SEMARANG, obyektif.tv – Kebersamaan dan solidaritas mewarnai gelaran charity musik dan doa bersama untuk mengenang almarhum Reza Wahyu Adi yang berlangsung di Burjo Edenia Manyaran, Semarang, Minggu (31/5/2026) malam. Kegiatan yang diinisiasi sejumlah komunitas musik ini menjadi ruang bagi para musisi untuk berkumpul, berbagi kepedulian, sekaligus mendoakan rekan mereka yang telah berpulang.
Puluhan musisi dari berbagai komunitas hadir secara sukarela sebagai bentuk penghormatan kepada almarhum Reza, yang dikenal aktif di dunia musik Semarang. Selain menjadi ajang penggalangan kepedulian, acara tersebut juga mempererat hubungan antar-musisi lintas genre.
Rangkaian acara dibuka oleh penampilan RIZZ UP, grup band yang beranggotakan anak-anak usia sekolah dasar. Meski masih belia, mereka tampil penuh energi dan berhasil menghidupkan suasana sejak awal acara. Penampilan mereka mendapat sambutan hangat dari para penonton yang memadati lokasi.
Suasana kemudian berubah khidmat saat seluruh peserta mengikuti doa bersama yang dipimpin Ustaz Nazaruddin. Doa dipanjatkan untuk almarhum Reza Wahyu Adi, drummer yang semasa hidup dikenal aktif di Komunitas Lumpia Musik serta pernah bergabung dengan Band Final dan Moses.
Setelah doa bersama, suasana kembali hangat melalui penampilan 3ALS Band. Musisi reggae Lookman Jawaica turut hadir dan berkolaborasi membawakan lagu Ayo Guyu. Lagu tersebut sukses mengajak penonton bernyanyi bersama, menciptakan suasana akrab yang mencerminkan semangat persaudaraan di kalangan musisi Semarang.
Lookman Jawaica mengapresiasi seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Terima kasih atas dukungan teman-teman musisi Semarang yang sudah meluangkan waktu hadir dalam acara charity untuk almarhum Reza. Semoga apa yang sudah disumbangkan hari ini menjadi kebaikan bagi keluarga almarhum dan juga bagi kita semua. Semoga kita tetap saling mendukung satu sama lain,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut berjalan sukses karena mampu mempertemukan berbagai komunitas musik dalam suasana yang penuh kekeluargaan dan kebersamaan.
Acara kemudian ditutup oleh Indonesia Rock yang membawakan sejumlah lagu rock lawas. Penonton tampak menikmati setiap penampilan dan ikut bernyanyi bersama hingga penghujung acara.
Sementara itu, panitia penyelenggara dari A-Mayor Production, Kaka A-Mayor, mengatakan kegiatan tersebut digelar sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama musisi sekaligus untuk memperkuat persaudaraan di lingkungan musik Semarang.
“Tujuan acara ini untuk mempererat persaudaraan musisi dan menunjukkan bahwa kita peduli kepada teman yang sudah lebih dulu meninggalkan kita,” katanya.
Ia berharap semangat kebersamaan yang terbangun dalam acara tersebut dapat terus terjaga dan menjadi budaya positif di kalangan musisi Semarang.
“Saya ingin musisi Semarang benar-benar guyub. Tidak ada lagi sekat berdasarkan genre atau komunitas. Mau rock, punk, reggae, atau yang lainnya, semuanya bisa bersatu dalam satu keluarga besar musik Semarang,” tuturnya.
Menurut Kaka A-Mayor, kegiatan serupa tidak menutup kemungkinan akan kembali digelar pada masa mendatang dengan dukungan berbagai pihak. Ia juga menegaskan bahwa seluruh musisi yang tampil berpartisipasi secara sukarela tanpa menerima honorarium.
“Semua tampil secara gratis. Ini murni karena rasa kemanusiaan, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama musisi,” pungkasnya.
Kegiatan charity tersebut tidak hanya menjadi ajang mengenang sosok almarhum Reza Wahyu Adi, tetapi juga menunjukkan kuatnya ikatan solidaritas di kalangan musisi Semarang. Melalui musik, doa, dan kebersamaan, para peserta berharap semangat persaudaraan yang terbangun dalam acara itu dapat terus terjaga serta menjadi pengingat bahwa komunitas musik tidak hanya dipersatukan oleh karya, tetapi juga oleh kepedulian dan rasa kemanusiaan. ***






