Beranda / LIFESTYLE / SENI BUDAYA / Upaya Penyelamatan ‘Jimat’ Peradaban Islam Nusantara

Upaya Penyelamatan ‘Jimat’ Peradaban Islam Nusantara

KENDAL, obyektif.tv – Kaliwungu kembali mengukuhkan posisinya sebagai episentrum jembatan emas intelektual Islam Nusantara. Kecamatan yang masyhur dijuluki Kota Santri di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah ini, diyakini masih mendekap erat ratusan manuskrip kuno peninggalan para ulama dan pesantren masa lampau yang hingga kini belum sepenuhnya terdata.

Kesadaran kolektif untuk menyelamatkan rekam jejak literasi yang mulai rapuh dimakan usia tersebut mengemuka dalam forum Silaturahmi Nasional (Silatnas) Pelestari Manuskrip Islam Nusantara. Perhelatan perdana ini digelar di Pondok Pesantren Putri ARIS Kaliwungu pada Sabtu (23/5/2026), mempertemukan simpul ulama, santri, akademisi, pegiat filologi, hingga komunitas literasi dari berbagai penjuru Indonesia.

Agenda strategis ini lahir dari kolaborasi lintas sektoral, yang diinisiasi oleh Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (LTN-NU MWC NU) Kaliwungu bersama Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kabupaten Kendal; Lesbumi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kendal; Kendal Heritage; Madrasah Budaya Pungkuran; Komunitas Pecinta Kitab Kuning, Manuskrip, dan Sejarah (Kopiku Manis); serta Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK).

Sesi I: Ironi Budaya Lisan

Diskusi yang terbagi dalam dua sesi ini dibuka oleh Presiden PSK Bahrul Ulum A Malik, selaku moderator sesi pertama. Hadir sebagai pembicara utama, Rois Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Ubaidillah Shodaqoh. Karib disapa Mbah Ubed, ia menegaskan dengan metafora yang kuat bahwa manuskrip kuno sejatinya adalah “jimat” peradaban. Sebuah warisan keluhuran ilmu yang hari ini posisinya kian rentan senyap dan lenyap.

“Tradisi masyarakat Indonesia sejak lampau lebih karib dengan budaya lisan ketimbang menulis. Konsekuensinya, lembaran manuskrip kuno yang berhasil bertahan hingga hari ini jumlahnya amat terbatas,” ujar Mbah Ubed.

Mbah Ubed menyoroti dinamika psikologis di lapangan: banyak ahli waris kiai atau pesantren yang memilih menyimpan rapat-rapat naskah kuno tersebut karena kecemasan berlebih akan risiko rusak atau hilang. Padahal, naskah-naskah tersebut bukan sekadar urusan domestik pusaka keluarga, melainkan sumur ilmu pengetahuan bagi peradaban luas.

“Manuskrip atau naskah kuno memang hak pemilik atau pewaris, tapi ilmunya adalah hak setiap orang,” tegasnya. Oleh sebab itu, digitalisasi menjadi jalan tengah yang mutlak demi mengabadikan teks tanpa mencederai hak privasi kepemilikan.

Sejumlah pegiat manuskrip Islam Nusantara berdiskusi di Pondok Pesantren Putri ARIS, Kaliwungu, Kendal, guna mendorong pelestarian dan digitalisasi naskah kuno.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinarpus Kabupaten Kendal Wahyu Yusuf Akhmadi, memetakan bahwa lanskap pesantren tua di Kaliwungu menjadikannya lumbung naskah kuno yang sangat krusial.

Namun, potret riil data hari ini menunjukkan ironi: baru 22 manuskrip kuno yang berhasil diidentifikasi di Kabupaten Kendal.

Angka tersebut diperkirakan baru menyentuh 20 persen dari totalitas naskah yang sebenarnya masih tersembunyi di ceruk-ceruk masyarakat.

Wahyu menjamin bahwa proses identifikasi dan digitalisasi dari pemerintah sama sekali tidak bertujuan untuk mengambil alih kepemilikan.

“Kepemilikan naskah kuno tetap pada yang memiliki. Dinarpus hanya membantu mendaftarkan saja agar lestari dan tidak hilang ditelan waktu,” cetusnya.

