Beranda / LIFESTYLE / Umi Silvy Ajak Muslimah Memaknai Ujian sebagai Bukti Cinta Allah

Umi Silvy Ajak Muslimah Memaknai Ujian sebagai Bukti Cinta Allah

SEMARANG, obyektif.tv – Motivator Islam sekaligus praktisi hipnoterapi Umi Silvy Septina mengajak para muslimah memaknai ujian kehidupan sebagai bagian dari kasih sayang Allah SWT kepada hamba-Nya. Pesan tersebut disampaikan dalam seminar muslimah dan hipnoterapi bertajuk Semarang Season 2: Bukti Cinta Allah kepada Hamba-Nya yang Beriman yang digelar Sujud Society di Hotel Quest Semarang, Minggu (11/10/2026).

Dalam pemaparannya, Umi Silvy menyampaikan bahwa ujian kehidupan tidak semata-mata menghadirkan kesedihan, tetapi juga dapat menjadi momentum untuk memperbaiki diri, memperkuat keimanan, dan kembali mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Motivator Islam sekaligus praktisi hipnoterapi Umi Silvy Septina.

Ia mengajak peserta merenungkan delapan hal yang menjadi pengingat kasih sayang Allah kepada hamba-Nya, mulai dari terbukanya pintu tobat, pelajaran kesabaran melalui ujian, hikmah di balik sesuatu yang tidak sesuai keinginan, ampunan bagi orang yang bertobat, petunjuk dalam menjalani kehidupan, terkabulnya doa, kemudahan bersama kesulitan, hingga keyakinan bahwa Allah tidak membebani seseorang di luar kesanggupannya.

“Bukti cinta Allah itu salah satunya adalah ujian. Ketika Allah mencintai hamba-Nya, ujian bisa menjadi jalan untuk kembali merecharge iman dan menyadari bahwa kita hanyalah makhluk Allah yang suatu saat akan kembali kepada-Nya,” kata Umi Silvy.

Menurutnya, pengalaman menyakitkan yang dialami seseorang dapat menjadi pengingat ketika hubungan spiritual mulai terabaikan. Melalui berbagai persoalan kehidupan, seseorang diajak mengevaluasi diri, memperbaiki ibadah, serta kembali memohon ampun kepada Allah.

“Semua luka adalah proses kehidupan. Mungkin selama ini kita merasa beriman, tetapi tanpa disadari sudah jauh dari Allah. Melalui ujian, kita diingatkan untuk kembali bersujud, bertobat, dan mengakui kesalahan,” ujarnya.

Dalam seminar tersebut, Umi Silvy juga memadukan pendekatan hipnoterapi dengan praktik spiritual, seperti zikir dan sujud bersama. Peserta diajak mengalihkan perhatian dari pengalaman menyakitkan menuju upaya menerima masa lalu, memaafkan diri sendiri, dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.

Para peserta dalam sesi hipnoterapi.

Memasuki sesi hipnoterapi, peserta diminta duduk dengan nyaman ketika lampu ruangan diredupkan. Umi Silvy kemudian memandu mereka merenungkan perjalanan hidup serta belajar menerima dan mengikhlaskan berbagai pengalaman yang telah dilalui.

Suasana ruangan menjadi hening dan emosional. Sejumlah peserta tampak menangis saat mengikuti sesi tersebut. Pada akhir kegiatan, para peserta saling berpelukan sebagai simbol dukungan dan upaya berdamai dengan diri sendiri. Suasana semakin khidmat ketika lagu diperdengarkan, sementara peserta menyalakan lampu senter dari ponsel masing-masing.

Umi Silvy menegaskan, upaya membangun ketenangan hati perlu disertai ikhtiar memperbaiki hubungan spiritual dan menjaga lingkungan pergaulan yang positif. Ia menyarankan para muslimah membiasakan diri berzikir di tengah kesibukan sehari-hari serta mengikuti kegiatan keagamaan bersama lingkungan yang saling mendukung dalam kebaikan.

“Jangan fokus pada lukanya, tetapi fokuslah untuk memperbaiki diri dan memperbaiki hubungan dengan Rabb-mu. Insyaallah, Allah akan memperbaiki kehidupanmu,” pesannya.

Prosesi hipnoterapi sujud bersama dipandu Umi Silvy Septina dalam kegiatan yang digelar Sujud Society.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kesabaran dan tidak berputus asa dari rahmat Allah ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

“Harapan saya, setelah mengikuti kegiatan ini, para peserta bisa sedikit demi sedikit merilis luka yang mereka rasakan dan kembali menjalani kehidupan dengan hati yang lebih tenang,” ujarnya.

Salah satu peserta, Dewi Rahmawati, mengaku mendapatkan pengalaman berharga melalui seminar tersebut. Perempuan asal Pati, Jawa Tengah, itu menilai kegiatan ini memberinya kesempatan untuk memperdalam pemahaman keagamaan sekaligus melakukan refleksi diri.

“Seminar ini bagus buat saya dan ini pengalaman pertama. Saya ingin memperbaiki hati dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT,” kata Dewi.

Salah satu peserta seminar muslimah dan hipnoterapi asal Pati, Dewi Rahmawati.

Ia berharap seminar serupa dapat diselenggarakan di Pati agar masyarakat di daerahnya juga memiliki kesempatan mengikuti kegiatan tersebut.

“Semoga seminar berikutnya bisa diadakan di kota saya, Pati, supaya tidak terlalu jauh. Harapan saya untuk diri sendiri adalah tetap menjadi orang yang lebih baik dan menerima apa pun takdir dari Yang Maha Kuasa,” ujarnya.

Melalui penyelenggaraan seminar di Semarang ini, Sujud Society berharap kegiatan ini dapat menjadi ruang bagi para muslimah untuk memperkuat keimanan, merefleksikan perjalanan hidup, dan menemukan ketenangan melalui pendekatan spiritual. Kegiatan ini juga diharapkan dapat mendorong peserta menjadikan setiap ujian sebagai momentum introspeksi diri serta memperbaiki hubungan dengan Allah SWT dalam menjalani kehidupan sehari-hari.***

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *