SEMARANG, obyektif.tv – Ekspresi gambar yang dibuat anak-anak jalanan asal Wamena, Papua, menjadi pintu masuk untuk membaca sekaligus mengangkat potensi daerah mereka. Melalui pendekatan kreatif, cerita tentang Wamena tidak hanya muncul sebagai kenangan, tetapi juga sebagai kekuatan untuk membangun masa depan.
Kegiatan pembinaan tersebut difasilitasi Holy Stadium bersama sejumlah komunitas dan pelaku sosial Kristen di Semarang. Perwakilan Holy Stadium, Tina, menghadirkan Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, sebagai mitra ekonomi kreatif untuk memberikan wawasan kepada anak-anak.
Dalam pertemuan yang digelar di Holy Stadium, Semarang, Jumat (10/4/2026), Samuel mengajak anak-anak mengekspresikan diri melalui gambar di atas kertas putih. Dari sekitar 16 anak yang hadir, mayoritas menggambarkan rumah Honai, gunung, serta pepohonan yang menjadi ciri khas Wamena.
“Dari gambar-gambar itu terlihat mereka ingin menyampaikan cerita tentang kehidupan di Wamena. Rumah Honai menjadi simbol yang dominan, disertai lanskap alam seperti gunung dan pohon,” ujar Samuel.

Ia menilai, ekspresi visual tersebut tidak hanya mencerminkan kondisi psikologis berupa kerinduan terhadap kampung halaman, tetapi juga menyimpan potensi narasi lokal yang kuat. Menurutnya, apa yang digambar anak-anak itu dapat menjadi medium untuk memperkenalkan identitas dan kekayaan Wamena kepada masyarakat luas.
“Gambar itu bisa kita terjemahkan menjadi karya. Saya melihat ini sebagai cerita tentang potensi Wamena yang bisa diangkat ke publik,” jelasnya.
Sebagai tindak lanjut, Samuel berencana mengolah gambar-gambar tersebut menjadi desain kreatif pada produk fesyen sederhana seperti kaos dengan konsep street fashion. Melalui pendekatan ini, ia ingin menghadirkan karya yang tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga membawa pesan budaya.
Selain itu, ia juga telah memperlihatkan sejumlah video karya fesyen berbasis konsep daur ulang (recycle) dan upcycle kepada anak-anak. Respons antusias terlihat dari perhatian mereka saat menyaksikan tayangan tersebut.
Ke depan, Samuel merencanakan sesi pemotretan bersama anak-anak Wamena pada Mei 2026 sebelum mereka kembali ke daerah asal pada Juni mendatang. Pemotretan itu akan mengangkat karakter dan cerita mereka dalam balutan fesyen kasual.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian kemanusiaan yang tidak dibatasi oleh wilayah atau konstituen.
“Yang ingin dibangun adalah perspektif bahwa kepedulian itu luas. Dari cerita-cerita kecil seperti ini, kita bisa melihat potensi besar yang dimiliki daerah seperti Wamena,” ujarnya.
Melalui pendekatan kreatif tersebut, pembinaan anak-anak tidak hanya berfokus pada kebutuhan dasar, tetapi juga menyentuh aspek jiwa dan ekspresi diri. Ekspresi gambar yang sederhana pun, pada akhirnya, menjadi jembatan untuk menceritakan potensi Wamena kepada dunia. ***









