KABUPATEN SEMARANG, obyektif.tv – Permintaan kakao di pasar global yang terus meningkat menjadi peluang besar bagi Indonesia. Namun, momentum tersebut belum sepenuhnya mampu dimanfaatkan secara optimal, seiring masih rendahnya produktivitas kakao nasional.
Hal ini mengemuka dalam gelaran Indokakao 2026 yang menekankan pentingnya percepatan transformasi sektor kakao agar mampu menjawab tantangan global.
Direktur Pusat Sains Lanskap Berkelanjutan (PSLB) Instiper, Agus Setyarso, mengungkapkan bahwa produktivitas kakao Indonesia saat ini masih berada di kisaran 0,5–0,8 ton per hektare, jauh di bawah potensi optimal yang bisa mencapai lebih dari 1,5 ton per hektare.
“Produktivitas di tingkat petani masih stagnan dan belum mampu memenuhi kebutuhan pasar yang terus tumbuh,” ujarnya, Rabu (15/4/2026).
Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya kesenjangan antara suplai dan permintaan. Di satu sisi pasar kakao global terus berkembang, namun di sisi lain produksi dan kualitas kakao nasional belum mampu mengimbanginya.
Agus menjelaskan, lebih dari 90 persen produksi kakao Indonesia berasal dari petani kecil. Mereka masih menghadapi berbagai tantangan, seperti penuaan tanaman, serangan hama dan penyakit, serta keterbatasan akses terhadap pembiayaan dan teknologi.
Menurutnya, tanpa langkah transformasi yang cepat dan terukur, Indonesia berpotensi tertinggal dalam persaingan rantai pasok kakao global.
Sebagai respons atas kondisi tersebut, PSLB Instiper bersama CIRAD menginisiasi program INDOKAKAO, sebuah kerja sama strategis Indonesia–Prancis yang diluncurkan sejak September 2025.
Program ini dirancang untuk mendorong transformasi sektor kakao melalui pendekatan berbasis riset, implementasi lapangan, serta penguatan pembiayaan dan pemberdayaan petani. Dukungan juga datang dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM) yang berperan dalam memperluas akses pembiayaan bagi petani.
Selain aspek teknis, Agus juga menyoroti pentingnya perubahan pendekatan kebijakan yang lebih terintegrasi. Ia menilai pengelolaan komoditas tidak bisa dilakukan secara parsial karena berkaitan erat dengan aspek lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
Ia juga mengingatkan dampak dari tata kelola lahan yang kurang optimal, termasuk deforestasi yang berkontribusi terhadap bencana seperti banjir di sejumlah wilayah. Oleh karena itu, pendekatan agroforestri dinilai menjadi solusi strategis untuk mewujudkan sistem pertanian berkelanjutan.
Sementara itu, Regional Director CIRAD untuk Asia Tenggara, Jean-Marc Roda, menyebutkan bahwa kualitas kakao Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara Afrika Barat, meskipun Indonesia masuk dalam lima besar produsen dunia.
“Kualitas menjadi faktor penting yang memengaruhi harga jual kakao Indonesia di pasar global,” ujarnya.
Melalui program Indokakao, peningkatan kualitas menjadi salah satu fokus utama agar kakao Indonesia memiliki nilai tambah dan daya saing yang lebih tinggi di pasar internasional.
Senada, peneliti CIRAD, Christian Cilas, menambahkan bahwa keberagaman kondisi geografis Indonesia merupakan potensi yang dapat dioptimalkan. Dengan pendekatan berbasis riset, pengembangan kakao dapat disesuaikan dengan karakteristik masing-masing wilayah.
“Setiap daerah memiliki kondisi tanah dan iklim yang berbeda, sehingga pengembangan kakao perlu disesuaikan agar hasilnya optimal,” ujarnya.
Melalui Indokakao 2026, transformasi sektor kakao diharapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga kualitas dan kesejahteraan petani, sehingga Indonesia mampu bersaing di pasar kakao global secara berkelanjutan. ***










2 Komentar
Terima kasih atas informasinya
Terima kasih atas informasinya ya obyektif