JURNALIS/EDITOR: Dwi Roma | KENDAL | obyektif.tv
SUASANA malam di Madrasah Budaya Pungkuran, Desa Kutoharjo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Sabtu (25/7/2026), mendadak sarat daya pikat saat Tiyo Ardianto hadir menjadi pemateri utama dalam majelis Ngaji Malam Ahad (Ngalamad).

Berbusana santun dengan baju koko, sarung, dan peci ala santri, mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gajah Mada (BEM UGM) Yogyakarta yang sempat viral berkat kelantangannya memelesetkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi “Maling Berkedok Gizi” itu, membawakan narasi tajam bertajuk “Islam dan Demokrasi”.

Di hadapan ratusan jemaah dan audiens umum, Tiyo menegaskan kehadirannya bukan sekadar berorasi, melainkan bentuk proses “belajar menemani masyarakat yang kehilangan negara.”

Secara sistematis dan bertahap, Tiyo membedah kegagalan berpikir runtut dalam kebijakan Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Ia menyoroti peluncuran program MBG yang minim partisipasi publik akibat terdesak janji politik hingga bermuara pada bancakan korupsi para elit.

Tak hanya itu, program pembangunan 80 ribu lebih Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) turut dikritik tajam karena tidak dipahami arah dan keuntungannya oleh mayoritas kepala desa maupun lurah se-Indonesia.

“Negara saat ini tidak dikuasai oleh institusi negara itu sendiri, melainkan oleh suprastruktur di atasnya yang tak terlihat dan tak tersentuh,” cetusnya.

Guna membongkar cengkeraman tersebut, Tiyo menyerukan gerakan berbasis kebudayaan yang terukur serta mendesak lahirnya kepemimpinan berprinsip Wani (berani), Ahli, dan Apik (baik budi).

Napas kritis tersebut telah dipantik sejak awal oleh Pengasuh Madrasah Budaya Pungkuran Kiai Haji (KH) Abdul Muis atau Gus Muis.

Melalui retorika konfrontatif, Gus Muis mengutip Surah Ali Imran ayat 54; “Wa makaru wa makarallah, wallahu khairul-makirin”.

Menurut Gus Muis, arti dari ayat tersebut; “Dan mereka membuat tipu daya dan Allah pun membalas tipu daya (mereka). Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”, menegaskan bahwa “Allah Maha Makar”.

“Allah Maha Makar, ini menjadi tafsir eksplisit atas fenomena demokrasi terkini yang kerap memvonis narasi kritis maupun sikap oposisi rakyat sebagai benih-benih makar,” tandas Gus Muis.

Menyempurnakan dialektika malam itu, Pengasuh Pesantren Kebudayaan Ndalem Wongsorogo Desa Sidorejo, Kecamatan Brangsong, Kiai Paox Iben Mudhaffar, secara lugas memvonis bahwa Indonesia saat ini telah bergeser dari negara demokrasi menjadi kleptokrasi—pemerintahan di mana para pejabat menggunakan kekuasaan untuk mencuri uang dan kekayaan negara.

“Ciri utamanya ditandai oleh korupsi sistemik serta penegakan hukum yang lemah dan kerap melindungi pelaku kejahatan,” terang Kiai Paox.

Meski diapit oleh realitas kekuasaan yang muram, forum yang juga diisi pembacaan puisi oleh penyair Slamet Priyatin dan selingan lagu-lagu rock oleh Gus N’ Roses ini ditutup dengan sublimasi optimisme Tiyo Ardianto yang menggaungkan keyakinan kolektif: “Indonesia akan bahagia, meskipun belum!”***










