SEMARANG, obyektif.tv – Festival kebudayaan Grebeg Subali kembali digelar di Kelurahan Krapyak, Kecamatan Semarang Barat, setelah vakum sejak 2019. Mengusung tema “Ngeling, Ngilo, Nginguk”, festival yang berlangsung 25-27 September 2026 ini mengajak warga mengenang perjalanan sejarah Krapyak, merefleksikan kondisi saat ini, sekaligus menatap masa depan melalui kebudayaan.
Pembukaan Grebeg Subali 2026 berlangsung Jumat (25/9/2026) malam. Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin membuka festival dengan menyalakan lampu teng-teng, lampion kuno berbentuk prisma segi delapan yang menjadi salah satu tradisi khas Semarang.
Penyalaan lampu tersebut menjadi penanda dimulainya rangkaian festival yang melibatkan masyarakat Krapyak.
Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan Kirab Kalangwan Ibu Pertiwi. Para peserta membawa lentera menyusuri jalan-jalan kampung sembari melantunkan tembang Jawa.
Di tengah cahaya temaram lentera, peserta kirab juga mengumandangkan gending Ketawang Ibu Pertiwi karya maestro karawitan Ki Nartosabdo. Gending tersebut dibawakan secara khidmat sebagai ungkapan rasa syukur atas kemakmuran dan keindahan Tanah Air.

Iswar Aminuddin mengapresiasi masyarakat Krapyak yang kembali menggelar kegiatan kebudayaan tersebut. Menurutnya, kebudayaan dapat tumbuh dari kesamaan pemikiran dan keinginan masyarakat untuk bergerak bersama.
“Hari ini saya kira warga Kelurahan Krapyak mengagendakan kegiatan kebudayaan. Saya selalu meyakini bahwa munculnya sebuah kebudayaan itu adalah hasil daripada keinginan sebuah kelompok atau komunitas dalam sebuah gerak langkah pemikiran yang sama, hati yang sama sehingga muncul sebuah kebudayaan,” ujar Iswar.
Ia mengatakan, Grebeg Subali juga mencerminkan semangat warga untuk memperkuat kebersamaan, persahabatan, dan persaudaraan.
“Apa yang dilakukan pada malam ini oleh warga Kelurahan Krapyak di Subali ini adalah wujud daripada keinginan mereka untuk mempersatukan gerak langkah, pikiran, roso dan semua dalam rangka membangun kebersamaan,” katanya.
Menurut Iswar, semangat tersebut penting untuk terus dirawat sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Kota Semarang.
Mengingat Krapyak Lewat Seni
Usai kirab, suasana festival berlanjut dengan penampilan Nugraha Pawestri, sinden sekaligus penyanyi campursari dan lagu pop Jawa. Penampilannya membawa penonton menikmati alunan tembang Jawa.
Salah satu lagu yang dibawakan adalah Kusuma Wijaya, karya Rendra Kemanaea. Lagu tersebut memiliki makna personal bagi keluarga penciptanya karena didedikasikan sebagai kenangan untuk mendiang putri mereka, Soeraya Puja Sihnarukti.

Penampilan seni kemudian dilanjutkan dengan diskusi budaya bertajuk “Dudah Krapyak: Dari Pesisir, Perkampungan hingga Perumnas”. Diskusi dimoderatori Ika Muharini Kusumaningrum dengan menghadirkan Rendra Agusta, Johanes Christiono, dan Sutanto sebagai narasumber.
Forum tersebut menjadi ruang bagi warga, khususnya para sesepuh RW 4, untuk mengingat kembali sejarah dan perkembangan Krapyak dari masa ke masa.
Wartawan senior Johanes Christiono mengatakan, kegiatan seperti Grebeg Subali penting karena tidak banyak kampung yang menggelar kegiatan kebudayaan sekaligus mengangkat sejarah wilayahnya.
“Acara ini bagus, karena tidak setiap kampung atau pemukiman itu mengadakan budaya seperti ini. Jadi ini nguri-uri budaya kesejarahan sejak awal sampai sekarang, bahkan ada yang sampai babat alas di sini,” ujar Johanes.
Dalam diskusi, Johanes mengulas perkembangan Krapyak pada era 1970-an. Ia mengaitkan pertumbuhan kawasan tersebut dengan perkembangan dan pemekaran wilayah Kota Semarang.
Kawasan Krapyak, menurutnya, menjadi salah satu bagian penting dalam perkembangan wilayah barat Kota Semarang, termasuk dengan pembangunan Perumnas Krapyak.

Johanes juga menunjukkan sejumlah arsip lama pemberitaan, termasuk dokumentasi kunjungan Wakil Presiden Adam Malik ke Perumnas Krapyak pada 23 Oktober 1978. Dalam kunjungan tersebut, Adam Malik menandatangani sebuah prasasti.
Perubahan kawasan Krapyak dari masa lalu hingga sekarang turut menjadi bagian dari pembahasan. Johanes menggambarkan perubahan infrastruktur dan bangunan yang terjadi seiring perkembangan kawasan.
“Perkembangan luar biasa. Kalau saya lihat, entah masih ada atau tidak, sepertinya bentuk asli dari bangunan sudah tidak ada. Sudah berubah. Dulu kalau saya ke sini, jalannya sudah tidak sehalus ini, masih brongkal,” katanya.
Ngeling, Ngilo, Nginguk
Ketua RW 4 Kelurahan Krapyak sekaligus panitia pelaksana Grebeg Subali 2026, Tri Subekso, yang juga akrab disapa Mas Bekso, mengatakan tema “Ngeling, Ngilo, Nginguk” sengaja dipilih untuk menggambarkan perjalanan masyarakat Krapyak.
“Ngeling, Ngilo, Nginguk. Dari tiga kata itu kita belajar tentang bagaimana kita mempelajari hal-hal di masa lalu. Kita mencoba tahu sejarah terbentuknya Krapyak, perjalanan Krapyak, kemudian kita ngilo dan kita nginguk, artinya kita coba merefleksikannya untuk masa depan Krapyak,” jelas Mas Bekso.
Bagi warga Krapyak, tema tersebut tidak hanya berkaitan dengan mengenang masa lalu. Lebih jauh, tema itu menjadi ajakan untuk melihat kembali perjalanan kampung, memahami perubahan yang terjadi, kemudian memikirkan bagaimana kebudayaan dapat terus hidup di tengah perkembangan kawasan.
“Bagaimana kebudayaan tetap menjadi napas atau semangat warga Kelurahan Krapyak,” ujarnya.

Rangkaian Grebeg Subali 2026 juga diisi berbagai pertunjukan seni dari komunitas di Kabupaten Kendal dan Kabupaten Semarang.
Pada puncak kegiatan, seluruh RW dan komunitas di Kelurahan Krapyak turut dilibatkan dalam kirab budaya. Masing-masing akan menampilkan identitas dan kekhasan wilayah maupun komunitasnya.
Unsur pewayangan menjadi salah satu bagian yang akan ditampilkan. Hal tersebut berkaitan dengan sejumlah nama jalan di Krapyak yang menggunakan nama tokoh pewayangan, seperti Hanoman, Subali, dan Sugriwo.
Selain kirab dan pertunjukan seni, festival juga menghadirkan workshop wayang suket dan lampu teng-teng.
Kembali Menjadi Agenda Tahunan
Grebeg Subali sebelumnya pernah digelar secara rutin sebelum berhenti pada 2019. Setelah beberapa tahun vakum, masyarakat Krapyak kembali menyelenggarakan festival tersebut pada 2026.
Tri berharap penyelenggaraan tahun ini menjadi awal untuk menghidupkan kembali Grebeg Subali sebagai agenda kebudayaan tahunan.
“Harapannya di tahun depan terlaksana dan itu menjadi rutinitas sebagai bagian dari wajah kebudayaan di Kelurahan Krapyak ini,” katanya.
Ia mengatakan, keberlanjutan festival juga menjadi salah satu gagasan yang muncul dalam diskusi budaya. Menurutnya, masih banyak potensi sejarah dan kebudayaan Krapyak yang dapat dikembangkan dalam penyelenggaraan berikutnya.
“Harapannya tentu saja tidak berhenti di sini. Tadi cukup menarik dari diskusi, kita dapat ide-ide tentang bagaimana nanti Grebeg Subali ini terus berjalan. Masih banyak ide yang bisa digali,” ujar Tri.
Melalui Grebeg Subali 2026, warga Krapyak tidak hanya kembali menggelar festival yang sempat terhenti. Lebih dari itu, “Ngeling, Ngilo, Nginguk” menjadi cara masyarakat untuk merawat ingatan tentang kampung, membaca perubahan yang terjadi, sekaligus menjaga kebudayaan tetap menjadi bagian dari kehidupan warga Krapyak. ***





