KABUPATEN SEMARANG, obyektif.tv – Jejaring Kolektif Semarang Serasi (JKSS) mendorong kolaborasi lintas komunitas untuk memperkuat ekosistem kebudayaan dan mengembangkan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal. Melalui jejaring ini, para penggerak masyarakat diharapkan dapat saling bertukar gagasan, membangun kerja sama, dan menghadirkan kegiatan yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Diskusi dan Silaturahmi Kolektif yang digelar Jejaring Kolektif Semarang Serasi bersama Yayasan Sangkar Wiku Tumuwuh di Srawung Sareng, Banyubiru, Kabupaten Semarang, Kamis (15/10/2026).
Forum ini mempertemukan penggerak komunitas, pelaku budaya, dan pegiat ekonomi kreatif dari berbagai bidang. Sejumlah komunitas yang hadir di antaranya Besalen Gajah Kuning, Bolang Rawa Pening, Omah Cikal, Rumah Pita, Ambarawa.id, Serabi Ngampin, Pasar Wangi, Kedai Nyamin, Swarga Lokal, serta pelaku wisata di Kabupaten Semarang.
Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk saling mengenal, berbagi pengalaman, mengidentifikasi potensi, dan membuka peluang kolaborasi lintas sektor. Para peserta juga membahas pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan kegiatan berbasis kebudayaan, pariwisata, dan pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, yang juga merupakan pembina Yayasan Sangkar Wiku Tumuwuh, menilai inisiatif masyarakat dalam menjaga kebudayaan dan mengembangkan kegiatan kreatif perlu mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah.
Menurut Samuel, persoalan kebudayaan dan seni tidak selalu dipahami secara utuh dalam penyusunan kebijakan. Padahal, kesenian telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk dalam tradisi yang tumbuh dan berkembang di lingkungan desa.
Ia mencontohkan berbagai kegiatan budaya yang diselenggarakan sebagai bentuk ungkapan syukur masyarakat, seperti tradisi merti desa. Kegiatan tersebut tidak selalu berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi memiliki nilai sosial, spiritual, dan kebersamaan yang kuat.
“Jangan sampai kegiatan-kegiatan seperti ini dibiarkan begitu saja. Pemerintah perlu peduli dan membantu masyarakat yang dengan tulus melakukan berbagai hal untuk memberi warna bagi kebudayaan dan pariwisata,” ujar Samuel.
Ia mengapresiasi komunitas yang mampu menghidupkan kegiatan secara mandiri melalui gotong royong dan kontribusi bersama. Namun, menurut dia, idealisme yang menjadi landasan gerakan kebudayaan tetap membutuhkan dukungan biaya agar tradisi dan aktivitas kreatif dapat terus berlangsung.
“Idealisme bukan hanya bisa menghidupi, tetapi sejauh ini memang telah menghidupi masyarakat. Namun, di era sekarang, idealisme juga membutuhkan biaya untuk menghidupkan tradisi,” katanya.
Sebagai anggota Komisi VII DPR RI, Samuel berharap aspirasi para penggerak komunitas dalam forum tersebut dapat menjadi masukan untuk disampaikan kepada mitra pemerintah. Ia menilai dukungan terhadap komunitas perlu diwujudkan melalui perhatian nyata, bukan sebatas kehadiran dalam kegiatan seremonial.

Ketua Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Semarang sekaligus inisiator Jejaring Kolektif Semarang Serasi (JKSS), Dimas Herdy Utomo, menjelaskan bahwa jejaring tersebut dibentuk untuk menghubungkan para penggerak lokal (local hero) yang selama ini aktif mengembangkan potensi masyarakat di wilayahnya masing-masing.
Dimas, yang juga menjabat Ketua Yayasan Sangkar Wiku Tumuwuh, mengatakan forum tersebut diharapkan menjadi ruang bagi komunitas untuk saling mengenal, bertukar gagasan, serta membangun kolaborasi dalam pengembangan kebudayaan, pariwisata, dan ekonomi kreatif.
Menurut Dimas, banyak komunitas memiliki inisiatif dan kepedulian terhadap berbagai bidang tersebut. Namun, gerakan yang berjalan sendiri-sendiri membuat peluang kolaborasi dan penciptaan dampak yang lebih luas belum sepenuhnya terwujud.
“Jejaring Kolektif Semarang Serasi bukan sekadar mewadahi, tetapi juga menghubungkan para penggerak lokal agar saling mengenal dan tumbuh bersama. Dari koneksi itu, kami berharap muncul kolaborasi yang bisa menggerakkan sesuatu di masyarakat,” jelasnya.
Dimas menilai keterlibatan masyarakat perlu diperkuat dalam proses perencanaan pembangunan. Menurut dia, komunitas tidak semestinya hanya ditempatkan sebagai pelaksana program, sementara gagasan dan arah kebijakan sepenuhnya ditentukan oleh pemerintah.
Ia berharap ruang dialog antara pemerintah dan komunitas dapat dibangun lebih terbuka, termasuk dalam proses musyawarah perencanaan pembangunan. Dengan demikian, kebijakan terkait kebudayaan, pariwisata, dan ekonomi kreatif dapat mempertimbangkan kebutuhan serta potensi yang berkembang di tingkat akar rumput.
JKSS juga diarahkan menjadi ruang tumbuh bersama yang mendorong kolaborasi tanpa harus bergantung pada proyek pemerintah atau program anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).
Dimas menekankan bahwa keberhasilan sebuah kegiatan tidak cukup diukur dari penyelenggaraan acara atau kemeriahan festival. Lebih dari itu, kegiatan perlu menghasilkan perubahan perilaku, menggerakkan partisipasi masyarakat, serta menciptakan manfaat berkelanjutan.
Ia berharap jejaring tersebut dapat berkembang melampaui Kabupaten Semarang dan menjangkau wilayah eks-Karesidenan Semarang melalui kolaborasi antarkomunitas yang memiliki kepedulian serupa.

Salah satu penggerak yang hadir dalam forum tersebut adalah Ridwan Maulana Yasifun, praktisi keris dari Besalen Edukasi Gajah Kuning di Desa Slaten, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang. Sanggar yang dikelolanya terbuka bagi masyarakat yang ingin mengenal, mempelajari, dan mendalami tradisi pembuatan keris atau pusaka.
Selain menjalankan aktivitas pembuatan pusaka, Ridwan juga aktif melakukan riset dan kegiatan kebudayaan yang diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat. Ia melihat forum lintas komunitas sebagai kesempatan untuk memperkenalkan aktivitas masing-masing sekaligus membuka peluang kerja sama di masa mendatang.
Menurut Ridwan, dukungan pemerintah idealnya tidak berhenti pada kehadiran dalam acara seremonial. Pemerintah di berbagai tingkatan diharapkan turut terlibat dalam pengembangan gagasan, membangun kolaborasi, serta memberikan dukungan sesuai kebutuhan dan kapasitasnya.
“Harapannya, pemerintah tidak hanya mengakomodasi, tetapi juga turut berperan aktif, mulai dari konsep gagasan hingga dukungan anggaran dan hal-hal lain yang dibutuhkan,” ujarnya.
Semangat serupa disampaikan Dhanti, inisiator Pasar Wangi, sebuah ekosistem pasar berbasis budaya yang mengangkat nilai-nilai pasar tradisional melalui tiga pilar, yakni ramah bumi, lakon lokal, dan hidup selaras.
Dhanti menuturkan, Pasar Wangi lahir dari keprihatinan terhadap kondisi pasar tradisional yang semakin sepi dan kehilangan perannya sebagai ruang pertemuan sekaligus sumber penghidupan masyarakat. Pengalaman keluarganya yang tumbuh dari kehidupan pasar tradisional mendorongnya menghadirkan pendekatan baru agar nilai-nilai tersebut tetap relevan bagi generasi masa kini.
Melalui Pasar Wangi, ia ingin memperkenalkan kembali semangat pasar tradisional kepada generasi muda, termasuk generasi Z, serta keluarga. Upaya tersebut tidak dimaksudkan untuk menciptakan pasar tandingan, melainkan menghadirkan nilai-nilai tradisional dalam format yang lebih dekat dengan kebutuhan dan kebiasaan masyarakat sekarang.

Bagi Dhanti, pertemuan JKSS menjadi kesempatan penting untuk mempertemukan komunitas yang selama ini bergerak di bidang berbeda. Ia berharap ruang tersebut dapat membuka kolaborasi nyata, termasuk dengan pelaku seni rupa, kebudayaan, dan aktivitas kebugaran (wellness).
Kolaborasi lintas bidang itu dapat memperkaya kegiatan komunitas. Misalnya, pelaku seni rupa dapat berkontribusi melalui instalasi dan dekorasi dalam gelaran Pasar Wangi, sementara komunitas lain menghadirkan kegiatan budaya maupun aktivitas kreatif yang saling melengkapi.
Dhanti menegaskan, kemandirian komunitas bukan berarti menutup diri dari dukungan pemerintah. Ia berharap setiap pihak dapat berkolaborasi sesuai kapasitasnya tanpa menjadikan bantuan pemerintah sebagai satu-satunya tumpuan.
Melalui pertemuan tersebut, para penggerak komunitas berharap JKSS berkembang menjadi ruang kolaborasi yang berkelanjutan. Tidak hanya mempertemukan berbagai inisiatif lokal, jejaring ini diharapkan mampu memperkuat peran masyarakat dalam menjaga kebudayaan, mengembangkan ekonomi kreatif, serta menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi lingkungan sekitarnya. ***







