Beranda / NEWS / Samuel Wattimena: Turun ke Dapil adalah Tugas, Amanat, dan Panggilan Hati

Samuel Wattimena: Turun ke Dapil adalah Tugas, Amanat, dan Panggilan Hati

JAKARTA, obyektif.tv – Anggota Komisi VII DPR RI Samuel Wattimena menegaskan, kegiatan turun ke daerah pemilihan (dapil) bukan sekadar menjalankan kewajiban sebagai anggota legislatif. Baginya, aktivitas tersebut merupakan perpaduan antara tugas konstitusional, amanat partai, sekaligus panggilan hati untuk terus hadir di tengah masyarakat.

Pernyataan itu disampaikan Samuel dalam podcast di kanal YouTube Banteng Senayan yang tayang pada Senin (22/6/2026).

Menurut Samuel, sebagai kader PDI Perjuangan, dirinya mendapat arahan agar selalu dekat dengan rakyat. Kedekatan itu, kata dia, tidak dapat dibangun hanya melalui laporan atau komunikasi dari kejauhan, tetapi harus diwujudkan dengan bertemu dan berdialog secara langsung.

“Di PDI Perjuangan, Ketua Umum sudah menyampaikan bahwa kita perlu turun ke bawah karena kita adalah partai yang berideologi untuk rakyat. Jadi memang harus turun mendengarkan rakyat, bertemu dengan rakyat sehingga ikatan itu terbangun,” ujar Samuel.

Ia mengatakan, pengalaman turun langsung ke masyarakat membuatnya memahami bahwa menyerap aspirasi bukan sekadar mendengar keluhan warga. Menurutnya, setiap kelompok masyarakat memiliki karakter, kebutuhan, dan harapan yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan yang lebih personal.

“Semua masyarakat ingin didengarkan. Setelah kita mendengar mereka, yang penting adalah bagaimana kita membangun komunikasi yang baik dan mencari solusi bersama,” katanya.

Selama hampir dua tahun menjadi anggota DPR RI, Samuel mengaku persoalan yang paling banyak ditemuinya adalah keinginan masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup. Namun, ia juga melihat perkembangan media sosial sering kali membuat masyarakat membandingkan kehidupannya dengan orang lain.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk lebih mengenali potensi dan kemampuan yang dimiliki serta mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

“Yang terpenting adalah memahami apa yang kita miliki dan bagaimana mengembangkannya. Jangan hanya melihat rumput tetangga lebih hijau,” tuturnya.

Samuel juga mengaku lebih memilih berdialog dengan kelompok masyarakat dalam jumlah kecil dibanding berbicara di hadapan ratusan orang. Menurutnya, komunikasi yang intensif akan menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam dan berdampak lebih luas ketika diteruskan kepada masyarakat lainnya.

Selain itu, ia menilai perkembangan teknologi saat ini memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk menambah wawasan dan meningkatkan kapasitas diri. Namun, ia mengingatkan agar teknologi dimanfaatkan untuk pengembangan diri, bukan sekadar membandingkan kehidupan dengan orang lain.

“Persaingan terbesar bukan dengan orang lain, tetapi dengan diri kita sendiri. Bagaimana hari ini kita menjadi lebih baik dibanding kemarin,” ujarnya.

Samuel menambahkan, pengalaman selama dua tahun di DPR RI juga membuatnya semakin memahami tanggung jawab sebagai wakil rakyat dalam menjalankan fungsi legislasi, pengawasan, dan penganggaran. Ia menilai seluruh proses tersebut merupakan kesempatan untuk terus memperkaya wawasan demi menghasilkan kebijakan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Di akhir perbincangan, Samuel menegaskan bahwa peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak dapat diwujudkan secara instan. Menurutnya, hal itu hanya bisa dicapai melalui semangat gotong royong, komunikasi yang baik, dan berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila.

“Saya yakin kalau kita bergotong royong dalam pemikiran, bergotong royong dalam sikap kerja, dan bergotong royong dalam idealisme Pancasila, berbagai persoalan dapat kita atasi bersama,” pungkasnya. ***

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *