Beranda / LIFESTYLE / SENI BUDAYA / Menyingkap Tabir Literasi Masa Lalu Kota Santri Kaliwungu

Menyingkap Tabir Literasi Masa Lalu Kota Santri Kaliwungu

KENDAL, obyektif.tv – Di balik dinding-dinding tua Madrasah Budaya Pungkuran, Desa Kutoharjo, Kecamatan Kaliwungu, aroma kertas usang menyeruak di antara desis angin siang. Selama dua hari, Sabtu hingga Ahad (9-10/5/2026), sebuah kerja besar dalam sunyi tengah berlangsung. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kabupaten Kendal, Jawa Tengah bersama elemen pesantren serta komunitas literasi berjibaku melakukan pendataan dan identifikasi puluhan manuskrip kuno yang selama ini menjadi permata tersembunyi di tanah para ulama.

Kepala Dinarpus Kabupaten Kendal Wahyu Yusuf Akhmadi, yang mengawal langsung sepuluh anggota tim ahli di lapangan, menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar rutinitas administratif. Ini adalah manifestasi dari program prioritas Perpustakaan Nasional (Perpusnas), yakni Pengarusutamaan Naskah Nusantara.

“Manuskrip kuno adalah sumber utama ilmu pengetahuan, identitas bangsa, dan ingatan kolektif nasional. Kita melakukan penyelamatan, pelestarian, dan digitalisasi agar kearifan lokal tetap memiliki tempat di tengah derasnya arus informasi modern,” kafa Wahyu dengan nada penuh wibawa.

Kepala Dinarpus Kabupaten Kendal Wahyu Yusuf Akhmadi.

Eksplorasi selama dua hari tersebut membuktikan reputasi Kaliwungu sebagai “Kota Santri” bukan sekadar julukan. Meski baru menyentuh sekitar 30 persen dari total potensi yang ada, temuan naskah berusia ratusan tahun ini dipandang sebagai fondasi warisan intelektual Islam yang tak ternilai bagi Kabupaten Kendal.

Laju usia adalah musuh utama lembaran kertas. Hal ini disadari betul oleh Pelaksana Tugas Kepala Bidang (Plt Kabid) Perpustakaan Dinarpus Kendal Nur Nudzrohayati. Ia menjelaskan bahwa peta jalan penyelamatan naskah ini telah disusun secara sistematis sejak tahun 2024 melalui pendataan awal.

Pada tahun 2025, Dinarpus melangkah lebih jauh dengan melakukan alih media atau digitalisasi. Hingga saat ini, tercatat 38 naskah kuno telah berhasil diidentifikasi dan didigitalisasi sepenuhnya.

“Target kami ke depan adalah menyusun hasil pendataan ini dalam bentuk katalog. Kami ingin masyarakat luas mengenal lebih dekat warisan intelektual ulama Kaliwungu yang selama ini tersimpan rapat di balik tradisi pesantren,” ungkap Nur Nudzrohayati.

Pelaksana Tugas Kepala Bidang (Plt Kabid) Perpustakaan Dinarpus Kendal Nur Nudzrohayati.

Proses identifikasi berlangsung dengan standar konservasi yang ketat. Dengan sarung tangan dan masker, tim memeriksa setiap inci naskah. Mereka membedah isi tulisan, jenis tinta, hingga karakteristik bahan kertas yang digunakan.

Pemandangan di Madrasah Budaya Pungkuran memperlihatkan kontras yang getir: di satu sisi, terdapat manuskrip beraksara Arab Pegon (Arab gundul) yang masih utuh dan terbaca jelas; namun di sisi lain, banyak naskah yang kondisinya mulai rapuh dan rusak dimakan usia akibat keterbatasan perawatan di masa lalu.

Tubagus Bakri, seorang pecinta manuskrip sekaligus pewaris naskah kuno, membawa 31 judul kitab atau naskah peninggalan ulama untuk didata. Baginya, lembaran-lembaran ini bukan sekadar pusaka keluarga.

“Ini adalah warisan ilmu. Isinya sangat luas, mencakup agama, sastra, hingga pengetahuan sosial masa lalu,” tutur Tubagus.

Salah satu temuan fenomenal adalah manuskrip Sholawat Basyairul Khoirot—sholawat khusus ibu hamil yang diijazahkan Syekh Abdul Qadir Jaelani—yang tercatat dalam Kitab “Midrorul Barokat” karya Kiai Haji (KH) Abu Khoir.

Namun, Tubagus juga menyimpan keprihatinan. Sebagai cucu KH Abu Khoir, Pengasuh Pondok Pesantren MISK Sarean ini mengungkapkan kenyataan pahit bahwa banyak naskah orisinal dari Kaliwungu yang kini justru berada di luar negeri, terutama di Belanda, sebagai dampak dari masa kolonialisme.

Tubagus Bakri, seorang pecinta manuskrip sekaligus pewaris naskah kuno.

Keberhasilan pendataan ini merupakan buah dari kolaborasi multidimensi. Dinarpus Kendal menggandeng berbagai pihak, di antaranya: Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama Majelis Wilayah Cabang Nahdlatul Ulama (LTN-NU MWC NU) Kaliwungu; Pondok Pesantren Nurul Hidayah Kaliwungu; Madrasah Budaya Pungkuran; Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK); Komunitas Pecinta Kitab Kuning, Manuskrip, dan Sejarah Kopikumanis) Kaliwungu; Kendal Tempo Doeloe; Kendal Heritage; serta Padepokan Joglo Kembar.

Didampingi Pengasuh Madrasah Budaya Pungkuran KH Abdul Muis–atau akrab disapa Gus Muis, Ketua LTN-NU MWC NU Kaliwungu Ibnu Fikri, merinci bahwa objek pendataan kali ini menyasar karya-karya monumental, di antaranya Kitab “Syarah Fathul Qarib” karya Mbah Abdul Karim; Kitab “Alfiyah” (Seribu Bait) karya Ibnu Malik hasil salinan tangan ulama lokal; Kitab “Iqna” karya Syekh Khotib As-Syirbini; serta bundel catatan bersejarah milik Mbah Ashari; termasuk kitab-kitab kuno koleksi Gus Syafik, pegiat Kopikumanis Kaliwungu.

Upaya identifikasi ini menjadi titik balik bagi Kabupaten Kendal untuk merebut kembali narasi sejarahnya, memastikan bahwa suara para ulama masa lalu tetap bergema di telinga generasi masa depan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *