SEMARANG, obyektif.tv – Menyambut datangnya Bulan Muharam atau yang dikenal dalam tradisi Jawa sebagai Suronan, warga RT 03 RW 01 Kampung Pandansari menggelar tirakat dan doa bersama di sepanjang Jalan Pandansari 9, Kamis (25/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi wujud pelestarian tradisi sekaligus mempererat silaturahmi antarwarga.
Suasana khidmat menyelimuti Jalan Pandansari 9 saat warga berkumpul mengikuti rangkaian tirakat Suronan. Acara diawali dengan pembacaan doa yang dipimpin H Subagyo sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus memohon keselamatan, keberkahan, dan kebaikan dalam menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.
Usai doa bersama, warga menikmati Bubur Suro, hidangan khas yang secara turun-temurun selalu disajikan dalam peringatan Suronan di RT 03 RW 01 Pandansari. Bubur berwarna kuning tersebut disajikan lengkap dengan lauk-pauk seperti sambal goreng, irisan telur, dan pelengkap lainnya yang menjadi ciri khas masyarakat setempat.
Ketua RT 03 RW 01 Pandansari, Romy Mifta Fariz, mengatakan tradisi Suronan bukan sekadar agenda tahunan, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan antarmasyarakat sekaligus menjaga warisan budaya yang telah diwariskan para leluhur.
“Makna utama kegiatan ini adalah mempererat silaturahmi sekaligus menjalankan tradisi yang sudah lama ada di Kampung Pandansari. Kami ingin tradisi ini tetap lestari, tidak punah, dan terus menjadi kegiatan rutin setiap tahun bagi warga,” ujarnya.
Menurut Romy, Bubur Suro menjadi identitas khas Suronan di Kampung Pandansari. Hidangan tersebut berupa bubur berwarna kuning menyerupai tumpeng yang disajikan bersama sambal goreng, irisan telur, dan aneka lauk pelengkap.
“Di Pandansari, hidangan khas Suronan adalah Bubur Suro. Buburnya berwarna kuning seperti tumpeng, kemudian disajikan dengan sambal goreng, irisan telur, dan lauk lainnya. Itu sudah menjadi ciri khas kami,” jelasnya.
Ia menambahkan, tradisi tersebut telah diwariskan secara turun-temurun sejak zaman para leluhur. Karena itu, masyarakat berkomitmen untuk terus melestarikannya agar tetap dikenal dan diteruskan oleh generasi berikutnya.
“Tradisi ini sudah ada sejak zaman nenek moyang kami. Tugas kami sekarang adalah menjaganya agar tidak pudar, sehingga kelak bisa diteruskan oleh anak-anak dan cucu-cucu kami,” pungkas Romy.
Melalui tirakat, doa bersama, dan tradisi menyantap Bubur Suro, warga RT 03 RW 01 Pandansari berharap nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, serta penghormatan terhadap warisan budaya lokal tetap terjaga di tengah perkembangan zaman. ***









