-biasa saja. Yang dibutuhkan adalah kreativitas dan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk influencer. Tetapi promosi tetap harus jujur sesuai kondisi yang ada,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Perwakilan Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata RI, Prima Sukma Pawestri, menekankan pentingnya membangun brand awareness destinasi wisata agar semakin dikenal masyarakat.

Menurutnya, promosi juga dapat diperkuat melalui kerja sama dengan biro perjalanan dalam menyusun paket wisata yang menarik.

Ia menjelaskan bahwa strategi promosi digital harus diawali dengan menentukan target pasar. Konten promosi untuk keluarga, pelajar, maupun wisatawan umum memerlukan pendekatan yang berbeda agar pesan yang disampaikan lebih efektif.

“Desa wisata harus menentukan target pasarnya terlebih dahulu. Setelah itu konten promosi dapat disesuaikan dengan karakter wisatawan yang ingin dituju,” ujarnya.

Perwakilan Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata RI, Prima Sukma Pawestri.

Prima juga memaparkan lima program prioritas Kementerian Pariwisata dalam mendukung pengembangan pariwisata nasional, yakni penguatan sumber daya manusia, pengembangan desa wisata, pengembangan pariwisata berkualitas, platform nasional Event Indonesia, serta transformasi digital pariwisata melalui pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan (AI).

Menurutnya, transformasi digital memungkinkan pelaku pariwisata memahami kebutuhan wisatawan secara lebih tepat melalui pemanfaatan data, sehingga strategi promosi menjadi lebih efektif, inovatif, dan tepat sasaran.

Melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, serta pengelola desa wisata, diharapkan destinasi wisata di Indonesia semakin dikenal luas sekaligus mampu memberikan pengalaman berkualitas bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. ***

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *