Beranda / EKBIZ / EKRAF / Kembangkan Wirausaha Baru, Samuel Wattimena Dorong IKM Lebih Inovatif

Kembangkan Wirausaha Baru, Samuel Wattimena Dorong IKM Lebih Inovatif

SEMARANG, obyektif.tv – Anggota Komisi VII DPR RI Samuel Wattimena mendorong pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) di Kota Semarang untuk lebih inovatif dalam mengembangkan produk dan berani melakukan eksperimen. Menurutnya, penumbuhan wirausaha baru harus diikuti keberanian memadukan keterampilan, kreativitas, dan potensi budaya lokal.

Dorongan itu disampaikan Samuel saat menghadiri Bimbingan Teknis ‘Penumbuhan dan Pengembangan Wirausaha Baru Industri Kecil di Kota Semarang’ yang digelar Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Industri Kecil, Menengah, dan Aneka, di Semarang, Sabtu (26/9/2026).

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 375 peserta. Mereka mendapatkan pembekalan pada sejumlah bidang, di antaranya batik dan sablon, logam dan servis, serta roti dan jajanan pasar. Selanjutnya, peserta akan diseleksi untuk mengikuti pelatihan yang lebih intensif dengan kuota 25 orang pada masing-masing bidang atau sekitar 150 peserta.

Samuel menilai pelatihan bagi calon wirausaha baru tidak cukup hanya mengajarkan keterampilan teknis. Peserta juga perlu didorong untuk mencoba berbagai kemungkinan produk sehingga terbiasa melakukan inovasi dan mengevaluasi hasilnya.

“Selagi ini mereka adalah IKM dan scope-nya kecil, ayo di-explore. Risiko kegagalannya tidak besar. Saya melihat mereka ini harus menjadi pelaku-pelaku kreatif yang melakukan trial and error,” ujar Samuel.

Ia mencontohkan inovasi dapat dilakukan pada produk makanan. Pelaku usaha roti, misalnya, dapat mengeksplorasi cita rasa lokal seperti cendol atau klepon sehingga menghasilkan produk baru yang tetap memiliki karakter Indonesia.

Menurut Samuel, konsep serupa juga dapat diterapkan pada batik. Ia mengusulkan agar motif yang selama ini berkembang dalam desain sablon dapat diolah menjadi motif batik dengan tetap mempertahankan teknik membatik.

“Kenapa tidak membatik berdasarkan motif-motif sablon, tetapi tekniknya tetap teknik membatik? Sebaliknya, motif yang lebih funky bisa diekspresikan anak muda melalui motif sablon,” katanya.

Menurutnya, inovasi tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk mendekatkan produk IKM dengan generasi muda. Batik, kata Samuel, tidak harus selalu tampil dengan pola konvensional, tetapi dapat dikembangkan melalui desain yang lebih sesuai dengan perkembangan selera pasar.

Samuel juga mengingatkan pelaku IKM agar tidak terlalu terbebani dengan pertanyaan apakah produk inovasi mereka akan langsung laku di pasaran. Menurutnya, keberanian mencoba menjadi bagian penting dalam proses pengembangan wirausaha baru.

Ia bahkan menyatakan kesiapannya menjadi pembeli pertama produk hasil inovasi para peserta sebagai bentuk dorongan agar mereka berani menghasilkan karya baru.

Samuel juga berencana berkomunikasi dengan Pemerintah Kota Semarang untuk mencari ruang pemasaran bagi produk IKM yang berhasil mengembangkan konsep baru. Salah satu lokasi yang diusulkan adalah kawasan Kota Lama Semarang.

“Kalau mereka bisa menjawab tantangan yang saya sampaikan, saya akan minta tempat di Kota Lama yang siklusnya tinggi untuk memasarkan batik-batik ini yang lebih kekinian,” ujarnya.

Samuel menegaskan, peserta yang tidak masuk dalam seleksi pelatihan lanjutan bukan berarti tidak memiliki kemampuan. Jumlah peserta yang dibatasi sekitar 150 orang lebih berkaitan dengan keterbatasan anggaran dan berbagai pertimbangan teknis.

Sri Suharti, narasumber bimtek Penumbuhan dan Pengembangan Wirausaha Baru Industri Kecil di Kota Semarang’ yang digelar Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Industri Kecil, Menengah, dan Aneka, di Semarang, Sabtu (26/9/2026).

Sementara itu, narasumber dari brand Chelomita Semarang, Sri Suharti yang akrab disapa Cici, mengatakan program penumbuhan wirausaha baru dapat menjadi wadah bagi masyarakat untuk menemukan potensi dan mengembangkan usaha.

“Harapannya orang-orang di Semarang punya wadah untuk menjadi wirausaha dan tidak terbatas pada satu tempat atau satu jenis UMKM. Mereka juga bisa memberikan dampak terhadap perekonomian keluarga, terutama bagi perempuan,” ujar Cici.

Cici mendukung gagasan Samuel mengenai pengembangan motif batik yang terinspirasi dari desain sablon. Menurutnya, pendekatan tersebut dapat menjadi salah satu upaya menarik minat Gen Z dan Gen Alpha terhadap batik.

Ia menilai batik tidak harus selalu digunakan dengan motif penuh. Penggunaan motif pada bagian tertentu, seperti lengan atau saku, dapat menjadi alternatif desain yang lebih sesuai dengan selera anak muda.

Selain itu, Cici berharap program tersebut juga dapat membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas tunarungu untuk terlibat dalam produksi batik. Mereka dapat diarahkan mengerjakan batik tulis, batik cap, maupun kombinasi keduanya.

Pelaku IKM Batik Putri Semarang, Endah Purnasari.

Pelaku IKM Batik Putri Semarang, Endah Purnasari, mengapresiasi pelaksanaan pelatihan tersebut. Menurutnya, keterlibatan pelaku IKM batik memberikan manfaat dalam meningkatkan kemampuan dan pengembangan usaha.

“Saya dari IKM Batik Putri Semarang, Gunungpati. Kami sangat terbantu dengan adanya pelatihan ini,” kata Endah.

Ia berharap pengembangan IKM batik Semarang terus dilakukan agar produknya semakin dikenal luas, termasuk di pasar internasional. Batik Putri Semarang, kata dia, telah memiliki pasar hingga Australia.

“Semoga terutama batik Semarang bisa lebih berkembang, bisa dikenal sampai mancanegara. Batik Putri ini sudah dikenal sampai luar negeri seperti Australia,” ujarnya. ***

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *