Beranda / LIFESTYLE / SENI BUDAYA / ​Gandeng Unnes, PSK Rintis Pelahiran Pebisnis Sastra Berbasis Komunitas

​Gandeng Unnes, PSK Rintis Pelahiran Pebisnis Sastra Berbasis Komunitas

JURNALIS/EDITOR: Dwi Roma ​| KENDAL | obyektif.tv

SASTRA tidak lagi sekadar tentang bait puisi, untaian kata, atau lembaran buku yang tersimpan rapi di rak perpustakaan. Lebih jauh, di dalam ruh sastra bersemayam gagasan, kreativitas, dan pengetahuan yang menyimpan potensi ekonomi luar biasa untuk menggerakkan industri kreatif.

Pembukaan Lokakarya Inkubasi Litera-Preneurship: Komodifikasi Sastra Berbasis Komunitas di Perpusda Kabupaten Kendal.

Berangkat dari kesadaran tersebut, Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK) merintis gerakan visioner untuk melahirkan para pebisnis maupun wirausahawan sastra berbasis komunitas.

Sambutan Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah Dwi Laily Sukmawati di Lokakarya Inkubasi Litera-Preneurship: Komodifikasi Sastra Berbasis Komunitas.

​Langkah nyata gerakan ini diwujudkan melalui Lokakarya Inkubasi Litera-Preneurship: Komodifikasi Sastra Berbasis Komunitas yang dihelat di Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kabupaten Kendal, Sabtu (1/8/2026).

Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah Dwi Laily Sukmawati mendukung penuh penguatan literasi di masyarakat.

Perhelatan ini digelar oleh PSK berkolaborasi dengan Universitas Negeri Semarang (Unnes), BIMA, Pengembangan Kepeloporan Pemuda Jawa Tengah, serta Sekolah Mahir Bisnis Kewirausahaan Pemuda (Semanis Kamu).

Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah Dwi Laily Sukmawati.

​Kegiatan secara resmi dibuka oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah Dwi Laily Sukmawati, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kabupaten Kendal Wahyu Yusuf Akhmadi, serta Presiden PSK Bahrul Ulum A Malik.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah Dwi Laily Sukmawati menerima karikatur potret dirinya dari Presiden PSK Bahrul Ulum A Malik (kiri), didampingi narasumber Meina Febriani dan Kepala Dinarpus Kabupaten Kendal Wahyu Yusuf Akhmadi.

​Dalam sambutannya, Presiden PSK Bahrul Ulum A Malik menegaskan komitmennya untuk membuka ruang belajar dan mempertemukan gagasan demi menemukan jalan baru pertumbuhan sastra di tengah masyarakat.

Kepala Dinarpus Kabupaten Kendal Wahyu Yusuf Akhmadi memberikan sambutan.

“Sastra dibaca, sastra dicipta, sastra diberdayakan. Puncaknya, sastra adalah cuan,” ujar Bahrul Ulum.

​Apresiasi tinggi disampaikan oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Dwi Laily Sukmawati. Ia menekankan pentingnya sinergi lintas sektor antara akademisi, komunitas, dan pemangku kebijakan.

Kepala Dinarpus Kabupaten Kendal Wahyu Yusuf Akhmadi.

“Kami berharap bahwa literasi ini dapat mendukung pendidikan bermutu untuk semuanya, sehingga dapat berdampak nyata bagi masyarakat sekitar,” ungkap Dwi Laily.

Gaya pemaparan pemateri Meina Febriani.

​Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinarpus Kabupaten Kendal, Wahyu Yusuf Akhmadi, menyatakan kesiapan penuh untuk menyatukan potensi fasilitas daerah dengan daya cipta pegiat literasi.

Narasumber Meina Febriani membeber materi “Potensi Sastra dalam Ekonomi Kreatif” .

“Prinsip, apa yang kami punya, apa yang teman-teman pegiat atau komunitas sastra punya, mari kita satu padukan, sehingga harapannya nanti kegiatan ini tidak hanya berorientasi output saja, tapi juga bisa memberikan dampak, utamanya dampak di literasi,” tutur Wahyu.

Meina Febriani mendorong akselerasi alih wahana atau komodifikasi sastra melalui musikalisasi puisi hingga storynomics.

​Lokakarya yang pada prinsipnya mengubah nilai guna karya sastra menjadi produk ekonomi kreatif ini menghadirkan dua pemateri akademisi dari Universitas Negeri Semarang (Unnes): Meina Febriani, dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni (Prodi PBSI FBS Unnes) dan Eko Sugiarto, dosen Program Studi Magister Pendidikan Seni, Sekolah Pascasarjana (FBS Unnes).

Peserta menyimak pemaparan materi Meina Febriani.

Meina Febriani menyampaikan materi “Potensi Sastra dalam Ekonomi Kreatif”. Ia mendorong akselerasi alih wahana atau komodifikasi sastra melalui musikalisasi puisi hingga storynomics tourism (wisata berbasis cerita).

Meina Febriani, dosen Prodi PBSI FBS Unnes.

“Sastra tidak hanya berhenti pada cara mengekspresikan dan mengapresiasinya. Lebih dari itu, kita bisa hidup dan menghidupi karya sastra,” tegas Meina.​

Narasumber Eko Sugiarto membedah materi “Desain Produk Sastra”.

Sementara itu, Eko Sugiarto menyampaikan materi “Desain Produk Sastra”. Pembahasannya memfokuskan pada aspek visual, struktur, serta inovasi bentuk fisik maupun digital agar produk sastra siap bersaing di pasar industri kreatif.

Penandatanganan implementasi kerja sama antara Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unnes dengan Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK).

​Sebagai landasan kerja sama berkelanjutan, dalam kegiatan ini juga dilaksanakan penandatanganan implementasi kerja sama antara Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unnes dengan PSK yang diwakili oleh Presiden PSK Bahrul Ulum A Malik.

Salam literasi narasumber bersama peserta Lokakarya Inkubasi Litera-Preneurship Komodifikasi Sastra Berbasis Komunitas.

​Melalui program ini, para peserta berhasil menyusun rancangan produk industri kreatif berbasis sastra sebagai pijakan utama dalam memperkuat ekosistem literasi lokal.

Rangkaian lokakarya ini dirancang dalam tiga tahapan pertemuan. Diawali pertemuan perdana pada 1 Agustus 2026, yang dilanjutkan pada 9 Agustus dan bermuara pada pertemuan ketiga pada 20 September 2026.***

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *