Beranda / LIFESTYLE / SENI BUDAYA / Mengejutkan, Ditemukan Manuskrip “Ya Ahlal Wathon” versi Kiai Haji Jaisan Kaliwungu

Mengejutkan, Ditemukan Manuskrip “Ya Ahlal Wathon” versi Kiai Haji Jaisan Kaliwungu

KENDAL, obyektif.tv – Sejarah besar seringkali tersimpan rapat di balik debu sampul kitab-kitab tua. Sebuah temuan monumental mengejutkan dunia literasi dan sejarah Nusantara saat tim identifikasi manuskrip menemukan teks lagu “Ya Ahlal Wathon” versi Kiai Haji (KH) Jaisan di Madrasah Budaya Pungkuran, Desa Kutoharjo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah pada Sabtu-Ahad (9-10/5/2026).

Temuan ini seolah membuka tabir baru bahwa mars semangat kebangsaan Nahdlatul Ulama (NU) yang selama ini identik dengan “Syubbanul Wathon”–judul asli “Ya Lal Wathon” karya KH Abdul Wahab Chasbullah, memiliki kaitan sejarah yang mendalam dengan khazanah intelektual ulama Kota Santri Kaliwungu.

Peristiwa bersejarah ini bermula saat Bagus Zamzami (34), cicit dari KH Muhammad Jaisan bin Khoiruman atau Mbah Kiai Jaisan, Kampung Sarimanan-Kutoharjo, menyodorkan koleksi manuskrip keluarga kepada tim Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kabupaten Kendal. Di antara tumpukan kitab kuno tersebut, terselip salinan Kitab “Amtsilah At-Tashrifiyah”.

Kitab tersebut disalin oleh KH Jaisan pada tahun 1935, dua tahun setelah kitab aslinya disusun oleh KH Muhammad Ma’sum bin ‘Ali Khatib (menantu KH Hasyim Asy’ari–pendiri NU) pada 1933. Namun, yang paling memukau mata para peneliti adalah catatan di lembar belakang kitab tersebut: sebuah teks utuh bertajuk “Ya Ahlal Wathon”.

Bagus Zamzami menjelaskan bahwa versi kakek buyutnya ini memiliki keunikan tersendiri.

“Teks lagu Ya Ahlal Wathon versi Mbah Kiai Jaisan ini sedikit berbeda dan terasa lebih lengkap dibanding versi KH Abdul Wahab Chasbullah yang populer sekarang. Bahkan, sudah dilengkapi dengan semacam partitur atau panduan naik-turun nada sebagai pedoman melodi,” ungkap Bagus.

Bagus Zamzami, pewaris salinan Kitab “Amtsilah At-Tashrifiyah”.

Temuan ini menjadi bukti empiris bahwa narasi berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) bersifat multidimensional. Gus Muis–sapaan akrab KH Abdul Muis, Pengasuh Madrasah Budaya Pungkuran, menegaskan bahwa Kaliwungu pada awal abad ke-20 adalah pusat peradaban yang melahirkan ulama-ulama berpengaruh.

Sejarah mencatat KH Jaisan pernah menimba ilmu di Pesantren Tebuireng, Jombang-Jawa Timur. Di sana, beliau merupakan rekan sezaman KH Abdul Wahab Chasbullah di bawah asuhan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Kedekatan inilah yang memperkuat dugaan adanya pertukaran gagasan intelektual yang cair antar-santri pilihan tersebut.

Gus Tubagus Bakri, pengurus Komunitas Pecinta Kitab Kuning, Manuskrip, dan Seharah (Kopikumanis) sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren MISK Sarean-Kaliwungu, bahkan melontarkan analisis tajam. Ia menyebut ada kemungkinan besar bahwa “Ya Lal Wathon” yang kini populer sebagai Mars NU merupakan hasil adopsi atau memiliki akar kuat dari teks yang ditulis oleh KH Jaisan di Kaliwungu.

Merespons signifikansi temuan ini, Kepala Dinarpus Kabupaten Kendal Wahyu Yusuf Akhmadi, menyatakan komitmennya untuk melakukan tindak lanjut serius. Ia menilai manuskrip ini bukan sekadar kertas tua, melainkan identitas bangsa yang harus dilindungi.

“Temuan ini sangat penting. Bukan tidak mungkin, ‘Ya Ahlal Wathon’ versi Mbah Kiai Jaisan ini akan kita usulkan sebagai Ingatan Kolektif Nasional (Ikon) maupun Memori Kolektif Bangsa (MKB),” tegas Wahyu.

Kepala Dinarpus Kabupaten Kendal Wahyu Yusuf Akhmadi.

Langkah ini dianggap krusial sebagai bentuk penghormatan terhadap disiplin ilmu filologi dan upaya melestarikan rekam jejak perjuangan ulama lokal yang selama ini jarang tersentuh narasi sejarah arus utama.

Proses pendataan yang menerjunkan 10 anggota tim ahli dan berlangsung khidmat ini melibatkan kolaborasi luas dari berbagai elemen strategis, yaitu Dinarpus Kabupaten Kendal, Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama Majelis Wilayah Cabang Nahdlatul Ulama (LTN-NU MWC NU) Kaliwungu; Ponpes Nurul Hidayah; serta komunitas literasi dan sejarah seperti Kopikumanis; Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK); Kendal Tempo Doeloe; Kendal Heritage; serta Padepokan Joglo Kembar.

Kini, manuskrip KH Jaisan berdiri sebagai saksi bisu bahwa dari sudut kecil di Kota Santri Kaliwungu, semangat cinta Tanah Air pernah digubah dalam bait-bait doa dan nada yang melampaui zaman. Temuan ini menegaskan kembali adagium lama: bahwa sejarah akan selalu menemukan jalannya untuk pulang ke permukaan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *