SEMARANG, obyektif.tv — Gelar budaya Senandika Asmaraloka yang digelar di Oudetrap Teater, Kota Lama Semarang, Sabtu (13/6/2026), mengajak masyarakat memaknai cinta melalui medium budaya, khususnya wayang dan batik. Kegiatan yang memadukan kirab budaya, pertunjukan seni, dan diskusi tersebut menjadi ruang refleksi tentang cinta sebagai energi yang merawat kehidupan.
Meski sempat diguyur rintik hujan, rangkaian acara berlangsung lancar dan mendapat perhatian masyarakat maupun wisatawan yang berada di kawasan Kota Lama. Acara diawali dengan kirab peserta yang mengelilingi area Oudetrap hingga Taman Srigunting sebelum kembali ke Open Theater Oudetrap. Sejumlah wisatawan tampak mengabadikan momen tersebut, bahkan ada yang meminta berfoto bersama Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang.
Setelah kirab, acara dibuka dengan penampilan musik etnik eksperimental dari Tridatu feat Komunitas Karangjati Ngawiji dan dilanjutkan pertunjukan tari dari Sanggar Kenes Art.
Kurator Gelar Budaya Senandika Asmaraloka, Artha Puspita, mengatakan tema cinta dipilih karena memiliki makna yang lebih luas dibanding sekadar hubungan romantis antara laki-laki dan perempuan.
“Senandika adalah ruang refleksi untuk diri sendiri, sedangkan Asmaraloka berarti dunia kasih sayang. Kami ingin mengajak masyarakat memahami bahwa cinta tidak hanya berkaitan dengan hubungan pria dan wanita. Karena itu kami menghadirkan simbol-simbol kasih sayang melalui jarik gendong dan batik Truntum,” ujarnya.
Menurut Artha, batik Truntum melambangkan kasih sayang yang terus tumbuh, sementara jarik gendong menjadi simbol cinta seorang ibu kepada anaknya. Melalui simbol-simbol budaya tersebut, masyarakat diajak melihat bahwa cinta hadir dalam berbagai aspek kehidupan.
Ia menjelaskan, tema psikologi sastra pewayangan yang diangkat dalam kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk memahami karakter manusia secara lebih mendalam.
“Kami membedah karakter-karakter tersembunyi dalam tokoh pewayangan. Manusia tidak hanya hitam atau putih, tetapi memiliki banyak sisi. Melalui wayang, kami ingin mengajak masyarakat memahami kehidupan dari berbagai sudut pandang,” katanya.
Artha menambahkan, cinta merupakan energi utama yang menjaga keberlangsungan kehidupan.
“Tanpa cinta, kehidupan akan berhenti. Kita merawat keluarga, bekerja, menjaga lingkungan, bahkan melakukan hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari karena cinta. Bagi saya, cinta adalah inti dari kehidupan itu sendiri,” tuturnya.
Selain mengangkat nilai-nilai budaya, kegiatan ini juga diharapkan mampu mendekatkan generasi muda dengan warisan budaya Nusantara.
“Kami ingin menunjukkan bahwa wayang, jarik, dan budaya tradisional tidak selalu kuno. Dengan kemasan yang lebih modern dan dekat dengan anak muda, budaya bisa menjadi sesuatu yang menarik dan relevan,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, mengapresiasi pemanfaatan ruang publik sebagai wadah kreativitas generasi muda.
“Ini merupakan ruang kreasi yang dimanfaatkan anak-anak muda dengan sangat baik. Kami juga melihat pemanfaatan Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan yang diharapkan dapat menambah wawasan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Indriyasari, Pemerintah Kota Semarang berkomitmen mendukung komunitas seni dan budaya yang ingin memanfaatkan ruang-ruang publik untuk menampilkan karya mereka.
“Kami melihat banyak komunitas dan sanggar membutuhkan ruang untuk berekspresi. Ke depan, kami berencana menghimpun mereka dan menyediakan wadah agar karya-karya tersebut dapat ditampilkan secara bergilir,” katanya.
Setelah sesi sambutan, acara dilanjutkan dengan diskusi bertema psikologi sastra pewayangan yang berlangsung sekitar satu jam. Peserta tampak antusias mengikuti jalannya diskusi dan sesi tanya jawab. Sejumlah pengunjung yang melintas di kawasan Kota Lama bahkan turut berhenti untuk menyaksikan kegiatan tersebut.
Rangkaian acara kemudian ditutup dengan penampilan tari dari Sanggar Kenes Art yang kembali memeriahkan suasana malam di Oudetrap Teater. ***




