JAKARTA, obyektif.tv – Di balik perjalanan panjang ribuan pemudik yang pulang kampung melalui program Mudik Gratis Pemerintah Provinsi Jawa Tengah 2026, ada para sopir bus yang menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Dari balik kemudi, mereka tak sekadar mengantarkan penumpang, tetapi juga membawa rindu para perantau yang ingin berkumpul kembali dengan keluarga di kampung halaman.
Suasana di area parkir Museum Purna Bhakti Pertiwi, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, pada Minggu sore (15/3/2026), tampak lebih sibuk dari biasanya. Ratusan bus berjajar rapi, sementara para kru dan sopir hilir mudik memeriksa kendaraan yang akan membawa pemudik menuju berbagai daerah di Jawa Tengah.
Salah satu sopir bus yang terlibat dalam program tersebut adalah Sugio, warga Sukoharjo. Ia terlihat teliti memeriksa armada yang akan dikemudikannya sebelum berangkat menuju Karanganyar.
Sugio memastikan seluruh komponen kendaraan dalam kondisi prima sebelum menempuh perjalanan jauh. Menurutnya, setiap armada telah melalui serangkaian pemeriksaan untuk memastikan keselamatan perjalanan para pemudik.
“Unit sudah dicek semua, mulai dari mesin, kaki-kaki sampai ramp check juga sudah. Kru juga sudah cek kesehatan. Kalau unitnya sudah di jalan berarti siap,” ujar Sugio.
Dalam satu bus, terdapat dua kru yang akan bergantian mengemudi selama perjalanan. Sistem tersebut diterapkan untuk menjaga keselamatan serta kondisi fisik pengemudi selama menempuh perjalanan panjang. Menjelang keberangkatan, Sugio memilih fokus menjaga stamina.
“Persiapannya paling istirahat yang cukup supaya besok bisa mengemudi dengan prima,” katanya.
Bagi Sugio, program mudik gratis tidak hanya membantu masyarakat yang ingin pulang kampung tanpa harus memikirkan biaya transportasi, tetapi juga memberi manfaat bagi para sopir dan perusahaan otobus. Ia mengatakan, selama bulan Ramadan biasanya perjalanan wisata atau trip reguler cenderung berkurang.
“Kalau Ramadan biasanya sepi trip. Jadi kegiatan seperti ini bisa membantu juga,” ujarnya.
Cerita serupa disampaikan sopir lainnya, Ginanjar Aji (36), asal Cilacap. Ia mengaku hampir setiap tahun terlibat dalam program pengangkutan pemudik seperti ini. Sebelum keberangkatan, ia juga memastikan seluruh komponen kendaraan dalam kondisi baik.
“Armada dicek semua, mulai kampas rem, oli, dan lain-lain. Driver juga sudah cek kesehatan dan tes narkoba, jadi semuanya siap,” kata Ginanjar.
Bagi Ginanjar, ada kebanggaan tersendiri bisa menjadi bagian dari perjalanan ribuan orang yang ingin pulang ke kampung halaman.
“Senang bisa ikut membantu masyarakat mudik. Rasanya senang juga melihat mereka bisa pulang ke kampung halaman,” tuturnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah, Risturino, mengatakan program Mudik Lebaran Gratis merupakan bentuk kepedulian Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Paguyuban Jawa Tengah dan sejumlah mitra dalam membantu masyarakat yang ingin pulang kampung.
Pada 2026, program tersebut menggunakan dua moda transportasi darat, yakni bus dan kereta api. Untuk moda bus, Pemprov Jawa Tengah menyiapkan 325 unit dengan kapasitas 16.186 penumpang yang akan diberangkatkan menuju 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Selain itu, terdapat pula 23 bus yang diberangkatkan dari Lanud Sastranegara, Bandung.
Para pemudik dijadwalkan berangkat pada Senin (16/3/2026) dari area parkir Museum Purna Bhakti Pertiwi TMII dan Masjid At-Tin, Jakarta Timur. Pelepasan ribuan pemudik tersebut rencananya akan dilakukan langsung oleh Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi.
Bagi para sopir seperti Sugio dan Ginanjar, perjalanan itu bukan sekadar tugas mengemudi. Dari balik kemudi bus, mereka ikut menjadi pengantar rindu para pemudik yang ingin kembali merasakan hangatnya kampung halaman saat Lebaran tiba. ***










