Beranda / EKBIZ / EKRAF / Integrasi Kartun dan Narasi Kreatif untuk Kembangkan Desa Wisata Semarang

Integrasi Kartun dan Narasi Kreatif untuk Kembangkan Desa Wisata Semarang

SEMARANG, obyektif.tv – Pengembangan desa wisata membutuhkan pendekatan kreatif untuk memperkenalkan potensi budaya dan daya tarik lokal kepada masyarakat luas. Kartun, komik, gim, musik, dan narasi budaya dinilai dapat menjadi media alternatif untuk memperkuat identitas destinasi sekaligus membuka peluang ekonomi bagi pelaku ekonomi kreatif.

Gagasan tersebut mengemuka dalam kegiatan Aktivasi Desa Kreatif Melalui Fasilitasi Peningkatan Kapasitas Klinik Kekayaan Intelektual yang digelar di Rumah Pohan, Kota Semarang, Minggu (25/10/2026). Kegiatan ini dihadiri Anggota Komisi VII DPR RI, perwakilan Kementerian Ekonomi Kreatif, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), pelaku ekonomi kreatif, serta para komikus.

Kegiatan tersebut juga menghadirkan kompetisi pembuatan komik strip bertema objek wisata dan desa wisata di Kota Semarang. Melalui kegiatan ini, para komikus didorong untuk menerjemahkan potensi wisata lokal menjadi karya visual yang menarik dan mudah dipahami masyarakat.

Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, mengatakan integrasi antarsubsektor ekonomi kreatif perlu diperkuat agar promosi destinasi wisata tidak hanya mengandalkan pendekatan konvensional. Menurutnya, kartun dan komik dapat menjadi sarana untuk mengangkat cerita di balik suatu destinasi, sedangkan gim dapat dikembangkan sebagai media interaktif untuk memperkenalkan budaya lokal.

Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena didampingi Presiden Persatuan Kartunis Indonesia (Pakarti), Abdullah Ibnu Thalhah, saat memberikan keterangan.

Ia menilai, selama ini pelaku ekonomi kreatif masih cenderung bergerak secara terpisah. Padahal, kolaborasi antarkomunitas dapat menghasilkan inovasi yang memperkuat daya tarik wisata sekaligus membuka peluang pengembangan produk kreatif.

“Seharusnya desa wisata dan objek wisata ini bisa dimunculkan dengan cara yang berbeda. Saya berpikir bisa dimunculkan dengan gaya kartun, komentar-komentar kartun, dan juga gim,” ujarnya.

Samuel juga menekankan pentingnya narasi untuk menjelaskan sejarah, makna, dan pesan di balik atraksi budaya. Menurutnya, pengunjung perlu mendapatkan pemahaman mengenai nilai budaya yang mereka saksikan, bukan sekadar menikmati pertunjukan secara visual.

Ia mencontohkan pertunjukan barongan yang disaksikannya di Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal. Tanpa penjelasan yang memadai, pengunjung dari luar daerah berpotensi tidak memahami latar belakang maupun makna pertunjukan tersebut.

Selain narasi, musik juga dinilai perlu menjadi bagian dari pengembangan destinasi wisata. Pemilihan musik dapat disesuaikan dengan karakter tempat dan pengalaman yang ingin dibangun bagi pengunjung. Musik yang digunakan tidak harus selalu tradisional, tetapi dapat dikembangkan melalui inovasi yang tetap memperhatikan identitas budaya lokal.

Kekayaan Intelektual untuk Melindungi Karya Kreatif

Selain penguatan narasi, perlindungan kekayaan intelektual menjadi bagian penting dalam pengembangan ekonomi kreatif. Samuel menilai, gagasan dan karya yang dihasilkan para kreator perlu dikelola agar memiliki nilai ekonomi sekaligus dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang.

Perlindungan kekayaan intelektual juga diperlukan untuk menjaga identitas dan kepemilikan karya, terutama ketika unsur budaya lokal diadaptasi menjadi produk kreatif dalam berbagai bentuk media.

Dalam kesempatan tersebut, Samuel turut mengusulkan pendirian museum kartun di Semarang. Gagasan ini muncul dari diskusinya dengan sejumlah pelaku kartun yang menyebut Semarang memiliki sejarah penting dalam perkembangan kartun Indonesia.

Ia mengaku telah membicarakan rencana tersebut dengan Wali Kota Semarang. Meski masih menghadapi tantangan terkait penyediaan gedung dan anggaran, Samuel berharap gagasan museum kartun dapat dikembangkan melalui kolaborasi berbagai pihak.

Direktur Pengembangan Fasilitasi Kekayaan Intelektual Kementerian Ekonomi Kreatif, Muhammad Fauzi.

Direktur Pengembangan Fasilitasi Kekayaan Intelektual Kementerian Ekonomi Kreatif, Muhammad Fauzi, menyatakan dukungannya terhadap gagasan tersebut. Menurutnya, museum kartun berpotensi memperkuat identitas Semarang sekaligus menjadi ruang pengembangan industri kreatif.

Fauzi menjelaskan, karya kartun dapat berkembang dari subsektor penerbitan ke berbagai bentuk produk kreatif lainnya, seperti animasi, film, dan gim. Karena itu, para kreator perlu memahami pentingnya perlindungan hak cipta atas karya yang dihasilkan.

Ia mendorong para kartunis untuk mendokumentasikan dan memublikasikan karya mereka secara jelas serta mencatatkan hak cipta melalui Kementerian Hukum sesuai ketentuan yang berlaku.

Sementara itu, Presiden Persatuan Kartunis Indonesia (Pakarti), Abdullah Ibnu Thalhah, mengatakan pengembangan museum kartun tidak harus menunggu tersedianya gedung permanen. Sebagai langkah awal, Pakarti berencana menghadirkan program Museum Kartun Dolan melalui pameran mini, diskusi, lokakarya, dan kegiatan menggambar karikatur di sekolah, pesantren, serta ruang publik.

Program tersebut juga akan memperkenalkan karya kartun Bung Karno dan para maestro kartun Indonesia yang memiliki keterkaitan dengan Semarang. Upaya ini diharapkan dapat memperluas apresiasi masyarakat terhadap kartun sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan subsektor ekonomi kreatif lainnya.

Komik Angkat Potensi Desa Wisata

Kompetisi komik strip dalam kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk penerapan kreativitas untuk memperkenalkan potensi wisata daerah. Salah satu peserta, Ritchey Joelino, memilih kawasan Pecinan sebagai tema komiknya karena kawasan tersebut baru diresmikan sebagai desa wisata.

Salah satu peserta atau komikus asal Semarang, Ritchey Joelino.

Ritchey mengatakan, tantangan utama dalam membuat komik adalah menerjemahkan gagasan awal menjadi komunikasi visual yang mudah dipahami pembaca. Proses tersebut membutuhkan pengembangan karakter, alur cerita, serta pemilihan warna yang sesuai dengan objek yang diangkat.

“Kalau kita mengambil tema Pecinan, pasti identik dengan warna merah,” ujarnya.

Melalui integrasi kartun, komik, dan narasi kreatif, potensi desa wisata diharapkan dapat diperkenalkan melalui pendekatan yang lebih menarik dan relevan bagi masyarakat. Penguatan perlindungan kekayaan intelektual juga diharapkan membuat karya para kreator memiliki nilai tambah dan peluang pengembangan ekonomi yang lebih luas.

Kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan pelaku ekonomi kreatif menjadi salah satu langkah untuk membangun ekosistem yang menghubungkan potensi budaya, pariwisata, dan industri kreatif di Kota Semarang. ***

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *