Beranda / LIFESTYLE / SENI BUDAYA / Timur Sinar Suprabana: Agus Dhewa Masih Hidup dalam Diri Saya

Timur Sinar Suprabana: Agus Dhewa Masih Hidup dalam Diri Saya

SEMARANG, obyektif.tv – Bagi sastrawan Timur Sinar Suprabana, Agus Dhewa bukan sekadar sahabat yang telah berpulang, melainkan sosok yang masih hidup dalam dirinya. Karena itu, ia merasa tidak perlu mengenang Agus Dhewa sebagaimana mengenang seseorang yang benar-benar telah menjadi bagian dari masa lalu.

Pandangan tersebut disampaikan Timur dalam acara Indonesia dan Agus Dhewa: Doa, Puisi, dan Memori untuk Agus Dhewa yang digelar komunitas seni Dekase di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Kota Semarang, Senin (26/10/2026).

Di hadapan para sahabat dan keluarga almarhum, Timur mengungkapkan bahwa dirinya semula tidak tertarik menghadiri acara tersebut. Bukan karena memiliki agenda lain, melainkan karena ia merasa tidak sepenuhnya memahami proses kepenyairan yang menjadi bagian dari kegiatan semacam itu.

Namun, ketika berbicara tentang Agus Dhewa, Timur justru mengungkapkan pandangan yang mendalam mengenai persahabatan, kehilangan, dan ingatan.

“Bagaimana mungkin saya mengenang Agus Dhewa, kalau dia masih hidup di dalam diri saya?” ungkap Timur.

Baginya, Agus Dhewa, Handry TM, dan Darmanto Jatman merupakan sosok-sosok yang masih menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Kehadiran mereka tidak berhenti ketika kematian memisahkan, tetapi terus berlanjut melalui pengalaman, pemikiran, dan ikatan yang terbentuk selama mereka hidup bersama.

Timur bahkan menyatakan bahwa sosok-sosok tersebut baru benar-benar selesai dalam dirinya ketika dirinya sendiri telah tiada. Pernyataan itu menggambarkan bagaimana persahabatan dapat meninggalkan jejak yang melampaui batas kehidupan.

Selain berbicara tentang kenangan, Timur juga menyoroti hal yang menurutnya lebih penting dari seorang penyair, yakni karya-karyanya. Ia menilai nama dan kisah romantis di balik perjalanan hidup seorang penyair bukanlah hal utama. Yang lebih penting adalah puisi-puisi yang dihasilkan dan bagaimana karya tersebut terus dibaca serta dimaknai.

Dalam kesempatan itu, Timur menceritakan asal-usul nama Agus Dhewa, yang berawal dari proses pencarian nama bersama. Ia juga mengungkapkan bahwa penulisan nama dalam sebuah buku yang mereka miliki selama bertahun-tahun ternyata tidak sesuai dengan penulisan yang semestinya.

Bagi Timur, cerita tersebut merupakan bagian kecil dari perjalanan persahabatan mereka. Nama, menurutnya, tidak lebih penting daripada karya yang ditinggalkan seorang penyair.

Agus Dhewa memiliki nama asli Tri Agus Putranto. Lahir di Blora pada 18 Oktober 1959, ia dikenal sebagai penyair yang juga pernah aktif sebagai jurnalis dan pengurus Dewan Kesenian Semarang. Semasa hidupnya, ia turut menggerakkan kegiatan kesusastraan, salah satunya melalui Sastra Pelataran.

Karya-karya Agus Dhewa tersebar di berbagai media dan antologi. Puisi-puisinya bersama A. Mustofa Bisri, Beno Siang Pamungkas, dan Timur Sinar Suprabana juga dibukukan dalam Ayat Dhewa Pamungkas dari Timur, yang diterbitkan CV Mata Air Indonesia di Rembang pada 2019.

Kenangan tentang Agus Dhewa juga dibagikan oleh para sahabat yang hadir. Pelukis sekaligus mantan jurnalis Item De menceritakan berbagai pengalaman bersama almarhum, baik kenangan menyenangkan maupun pengalaman yang tidak selalu mudah. Saat bercerita, ia sempat meneteskan air mata karena teringat persahabatan mereka.

Bianglala Andriadewi, putri Agus Dhewa.

Sementara itu, Bianglala Andriadewi, putri Agus Dhewa, mengaku bahagia melihat ayahnya masih dikenang oleh para sahabat dan komunitas seni. Baginya, berkumpul bersama orang-orang yang pernah dekat dengan sang ayah menghadirkan perasaan seolah-olah Agus Dhewa masih berada di tengah-tengah mereka.

Ia berharap Dekase terus berkembang dan semakin banyak menghadirkan kegiatan kesenian agar masyarakat Semarang memiliki ruang untuk berkarya dan membangun jejaring.

Acara tersebut menjadi ruang pertemuan antara keluarga, sahabat, dan komunitas sastra untuk merawat ingatan tentang Agus Dhewa. Namun, bagi Timur Sinar Suprabana, hubungan dengan sahabatnya itu tidak semata-mata tentang mengenang masa lalu.

Agus Dhewa tetap hidup dalam dirinya, sementara puisi-puisi yang ditinggalkan terus membuka ruang bagi pembaca untuk mengenal dan memahami sosoknya. ***

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *