SEMARANG, obyektif.tv – Mini Muralfest Petemesan yang digelar pada Sabtu (11/4/2026) tidak sekadar mempercantik lingkungan, tetapi menjadi ruang untuk menghidupkan kembali memori kolektif warga kampung di Semarang.
Berlokasi di Kampung Petemesan, Pekojan, Kelurahan Purwodinatan, kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Hysteria ArtLab dan Ikatan Remaja Petemesan. Melalui mural yang tersebar di tembok rumah, toko, hingga gudang, kampung ini dihadirkan sebagai ruang cerita yang merekam jejak sejarah dan kehidupan sosial warganya.
Perwakilan Hysteria ArtLab, Wicak, bersama Ketua RT Kampung Petemesan Aris dan Ketua Ikatan Remaja Petemesan Rangga, memandu mini tur menyusuri gang-gang kampung yang telah dihiasi mural. Dalam tur tersebut, pengunjung diajak memahami cerita di balik setiap karya yang dibuat para seniman.
“Total ada 23 seniman mural yang terlibat, tidak hanya dari Semarang, tetapi juga dari luar kota seperti Tangerang, Surabaya, hingga Bali. Prosesnya sangat dinamis dan spontan, kami eksplorasi langsung ruang-ruang yang ada,” ujar Wicak.
Salah satu karya mencolok berada di dinding gudang kaca dan material dengan panjang 17 meter dan tinggi 12 meter. Selain tur, panitia juga membagikan leaflet berisi deskripsi mural sebagai panduan bagi pengunjung.
Kegiatan ini turut dihadiri berbagai kalangan, mulai dari seniman, mahasiswa, warga, hingga perwakilan pemerintah dan lembaga terkait, seperti Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, anggota DPRD Kota Semarang, DPR RI, serta Komite Ekonomi Kreatif.
Salah satu seniman mural, Hanalogi Semata, mengungkapkan karyanya mengangkat narasi waktu dan sejarah Kampung Petemesan. Ia menggambarkan kuda dan aktivitas masyarakat sebagai refleksi masa lalu kawasan yang konon pernah menjadi kandang kuda dan pusat perdagangan.
“Saya ingin memantik ingatan orang terhadap sejarah kampung ini. Tidak banyak tulisan tentang Petemesan, jadi mural ini bisa jadi pintu masuk untuk mengenal masa lalu,” katanya.

Ia juga menampilkan elemen budaya Tionghoa dan Jawa, seperti furnitur khas serta figur berpakaian kebaya dan jarik, sebagai simbol kehidupan masyarakat yang hidup berdampingan sejak dulu.
Sementara itu, Lurah Purwodinatan, Sudewi, mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia berharap muralfest dapat memberikan dampak positif bagi warga, termasuk mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
“Kami sangat berterima kasih atas ide kreatif ini. Semoga ke depan Kampung Petemesan semakin dikenal luas dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Ketua RT Kampung Petemesan, Aris, juga menilai kegiatan ini tidak sekadar mempercantik lingkungan, tetapi menjadi proses bersama yang melibatkan warga.
“Ini bukan hanya soal mengecat tembok, tetapi proses dialog dan kebersamaan. Harapannya kampung kami bisa lebih dikenal luas,” ungkapnya.
Melalui Mini Muralfest Petemesan, kampung di jantung Kota Semarang ini menunjukkan bahwa ruang-ruang kecil dapat dihidupkan kembali melalui kolaborasi seni, sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis komunitas. ***









