Beranda / LIFESTYLE / SENI BUDAYA / Pameran “Jas Merah” Hartono Warnai Bulan Bung Karno di TBRS

Pameran “Jas Merah” Hartono Warnai Bulan Bung Karno di TBRS

SEMARANG, obyektif.tv – Peringatan Bulan Bung Karno 2026 yang dikemas dalam kegiatan DJAREK (Sepekan Bung Karno Dalam Gerak Rupa Suara Sastra) berlangsung meriah di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Semarang, Sabtu (20/6/2026). Salah satu agenda utama kegiatan tersebut adalah pameran lukisan tunggal pelukis Hartono bertajuk Jas Merah.

Pameran yang menampilkan 18 karya lukis itu mendapat perhatian kalangan seniman, budayawan, akademisi, dan masyarakat umum. Hadir dalam pembukaan pameran antara lain Guru Besar Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, Dhanang Respati Puguh, yang mengikuti rangkaian acara hingga selesai.

Selain menikmati karya-karya lukis Hartono, pengunjung juga disuguhi berbagai pertunjukan seni, mulai dari pembacaan puisi oleh Enifa, penampilan musik Yuli BDN, performance art oleh KGB, hingga penampilan suluk oleh Sindhunata.

Hartono mengatakan pameran tersebut berangkat dari kegelisahannya melihat minimnya aktivitas pameran di kawasan Taman Budaya Raden Saleh. Melalui tema Jas Merah atau “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”, ia ingin mengingatkan kembali pentingnya sejarah, baik sejarah bangsa maupun sejarah keberadaan TBRS sebagai ruang kebudayaan.

“Pameran ini berawal dari diskusi kecil bersama teman-teman. Kami melihat Taman Budaya Raden Saleh sudah lama tidak digunakan untuk pameran. Karena itu saya mengajak teman-teman untuk memulai kembali. Jangan sampai kita melupakan sejarah, baik sejarah berdirinya taman budaya ini maupun sejarah yang ada di dalamnya,” ujarnya.

Menurut Hartono, pameran ini juga diharapkan menjadi pemantik bagi seniman lain untuk berani menggelar pameran tunggal. Ia menilai semangat gotong royong antar-seniman penting untuk mendukung lahirnya karya-karya baru.

“Kami berharap ke depan akan muncul seniman-seniman berikutnya yang berani berpameran. Teman-teman akan kami bantu dan dampingi agar memiliki keberanian mewujudkan cita-cita mereka,” katanya.

Hartono menjelaskan, 18 karya yang dipamerkan memiliki ukuran beragam dan disesuaikan dengan harmoni ruang pamer. Ia menegaskan tidak ada satu karya yang dianggap paling menonjol karena setiap lukisan lahir dari latar belakang gagasan yang berbeda.

Lebih jauh, ia berharap TBRS dapat kembali menjadi ruang silaturahmi, diskusi, dan pameran bagi para pelaku seni. Menurutnya, sebuah pameran akan lebih bermakna apabila membawa isu atau gagasan yang dapat memantik refleksi dan dialog publik.

Ia juga menyoroti generasi muda yang kini sangat cepat mengakses informasi melalui teknologi. Menurutnya, perkembangan tersebut perlu diimbangi dengan pemahaman terhadap nilai-nilai tradisi agar mampu melahirkan karya-karya kreatif yang relevan dengan perkembangan zaman.

Sementara itu, Dhanang Respati Puguh menilai pameran Jas Merah memiliki pesan kebangsaan yang kuat. Menurutnya, karya-karya Hartono mengajak masyarakat untuk kembali merenungkan pemikiran dan gagasan besar Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno.

“Melalui tajuk Jas Merah, kita diajak untuk tidak meninggalkan sejarah. Pameran ini mengingatkan kembali bagaimana bangsa ini didirikan serta relevansi pemikiran Bung Karno dalam menghadapi berbagai persoalan kebangsaan saat ini, baik politik, ekonomi, maupun sosial,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa karya seni tidak hanya berfungsi sebagai media ekspresi, tetapi juga dapat menjadi sarana pembelajaran sejarah dan refleksi sosial. Karena itu, ia berharap semakin banyak seniman yang menyuarakan kegelisahan dan persoalan bangsa melalui karya-karya mereka.

Menurut Dhanang, Indonesia sebenarnya telah memiliki ruang dan infrastruktur kebudayaan yang cukup sejak awal kemerdekaan, termasuk melalui berbagai lembaga pendidikan seni. Namun, gaung pembangunan kebudayaan saat ini dinilai belum sekuat pada masa Presiden Soekarno yang menjadikan seni dan kebudayaan sebagai bagian penting dalam pembangunan karakter bangsa.

Dhanang juga mengapresiasi upaya Hartono memperkenalkan kembali sosok Bung Karno kepada generasi muda. Ia menyebut masih banyak anak muda yang belum mengenal tokoh proklamator dan presiden pertama Indonesia tersebut.

“Melalui pameran ini, masyarakat diajak kembali mengenal tokoh besar bangsa sekaligus memahami nilai-nilai perjuangan yang diwariskannya,” katanya.

Pameran Jas Merah berlangsung mulai 20 hingga 30 Juni 2026 dan diharapkan menjadi ruang berkumpul, bersilaturahmi, serta memperkuat ekosistem seni dan budaya di Kota Semarang. ***

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *