JURNALIS/EDITOR: Dwi Roma | KENDAL | obyektif.tv
SASTRA tidak lagi sekadar menjadi ruang permenungan kata, melainkan mulai melangkah pasti menuju ranah kemandirian ekonomi.

Melanjutkan keberhasilan agenda sebelumnya, Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK) berkolaborasi dengan Universitas Negeri Semarang (Unnes) menggelar pertemuan kedua Lokakarya Inkubasi Litera-Preneurship: Komodifikasi Sastra Berbasis Komunitas pada Ahad (9/8/2026).

Berbeda dari pertemuan pertama yang diselenggarakan di Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kabupaten Kendal, agenda kedua yang berlangsung pukul 08.00-13.00 WIB ini bertempat di markas kreatif PSK yang bersahaja, KopiSufi, Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Presiden PSK Bahrul Ulum A Malik, dilanjutkan dengan sambutan Kepala Bidang (Kabid) Kepemudaan Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Kendal, Retno Kurniawati.

Sesi penajaman materi kemudian dibagi ke dalam dua bagian utama.
Sesi pertama diisi oleh Muhammad Feriady, akademisi pengampu Ekonomi UMKM sekaligus dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Unnes, dengan topik “Perencanaan Bisnis Berbasis Produk Sastra”.

Feriady menekankan pentingnya dokumen business plan atau perencanaan bisnis bagi komunitas sastra guna menangkap peluang pasar.

“Jika mereka punya business plan yang berbasis peluang dan target, peluang mereka untuk menjual produk-produk sastra sangat besar sekali,” tutur Feriady seraya menyoroti masih minimnya kepemilikan dokumen perencanaan bisnis di tingkat komunitas.

Sesi kedua menghadirkan Nanang Dwi Praatmana, dosen Prodi Manajemen FEB Unnes, yang membedah “Pengelolaan Lokapasar Berbasis Produk Sastra”.

Pakar kewirausahaan ini menggarisbawahi pentingnya karakter produk dan strategi branding lintas platform—mengoptimalkan Instagram untuk personal branding, TikTok untuk engagement, serta WhatsApp Bisnis guna mengukur respons konsumen.

Nanang juga membeberkan teknik penulisan iklan AIDA, yang merupakan akronim dari Attention (Perhatian), Interest (Minat), Desire (Keinginan), dan Action (Tindakan).

“AIDA Copywriting merupakan panduan untuk mengarahkan calon konsumen hingga melakukan transaksi,” jelas Nanang.

Lokakarya ini diikuti oleh pelajar, mahasiswa, akademisi, pegiat literasi, hingga anggota Komisi D DPRD Kabupaten Kendal, Dian Alfat Muchammad.

Politisi Fraksi PKB tersebut mengapresiasi langkah sastra untuk “naik kelas” menjadi kewirausahaan sastra dan berjanji membawa aspirasi komunitas ke legislatif melalui penguatan publikasi serta pendekatan berbasis kolaboratif konstituen-komunitas.

“Saya berharap, kegiatan semacam ini lebih diperkuat dari sisi publikasi, agar bisa lebih diketahui dan dilibati khalayak umum yang lebih luas,” ujar Dian Alfat.
Dukungan serupa ditegaskan oleh Kabid Kepemudaan Disporapar Kendal, Retno Kurniawati. Ia berkomitmen memberikan pendampingan agar produk sastra PSK makin dikenal luas oleh masyarakat.

“Disporapar siap memberikan pendampingan dan membersamai PSK untuk bisa lebih menjual produk-produk sastra sebagai produk ekonomi kreatif mereka. Saya sangat optimis, PSK pasti bisa!” tandas Retno.

Mengunci agenda, Presiden PSK Bahrul Ulum A Malik menyuarakan optimisme mendalam atas gelaran ini. Melalui Inkubasi Litera-Preneurship, PSK menegaskan metamorfosa akronim terbarunya menjadi “Pekerja Sastra Komersial”—sebuah manifestasi semangat bahwa sastra mampu berkarya sekaligus memberdayakan ekonomi komunitas. Akhirnya, PSK adalah cuan!***