Langkah preventif ini mendesak, mengingat manuskrip sangat rentan rusak oleh faktor usia, cuaca ekstrem, ancaman pencurian, hingga bencana fatal seperti kebakaran dan banjir.

Melengkapi sesi pertama, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ishlah Tembalang-Semarang KH Budi Harjono, menguraikan dimensi filosofis naskah Nusantara. Ia menganalogikan kidung “Lir Ilir” gubahan Sunan Kalijaga sebagai simbol nyata bagaimana genius lokal (local genius) mampu membumikan keluhuran budaya melalui bahasa yang adaptif.

Menurut Kiai Budi, karakteristik utama manuskrip Nusantara terletak pada sifatnya yang adaptif terhadap tradisi lokal, kaya akan multi-disiplin ilmu, serta menggunakan bahasa yang dekat dengan denyut nadi masyarakat.

Dia berharap, gerakan senyap para ‘genius lokal’ baru akan terus lahir demi memburu dan menyelamatkan naskah-naskah yang terancam musnah tersebut.

Sesi II: Resolusi Jihad Digital

Memasuki paruh kedua yang dipandu oleh Ketua LTN-NU MWC NU Kaliwungu Ibnu Fikri, atmosfer diskusi menukik pada gagasan-gagasan solutif-praktis.

Narasumber pertama, KH Utsman Hasan Al-Akhyari (Lora Utsman Hasan), membagikan pengalaman sekaligus strategi lapangan Nahdlatut Turats—asosiasi pegiat naskah dan warisan keilmuan Islam Nusantara. Cicit dari ulama legendaris Syaikhona Kholil Bangkalan ini menjabarkan empat pilar tantangan: menjaga, mendigitalisasi, meneliti (tahqiq), dan melestarikan karya ulama Nusantara.

Untuk memecah kebuntuan, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Akhyar Tambakagung-Bangkalan ini melemparkan sebuah manifesto penting: perlu dibangun gerakan dan dukungan terintegrasi dari pihak terkait, terutama kalangan pesantren yang menjadi basis utama penyimpanan kitab kuno para leluhur.

“Kami mengusulkan dan mendorong percepatan pendirian Perpustakaan Nahdlatul Ulama (PerpusNU) di tiap pesantren sebagai wadah dokumentasi resmi,” urai Lora Utsman.

Gagasan ini langsung disambut konkret oleh Hamzah Sahal, Direktur Utama NU Online.

“Kerja-kerja sunyi penyelamatan manuskrip harus diangkat ke permukaan melalui amplifikasi media massa agar generasi kiwari dan masa depan tahu serta mau mempelajari pemikiran moyang mereka,” ungkapnya.

Peserta Silaturahmi Nasional Pelestari Manuskrip Islam Nusantara berfoto bersama usai kegiatan di Pondok Pesantren Putri ARIS, Kaliwungu, Kendal. Forum ini memperkuat kolaborasi pelestarian dan digitalisasi manuskrip warisan ulama Nusantara.

Sebagai langkah taktis awal, Hamzah menegaskan komitmennya untuk menyediakan ruang khusus berupa sub-domain “manuskrip Islam Nusantara” di laman NU Online.

Menutup rangkaian Silatnas tersebut, Ginanjar Syakban, filolog sekaligus pengajar di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unisia) Jakarta, menyuntikkan perspektif modernisasi. Ia membenarkan bahwa digitalisasi memangkas banyak kendala teknis pelestarian.

Lebih jauh, Ginanjar menyatakan bahwa akselerasi pendirian PerpusNU kini mendapatkan momentum yang tepat berkat lompatan teknologi.

“Kehadiran Kecerdasan Buatan (AI) tidak lagi bisa dinafikan, melainkan harus diadopsi untuk mempermudah proses transliterasi teks-teks Arab gundul/pegon serta mempercepat riset mendalam terhadap kitab-kitab kuno tersebut,” tandasnya.

Ketika matahari mulai condong ke barat di ufuk Kaliwungu, forum akbar ini resmi diakhiri.

Kendati diskusi teknis telah usai, para pelestari manuskrip yang hadir membawa pulang secercah harapan besar: agar warisan intelektual agung milik ulama Nusantara yang kini masih berdebu di lemari-lemari tua pesantren maupun rumah penduduk, dapat segera terselamatkan, tetap terjaga, dan abadi menjadi obor penerang bagi generasi yang akan datang. ***

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *