KENDAL, obyektif.tv – Di bawah naungan langit Bumi Jabal, Desa Protomulyo, sebuah janji istikomah kembali ditunaikan. Ahad (10/5/2026), Aula Gedung Yayasan Al Ikhlas Al Asyariyyah di Kecamatan Kaliwungu Selatan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah menjadi saksi bisu atas perayaan kemanusiaan yang mendalam.
Memperingati hari jadi ke-14 yang jatuh pada 7 Mei lalu, yayasan sosial keagamaan ini menggelar Pengajian dan Santunan Rutin bagi 125 anak yatim-piatu dan dhuafa, sekaligus melepas delapan lulusan binaan yang kini siap menyongsong masa depan.
Mengangkat tema “Satu Hati, Satu Kebaikan: Berbagi Bahagia untuk Anak Yatim Piatu dan Dhuafa demi Kebahagiaan dan Masa Depan Anak-anak yang Lebih Baik”, acara ini tidak sekadar menjadi seremonial rutin, melainkan manifestasi dari pengabdian panjang yang telah dimulai sejak 7 Mei 2012 silam.
Langkah spiritual mengawali rangkaian acara sejak pukul 09.00 WIB. Sebanyak 125 anak penerima santunan diajak melakukan ziarah ke makam para tokoh yang menjadi fondasi nilai yayasan. Di bawah bimbingan Ustaz Ahmad Sodiq, rombongan melantunkan tahlil dan doa di pusara Kiai Haji (KH) Asy’ari (Kiai Guru)–tokoh yang menginspirasi nama Yayasan Al Ikhlas Al Asyariyyah– dan makam trah Noto Hamidjoyo—leluhur dari Fauzi Ichsan, donatur utama yang sejak awal berdiri menjadi pilar penyokong yayasan.
Ziarah ini menjadi pengingat filosofis bahwa setiap derap langkah kebaikan hari ini adalah buah dari pengabdian masa lalu. Doa-doa yang terangkai di makam tersebut menjadi jembatan harapan agar keberkahan senantiasa mengalir bagi para santri, pengurus, relawan, maupun para dermawan yang telah berpulang maupun yang masih berjuang.
Kembali ke pusat kegiatan, suasana hangat menyelimuti aula saat Ketua Umum Yayasan Al Ikhlas Al Asyariyyah Muhammad Abdul Aziz—atau yang akrab disapa Ustaz Aziz—memimpin doa bersama. Dalam tausiyahnya, Ustaz Aziz menekankan pentingnya menjaga hubungan vertikal dengan Sang Pencipta melalui doa.
Dia menyitir firman Allah SWT: “Ud’uni astajib lakum” (Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan). Pesan ini disampaikan bukan tanpa alasan; ia ingin menanamkan keyakinan di hati anak-anak binaan bahwa doa adalah senjata paling ampuh untuk mengubah nasib di dunia maupun di akhirat.
“Kami memohon doa dari seluruh hadirin agar yayasan ini senantiasa istikomah dalam menebar kebermanfaatan dan kemaslahatan, khususnya bagi anak-anak yatim-piatu dan dhuafa di wilayah ini,” ujar Ustaz Aziz dengan nada berwibawa.
Momen paling mengharukan terjadi saat penyerahan piagam dan tali asih kepada delapan anak yatim piatu yang telah menyelesaikan masa binaan. Mereka adalah: Viona Nairah Pramesty, Meita Hidayah, Zeni Rahmawati, Nur Aini, Wayz Alqurni Hartono, Muhammad Irsyad Azzuan Syahril Sobirin, Faturahman, dan Rian Angga Saputra.
Wayz Alqurni Hartono (18), siswa kelas III SMA Negeri 1 Kaliwungu, mengungkapkan rasa syukurnya.
“Meski pertemuan dilakukan secara rutin sebulan sekali, kami merasa bekal ilmu agama dan budi pekerti yang kami terima selama di yayasan ini sangat mendalam,” tutur Wayz, yang diamini rekannya, Muhammad Irsyad Azzuan Syahril Sobirin (17).
Hal senada diungkapkan oleh kakak-beradik Zeni Rahmawati (20) dan Nur Aini (19). Zeni, yang baru saja lulus dari SMK Bina Utama, berjanji akan menjaga nama baik almamaternya tersebut.
“Kami merasa beruntung menjadi bagian dari keluarga besar ini. Kami akan selalu mendoakan agar Yayasan Al Ikhlas Al Asyariyyah semakin maju dan meluaskan cakupan kepeduliannya,” ungkap Zeni tulus.
Acara dipuncaki dengan penyaluran santunan kepada 125 anak yatim-piatu dan dhuafa. Dengan tertib, satu per satu anak menerima uluran tangan kasih yang telah dipersiapkan para pengurus dan relawan.
Empat belas tahun perjalanan Yayasan Al Ikhlas Al Asyariyyah adalah potret dari keteguhan hati. Di Bumi Jabal, yayasan ini telah menjadi arus kebaikan yang terus mengalir, membasahi hati yang gersang, dan memastikan bahwa setiap anak, apa pun latar belakangnya, memiliki hak untuk memimpikan masa depan yang lebih cerah. ***










