SEMARANG, obyektif.tv – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Indonesia wilayah Jawa Tengah menggelar aksi simbolik di depan Kantor Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah, Kota Semarang, Jumat (5/6/2026). Dalam aksi tersebut, mahasiswa melakukan pembakaran uang mainan dan penyegelan secara simbolik kantor BI, sebagai bentuk keprihatinan terhadap kondisi ekonomi nasional dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Koordinator Isu Ekonomi dan Ketenagakerjaan Aliansi BEM SI, Kevin Kurnia Priambodo dari Politeknik Negeri Semarang, mengatakan aksi tersebut lahir dari keresahan mahasiswa terhadap perkembangan ekonomi yang dinilai semakin membebani masyarakat.
Menurut Kevin, gagasan aksi bermula dari diskusi informal antaraktivis mahasiswa yang mencermati pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Mereka menilai isu pelemahan rupiah belum dipahami secara luas oleh masyarakat, padahal dampaknya dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami ingin menyampaikan kepada publik bahwa kondisi ekonomi saat ini sedang tidak baik-baik saja. Kami merasa perlu memberikan edukasi, pengawasan, dan peringatan kepada pemerintah agar lebih serius merespons persoalan ekonomi yang terjadi,” ujarnya.

Ia menilai berbagai kebijakan yang diambil pemerintah belum mampu menjawab persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat. Karena itu, mahasiswa merasa perlu menyuarakan keresahan publik melalui aksi simbolik tersebut.
Kevin menegaskan pembakaran uang yang dilakukan bukan ditujukan untuk menghina simbol negara maupun para pahlawan yang terdapat pada mata uang rupiah. Uang yang dibakar merupakan uang mainan yang digunakan sebagai simbol peringatan terhadap kondisi rupiah yang dinilai sedang mengalami tekanan berat.
“Pesan yang ingin kami sampaikan adalah rupiah sedang berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Kami hadir sebagai bentuk kepedulian dan harapan agar pemerintah segera mengambil langkah yang lebih serius untuk memperbaiki kondisi ekonomi,” katanya.
Sementara itu, perwakilan mahasiswa dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Muhammad Khailani Rizki Pratama, menegaskan aksi tersebut dilakukan secara mandiri tanpa dukungan maupun arahan dari pihak mana pun.
“Kami datang menggunakan kendaraan pribadi dan seluruh kebutuhan aksi dilakukan secara swadaya. Tidak ada pihak yang membiayai atau menunggangi kegiatan ini,” tegasnya.

Khailani mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk kegelisahan mahasiswa terhadap pelemahan nilai tukar rupiah dan berbagai persoalan ekonomi yang dinilai semakin membebani masyarakat. Menurutnya, mahasiswa ingin mendorong agar isu tersebut menjadi perhatian publik sekaligus prioritas pemerintah.
“Kami ingin mengingatkan bahwa persoalan ekonomi tidak boleh dianggap biasa. Jika tidak segera ditangani, dampaknya akan semakin besar terhadap kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Melalui aksi tersebut, Aliansi BEM SI Jawa Tengah berharap pemerintah lebih responsif dalam merumuskan kebijakan ekonomi dan mengambil langkah-langkah yang mampu memperkuat stabilitas nasional serta menjaga kesejahteraan masyarakat. ***









