Beranda / LIFESTYLE / SENI BUDAYA / Samuel Wattimena Dorong Ekosistem Seni yang Mandiri dan Berdampak bagi Masyarakat

Samuel Wattimena Dorong Ekosistem Seni yang Mandiri dan Berdampak bagi Masyarakat

SEMARANG, obyektif.tv – Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, mendorong terbentuknya ekosistem seni yang mandiri, kolaboratif, dan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Menurutnya, pelaku seni maupun komunitas tidak lagi cukup hanya mengandalkan dukungan fasilitas dari pemerintah, tetapi juga harus membangun nilai, jejaring, serta kontribusi yang dapat dirasakan publik.

Samuel menyampaikan, ruang ekspresi yang difasilitasi pemerintah merupakan bentuk dukungan terhadap perkembangan seni dan budaya. Namun, dukungan tersebut perlu diimbangi dengan tanggung jawab dari para pelaku seni agar tercipta hubungan yang saling menguatkan.

“Kalau mau pentas tentu ingin ada yang menonton. Yang harus bergerak mendatangkan penonton itu komunitasnya sendiri. Istilahnya sederhana, tidak ada makan siang gratis (no free lunch),” ujarnya, Rabu (5/7/2026).

Menurut Samuel, setiap pertunjukan seni harus memiliki tujuan yang jelas, mulai dari sasaran penonton, pesan yang ingin disampaikan, hingga dampak yang dihasilkan bagi masyarakat. Dengan demikian, kegiatan seni tidak hanya menjadi ruang ekspresi bagi komunitas, tetapi juga memberikan manfaat sosial yang lebih luas.

Ia menilai, komunitas seni perlu mulai membangun pola pikir yang lebih profesional dengan menyusun konsep pertunjukan secara matang, termasuk strategi promosi dan publikasi. Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kepercayaan pemerintah, sponsor, maupun masyarakat terhadap setiap kegiatan yang diselenggarakan.

“Kalau pemerintah memberikan fasilitas, tentu wajar apabila ingin mengetahui dampaknya bagi masyarakat. Berapa orang yang hadir, apa nilai yang diberikan, dan bagaimana kegiatan itu memberikan manfaat bagi publik, semua itu harus bisa dijelaskan,” katanya.

Samuel menegaskan bahwa seni tidak seharusnya berhenti pada kepuasan internal komunitas. Sebaliknya, karya seni harus mampu berdialog dengan masyarakat serta menghadirkan nilai sosial, budaya, pendidikan, maupun pemberdayaan sesuai dengan tema yang diangkat.

Selain membangun kualitas pertunjukan, Samuel juga menekankan pentingnya memperkuat jejaring dengan media massa. Menurutnya, publikasi yang konsisten akan membantu memperkenalkan komunitas seni kepada masyarakat sekaligus menjadi rekam jejak yang dapat meningkatkan posisi tawar ketika menjalin kerja sama dengan pemerintah maupun pihak swasta.

“Media memiliki peran penting dalam membesarkan komunitas seni. Pemberitaan mengenai kegiatan mereka akan menjadi portofolio sekaligus memperkuat kepercayaan berbagai pihak untuk mendukung pengembangan komunitas,” ujarnya.

Samuel juga mendorong komunitas seni yang telah berkembang agar tidak hanya berkarya di daerah sendiri, tetapi mulai memperluas jangkauan pertunjukan ke berbagai kota. Menurutnya, mobilitas tersebut akan memperkaya pengalaman sekaligus memperkuat ekosistem seni yang lebih terbuka dan kompetitif.

Sebagai bagian dari pengembangan ekosistem kreatif, Samuel mengungkapkan gagasan untuk mengintegrasikan kegiatan seni dengan promosi destinasi wisata di Kota Semarang. Pertunjukan seni, menurutnya, dapat digelar di kawasan wisata seperti Taman Lele maupun Tinjomoyo sehingga mampu menghidupkan ruang publik sekaligus menarik minat wisatawan.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa setiap gagasan perlu dibangun melalui dialog dengan seluruh pemangku kepentingan agar pelaksanaannya sesuai dengan kebutuhan komunitas dan memberi manfaat yang optimal.

Samuel mengibaratkan pengembangan komunitas seni dengan pelaku UMKM yang ingin menembus pasar ekspor. Menurutnya, cita-cita besar harus diiringi kesiapan yang matang, baik dari sisi kualitas, kapasitas, maupun strategi pengembangan.

“Bermimpi itu boleh, tetapi mimpi harus diikuti langkah nyata. Yang penting adalah apa yang bisa kita kerjakan hari ini untuk membangun masa depan yang lebih baik,” tuturnya.

Ia berharap kolaborasi antara pemerintah, komunitas seni, media massa, dunia usaha, dan masyarakat terus diperkuat sehingga mampu melahirkan ekosistem seni yang mandiri, berdaya saing, dan memberikan dampak positif bagi pembangunan budaya serta ekonomi kreatif di Kota Semarang. ***

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *