Beranda / NEWS / Ngalamad, Tiyo Ardianto Siap Bongkar Suprastruktur Indonesia

Ngalamad, Tiyo Ardianto Siap Bongkar Suprastruktur Indonesia

JURNALIS/EDITOR: Dwi Roma | KENDAL | obyektif.tv

SUASANA malam di Madrasah Budaya Pungkuran, Desa Kutoharjo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Sabtu (25/7/2026), mendadak sarat daya pikat saat Tiyo Ardianto hadir menjadi pemateri utama dalam majelis Ngaji Malam Ahad (Ngalamad).

Tiyo Ardianto di tengah-tengah ratusan jemaah Ngalamad Madrasah Budaya Pungkuran. [KLIK gambar untuk NONTON VIDEO-nya!]

Berbusana santun dengan baju koko, sarung, dan peci ala santri, mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gajah Mada (BEM UGM) Yogyakarta yang sempat viral berkat kelantangannya memelesetkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi “Maling Berkedok Gizi” itu, membawakan narasi tajam bertajuk “Islam dan Demokrasi”.

Pengasuh Madrasah Budaya Pungkuran KH Abdul Muis (Gus Muis) memantik Ngalamad dengan pernyataan mengentak; “Allah Maha Makar!”. [KLIK gambar untuk NONTON VIDEO-nya!]

Di hadapan ratusan jemaah dan audiens umum, Tiyo menegaskan kehadirannya bukan sekadar berorasi, melainkan bentuk proses “belajar menemani masyarakat yang kehilangan negara.”

Pengasuh Pesantren Kebudayaan Ndalem Wongsorogo Kiai Paox Iben Mudhaffar mengingatkan tentang demokrasi Indonesia hari ini yang cenderung bergeser menjadi kleptokrasi. [KLIK gambar untuk NONTON VIDEO-nya!]

Secara sistematis dan bertahap, Tiyo membedah kegagalan berpikir runtut dalam kebijakan Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Tiyo Ardianto berdialog dengan tiga orang jemaah Ngalamad Madrasah Budaya Pungkuran. [KLIK gambar untuk NONTON VIDEO-nya!]

Ia menyoroti peluncuran program MBG yang minim partisipasi publik akibat terdesak janji politik hingga bermuara pada bancakan korupsi para elit.

Tiyo Ardianto berdialog langsung sepitar MBG dengan seorang relawan SPPG yang juga jemaah Ngalamad Madrasah Budaya Pungkuran. [KLIK gambar untuk NONTON VIDEO-nya!]

Tak hanya itu, program pembangunan 80 ribu lebih Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) turut dikritik tajam karena tidak dipahami arah dan keuntungannya oleh mayoritas kepala desa maupun lurah se-Indonesia.

Tiyo Ardianto mengajak tiga orang Santri Laju Madrasah Budaya Pungkuran, untuk belajar menjadi pemimpin, memandu bersholawat bersama seluruh jemaah Madrasah Budaya Pungkuran. [KLIK gambar untuk NONTON VIDEO-nya!]

“Negara saat ini tidak dikuasai oleh institusi negara itu sendiri, melainkan oleh suprastruktur di atasnya yang tak terlihat dan tak tersentuh,” cetusnya.

Tiyo Ardianto dalam ekspresi serius. [KLIK gambar untuk NONTON VIDEO-nya!]

Guna membongkar cengkeraman tersebut, Tiyo menyerukan gerakan berbasis kebudayaan yang terukur serta mendesak lahirnya kepemimpinan berprinsip Wani (berani), Ahli, dan Apik (baik budi).

Tiyo Ardianto dalam ekspresi tertawa. [KLIK gambar untuk NONTON VIDEO-nya!]

Napas kritis tersebut telah dipantik sejak awal oleh Pengasuh Madrasah Budaya Pungkuran Kiai Haji (KH) Abdul Muis atau Gus Muis.

Tiyo Ardianto dalam ekspresi tersenyum manis. [KLIK gambar untuk NONTON VIDEO-nya!]

Melalui retorika konfrontatif, Gus Muis mengutip Surah Ali Imran ayat 54; “Wa makaru wa makarallah, wallahu khairul-makirin”.

Penyair Slamet Priyatin tampil membacakan salah satu puiisi karyanya yang kritis. [KLIK gambar untuk NONTON VIDEO-nya!]

Menurut Gus Muis, arti dari ayat tersebut; “Dan mereka membuat tipu daya dan Allah pun membalas tipu daya (mereka). Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”, menegaskan bahwa “Allah Maha Makar”.

Pengasuh Madrasah Budaya Pungkuran KH Abdul Muis (Gus Muis). [KLIK gambar untuk NONTON VIDEO-nya!]

“Allah Maha Makar, ini menjadi tafsir eksplisit atas fenomena demokrasi terkini yang kerap memvonis narasi kritis maupun sikap oposisi rakyat sebagai benih-benih makar,” tandas Gus Muis.

Pengasuh Pesantren Kebudayaan Ndalem Wongsorogo Kiai Paox Iben Mudhaffar. [KLIK gambar untuk NONTON VIDEO-nya!]

Menyempurnakan dialektika malam itu, Pengasuh Pesantren Kebudayaan Ndalem Wongsorogo Desa Sidorejo, Kecamatan Brangsong, Kiai Paox Iben Mudhaffar, secara lugas memvonis bahwa Indonesia saat ini telah bergeser dari negara demokrasi menjadi kleptokrasi—pemerintahan di mana para pejabat menggunakan kekuasaan untuk mencuri uang dan kekayaan negara.

Penampilan grup rock Gus N’ Roses yang mengisi jeda di Ngalamad Madrasah Budaya Pungkuran. [KLIK gambar untuk NONTON VIDEO-nya!]

“Ciri utamanya ditandai oleh korupsi sistemik serta penegakan hukum yang lemah dan kerap melindungi pelaku kejahatan,” terang Kiai Paox.

Isai Ngalamad, Tiyo Ardianto langsung di-“doorstop” untuk mempromosikan buku karya ulama Kota Santri Kaliwungu. [KLIK gambar untuk NONTON VIDEO-nya!]

Meski diapit oleh realitas kekuasaan yang muram, forum yang juga diisi pembacaan puisi oleh penyair Slamet Priyatin dan selingan lagu-lagu rock oleh Gus N’ Roses ini ditutup dengan sublimasi optimisme Tiyo Ardianto yang menggaungkan keyakinan kolektif: “Indonesia akan bahagia, meskipun belum!”***

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *