SEMARANG, obyektif.tv – Musik dinilai sebagai salah satu instrumen penting dalam mendorong kemajuan Kota Semarang, baik dari aspek ekonomi, sosial, maupun penguatan identitas kota. Berangkat dari semangat tersebut, Semarang Musik Everyday menggelar kegiatan “Sarasehan dan Ngopi Bareng Musisi” di Studio Semarang Musik Everyday, Jalan Shonen Timur IV No. 19, Semarang, Minggu (14/6/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan Kurator Musik Indonesia Safir Biangindas dan Emthe Blackmore, Kepala Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang Elyance Suci, serta sejumlah musisi dan pelaku seni dari berbagai komunitas di Kota Semarang.
Founder Semarang Musik Everyday, Ari Singo, mengatakan sarasehan tersebut bertujuan menyatukan visi dan misi antara kebutuhan para seniman dengan pemerintah daerah agar tercipta kolaborasi yang saling menguatkan.
“Kami ingin membangun hubungan yang saling membutuhkan. Musisi membutuhkan pemerintah, dan pemerintah juga membutuhkan musisi. Dengan begitu akan tercipta ekosistem yang sehat, sehingga para musisi dapat hidup dari karya-karya yang mereka hasilkan,” ujarnya.
Menurut Ari, perkembangan musik di Kota Semarang selama ini masih cenderung berjalan secara terpisah berdasarkan komunitas dan genre masing-masing. Karena itu, forum sarasehan diharapkan menjadi ruang pertemuan bagi berbagai komunitas musik untuk saling mengenal dan bertukar gagasan.
Ia mencontohkan pentingnya gerakan saling mendukung antarkomunitas melalui konsep support gigs, di mana musisi dari berbagai genre dapat saling hadir dan mendukung pertunjukan satu sama lain.
“Musisi tidak perlu memandang genre apa yang dimainkan. Yang lebih penting adalah saling menghargai dan mendukung. Seni lahir dari kebersamaan, bukan berjalan sendiri-sendiri,” katanya.
Ari juga berharap seluruh musisi di Kota Semarang mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang dan tampil, tanpa dibatasi oleh komunitas atau kelompok tertentu.
“Kami ingin membawa nama Semarang dengan tulus, tanpa tendensi apa pun. Semua musisi berhak mendapatkan ruang dan kesempatan yang layak,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Elyance Suci, menyampaikan bahwa sarasehan tersebut menjadi langkah awal untuk menghimpun para musisi dan seniman Kota Semarang sekaligus mendorong pelaksanaan kurasi musik secara rutin.
“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut. Pemerintah Kota Semarang telah menyediakan sejumlah ruang publik yang dapat dimanfaatkan para seniman untuk berekspresi dan menampilkan karya-karyanya,” ujarnya.
Beberapa fasilitas yang dapat digunakan antara lain Taman Budaya Raden Saleh dan Taman Indonesia Kaya. Menurut Elyance, keterbatasan ruang berkesenian masih menjadi tantangan bagi para pelaku seni sehingga keberadaan ruang publik tersebut diharapkan mampu menjadi wadah yang produktif.
Selain itu, pihaknya berharap para seniman lokal dapat lebih banyak terlibat dalam berbagai agenda besar Pemerintah Kota Semarang sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem seni dan budaya di daerah.
“Kami ingin ekosistem seniman Kota Semarang segera terwujud untuk mendukung visi dan misi pembangunan Kota Semarang,” katanya.
Kurator Musik Indonesia, Safir Biangindas, menegaskan bahwa kemajuan ekosistem musik tidak dapat dicapai tanpa dukungan berbagai pihak. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, musisi, media, penyelenggara acara, sponsor, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya menjadi kunci peningkatan kualitas musik di daerah.
“Musisi harus terus meningkatkan standar dan kualitasnya. Di sisi lain, pemerintah juga perlu menyadari bahwa pengembangan musisi merupakan tanggung jawab bersama yang perlu didukung secara berkelanjutan,” ujarnya.
Safir juga mendorong penerapan gerakan gigs support gigs yang saat ini mulai berkembang di sejumlah kota, termasuk Jakarta. Gerakan tersebut menekankan pentingnya saling mendukung antara musisi dan penyelenggara acara sebagai upaya memperluas ruang apresiasi bagi karya-karya musisi independen.
“Musisi mendukung musisi, penyelenggara mendukung musisi, dan musisi mendukung penyelenggara. Semangat kolaborasi seperti inilah yang perlu dibangun agar ekosistem musik semakin kuat,” pungkasnya. ***




