Beranda / LIFESTYLE / SENI BUDAYA / Menapak Jalan Kota dengan Dzikir, Warga Pandansari Hidupkan Tradisi Mubeng Deso

Menapak Jalan Kota dengan Dzikir, Warga Pandansari Hidupkan Tradisi Mubeng Deso

SEMARANG, obyektif.tv – Puluhan warga Kelurahan Pandansari, Kecamatan Semarang Tengah, mengikuti Tirakatan Mubeng Deso atau Merti Desa yang digelar Senin malam (15/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi pembuka rangkaian Haul Mbah Syeh Jungke sekaligus upaya menghidupkan kembali tradisi budaya dan spiritual yang mulai jarang dijumpai di kawasan perkotaan. Kelurahan Pandansari sendiri berada di pusat Kota Semarang dan dikenal sebagai kawasan yang memiliki sejumlah situs sejarah dan budaya masyarakat setempat.

Kegiatan diawali dengan pembacaan dzikir, tahlil, dan tawasul yang dihadiahkan kepada Rasulullah SAW, para nabi, ulama, syuhada, serta para tokoh dan leluhur yang berjasa bagi masyarakat Pandansari, khususnya Mbah Syeh Jungke yang haulnya diperingati tahun ini.

Seksi Acara Haul Mbah Syeh Jungke, Muhammad Nazaruddin, mengatakan setelah doa bersama, peserta melaksanakan adzan tengah malam sebagai penanda dimulainya prosesi mubeng deso. Selanjutnya rombongan berjalan mengelilingi wilayah kampung sambil melantunkan ayat Kursi dan shalawat.

Tahlilan dan doa bersama di Balai Kelurahan Pandansari mengawali rangkaian Tirakatan Mubeng Deso dalam rangka Haul Mbah Syeh Jungke.

Menurutnya, tirakatan tersebut merupakan bentuk ikhtiar spiritual masyarakat untuk memohon keselamatan, kesehatan, ketenteraman, dan kemakmuran bagi warga Kelurahan Pandansari.

“Harapannya, Pandansari dijauhkan dari berbagai mara bahaya, diberikan keberkahan, kesejahteraan, dan ketenteraman bagi seluruh warganya,” ujarnya.

Rute tirakatan dimulai dari Balai Kelurahan Pandansari di Jalan Pandansari III. Setelah itu peserta menyusuri Jalan Pandansari III menuju Jalan Imam Bonjol ke arah kawasan Stasiun Poncol. Rombongan kemudian memasuki Jalan Tanjung sejauh kurang lebih 500 meter, dilanjutkan menuju Jalan Pemuda dan melintasi kawasan pusat kota hingga melewati Queen City Mall. Selanjutnya peserta bergerak ke Jalan Kolonel Sugiono sebelum kembali menyusuri Jalan Imam Bonjol dan berakhir di Balai Kelurahan Pandansari sebagai titik akhir perjalanan. Jalur tersebut melintasi sejumlah ruas jalan utama di pusat Kota Semarang yang berada di sekitar kawasan Stasiun Poncol dan Jalan Pemuda.

Nazaruddin menambahkan, tradisi mubeng deso merupakan warisan budaya yang masih banyak ditemukan di sejumlah daerah pedesaan, namun mulai jarang dilakukan di wilayah perkotaan. Karena itu, masyarakat Pandansari berinisiatif menghidupkan kembali tradisi tersebut sebagai bagian dari pelestarian budaya lokal.

Salah satu hal yang menarik perhatian dalam prosesi tirakatan adalah seluruh peserta berjalan tanpa menggunakan alas kaki. Menurut Nazaruddin, hal itu merupakan simbol kerendahan hati manusia di hadapan Allah SWT.

“Berjalan tanpa alas kaki menjadi bagian dari laku tirakat. Kita menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang lemah di hadapan Allah. Selain itu, ada makna spiritual berupa kedekatan dengan alam dan bumi tempat kita berpijak,” katanya.

Tepat pukul 00.00 WIB, Wakil Ketua Panitia Haul Mbah Syeh Jungke, Dedi Taruna, mengumandangkan adzan sebagai penanda dimulainya Tirakatan Mubeng Deso. Usai adzan berkumandang, puluhan peserta berjalan mengelilingi wilayah Pandansari sambil melantunkan ayat Kursi dan shalawat.

Sementara itu, Wakil Ketua Panitia Haul Mbah Syeh Jungke, Dedi Taruna, mengatakan Tirakatan Mubeng Deso merupakan salah satu rangkaian menuju Kirab Mbah Syeh Jungke yang akan digelar pada akhir Juni mendatang.

Ia mengapresiasi tingginya antusiasme masyarakat yang turut membantu pelaksanaan kegiatan, baik melalui tenaga, dukungan material, maupun doa sehingga kegiatan dapat berlangsung dengan lancar.

“Alhamdulillah masyarakat sangat antusias. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga, pengurus makam, donatur, dan semua pihak yang telah mendukung kegiatan ini,” ujarnya.

Menurut Dedi, yang juga merupakan Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Pandansari, pelaksanaan haul tidak hanya menjadi agenda keagamaan, tetapi juga bagian dari upaya menjaga dan melestarikan cagar budaya religi yang ada di Kelurahan Pandansari. Ia menegaskan bahwa makam Mbah Syeh Jungke memiliki nilai sejarah yang perlu terus dikenalkan kepada masyarakat, terutama generasi muda.

Dalam rangkaian haul tahun ini, panitia telah menyiapkan sejumlah kegiatan, mulai dari Tirakatan Mubeng Deso, Kirab Budaya, Khatmil Quran di Mushala Baitul Makmur yang berada di dekat kompleks makam Mbah Syeh Jungke, sarasehan sejarah dan cagar budaya, santunan anak yatim, hingga Pengajian Akbar sebagai puncak acara yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu malam, 27 Juni 2026.

Dedi berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat menjadi sarana mempererat kerukunan masyarakat serta meningkatkan kepedulian terhadap warisan budaya dan sejarah yang ada di Kota Semarang.

“Haul Mbah Syeh Jungke bukan hanya peringatan keagamaan, tetapi juga momentum untuk memperkuat kebersamaan warga serta menjaga warisan budaya dan sejarah yang menjadi identitas masyarakat Pandansari,” pungkasnya. ***

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *