Beranda / LIFESTYLE / SENI BUDAYA / Gaungkan Pesan Toleransi, Sanggar Greget Hidupkan Legenda Cheng Ho Melalui Pentas Kolosal

Gaungkan Pesan Toleransi, Sanggar Greget Hidupkan Legenda Cheng Ho Melalui Pentas Kolosal

SEMARANG, obyektif.tv – Sanggar Greget Semarang menghidupkan kembali kisah pelayaran Laksamana Cheng Ho melalui pertunjukan kolosal bertajuk The Legend of Cheng Ho: Ming Dynasty Expeditions in Central Java di pelataran Klenteng Sam Poo Kong, Sabtu (20/6/2026) malam. Melibatkan ratusan penari, pementasan tersebut menjadi media untuk menyampaikan pesan toleransi, persahabatan, dan harmoni dalam keberagaman.

Pertunjukan yang menjadi puncak rangkaian Greget Festival Tari (G-Festar) #67 itu mengangkat sejarah kedatangan armada Dinasti Ming ke Jawa pada abad ke-15. Melalui perpaduan tari, teater, dan musik, penonton diajak menelusuri perjalanan Cheng Ho yang dikenal membawa misi damai serta mempererat hubungan antarmasyarakat dari berbagai latar belakang budaya.

Pementasan diawali dengan visualisasi perjalanan laut armada Cheng Ho. Puluhan penari anak dan remaja menampilkan gerak yang menggambarkan ombak, bintang laut, kuda laut, hingga kawanan kepiting dan udang. Adegan tersebut merepresentasikan laut sebagai ruang perjumpaan berbagai bangsa dan budaya.

Sutradara sekaligus pemeran Cheng Ho, Canadian Mahendra, mengatakan pertunjukan ini sengaja menonjolkan nilai-nilai persahabatan yang dibawa sang laksamana selama pelayarannya.

“Cheng Ho datang membawa persahabatan, perdagangan, dan pertukaran budaya. Nilai-nilai itu yang ingin kami sampaikan melalui seni,” ujarnya.

Dalam alur cerita, Cheng Ho digambarkan menjalin interaksi dengan masyarakat Jawa, Arab, India, dan Tionghoa. Narasi yang dibangun menekankan pentingnya dialog, kerja sama, dan saling menghormati di tengah perbedaan.

Pesan toleransi juga tercermin dalam koreografi karya Sangghita Anjali, S.Sn. melalui penggunaan kipas sebagai simbol. Kipas yang tertutup melambangkan persatuan dan kekuatan, sedangkan kipas yang terbuka menggambarkan keterbukaan, gotong royong, dan kolaborasi.

Nuansa akulturasi budaya semakin terasa melalui komposisi musik garapan Nur Pamurbo Setyoko, S.Sn. yang memadukan gamelan Jawa dengan instrumen bernuansa Tionghoa. Perpaduan tersebut menghadirkan harmoni yang memperkuat pesan keberagaman yang diusung sepanjang pertunjukan.

Penasihat karya, Yoyok Bambang Priyambodo, menilai seni pertunjukan dapat menjadi sarana efektif untuk mengenalkan sejarah sekaligus menanamkan nilai-nilai toleransi kepada generasi muda.

“Anak-anak tidak hanya belajar menari, tetapi juga memahami pentingnya hidup berdampingan dalam masyarakat yang majemuk,” katanya.

Keterlibatan puluhan penari muda menjadi salah satu daya tarik utama pementasan. Mereka memerankan berbagai karakter dan elemen cerita yang menggambarkan perjumpaan budaya di pesisir Jawa pada masa lalu.

Pertunjukan yang dimulai pukul 19.00 WIB itu menarik ratusan warga dan wisatawan. Di penghujung acara, seluruh pemain tampil dalam formasi besar yang melambangkan persatuan dalam keberagaman, disambut tepuk tangan panjang dari para penonton.

Sebagai lokasi yang diyakini pernah menjadi tempat persinggahan Cheng Ho, Sam Poo Kong memberikan latar historis yang kuat bagi pementasan tersebut. Melalui karya ini, Sanggar Greget Semarang tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga mengajak masyarakat merefleksikan kembali pentingnya toleransi, dialog, dan persaudaraan sebagai fondasi kehidupan bersama di tengah keberagaman. ***

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *