Beranda / LIFESTYLE / SENI BUDAYA / Merawat Tradisi, KKN UPGRIS Bawa Argo Budoyo Mudho ke Panggung Digital

Merawat Tradisi, KKN UPGRIS Bawa Argo Budoyo Mudho ke Panggung Digital

KENDAL, obyektif.tv – Upaya melestarikan kesenian tradisional terus dilakukan melalui berbagai cara, termasuk dengan memanfaatkan ruang digital. Semangat tersebut dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) saat berkolaborasi dengan kelompok kesenian daerah Argo Budoyo Mudho di Desa Mojoagung, Kecamatan Plantungan, Kabupaten Kendal.

Pada Sabtu (1/8/2026) malam, para mahasiswa KKN UPGRIS menyambangi arena latihan Argo Budoyo Mudho. Di bawah penerangan sederhana, suara kendang, saron, dan gong mengiringi para penari dan pemain musik yang tengah berlatih.

Kehadiran mahasiswa menjadi bagian dari pelaksanaan program KKN UPGRIS Berdampak. Mereka tidak hanya datang untuk mengamati aktivitas kesenian warga, tetapi berbaur langsung dengan para pelaku seni untuk membangun komunikasi sekaligus menggali potensi kolaborasi.

Suasana latihan berlangsung hangat. Para mahasiswa duduk bersama warga, menyaksikan latihan, serta memberikan dukungan melalui tepuk tangan. Interaksi tersebut membuat suasana semakin cair dan membuka ruang percakapan antara mahasiswa dengan para anggota Argo Budoyo Mudho.

Setelah latihan, mahasiswa dan anggota kelompok kesenian melanjutkan perbincangan mengenai keberadaan Argo Budoyo Mudho. Sejumlah hal dibahas, mulai dari sejarah kelompok kesenian, upaya mempertahankan tradisi, hingga tantangan mengenalkan seni tradisional kepada generasi muda di tengah perkembangan teknologi dan media sosial.

Latihan Argo Budoyo Mudho bersama mahasiswa KKN UPGRIS di Desa Mojoagung, Kendal, dalam semangat merawat tradisi dan mengenalkannya di era digital.

Dari pertemuan tersebut, muncul gagasan untuk membawa aktivitas Argo Budoyo Mudho ke ruang digital. Mahasiswa KKN UPGRIS menawarkan pendampingan pemanfaatan media sosial sebagai sarana dokumentasi sekaligus promosi kesenian lokal.

Salah satu langkah yang disiapkan adalah mengemas proses latihan dan pertunjukan dalam bentuk foto maupun video yang lebih menarik. Konten tersebut nantinya dapat digunakan untuk memperkenalkan Argo Budoyo Mudho kepada masyarakat yang lebih luas melalui berbagai platform digital.

Selain produksi konten, mahasiswa juga mendorong digitalisasi dokumentasi dan arsip pertunjukan. Rekaman kegiatan yang sebelumnya tersimpan secara terpisah akan ditata agar lebih mudah dikelola dan dapat menjadi bagian dari dokumentasi budaya Desa Mojoagung.

Kolaborasi juga mencakup dukungan teknis dalam penyelenggaraan pertunjukan, termasuk membantu persiapan panggung dan publikasi kegiatan. Dengan demikian, keterlibatan mahasiswa tidak berhenti pada kegiatan dokumentasi, tetapi diarahkan untuk mendukung keberlangsungan aktivitas kesenian.

Salah seorang anggota Tim KKN UPGRIS, Rasalman, mengatakan kegiatan tersebut memiliki makna lebih dari sekadar pelaksanaan tugas akademik.

Mahasiswa KKN UPGRIS berbincang bersama pelaku seni Argo Budoyo Mudho di sela latihan, membangun kolaborasi untuk merawat dan mengenalkan kesenian tradisional.

“Lewat kebersamaan ini, terpercik harapan besar agar para pemuda Argo Budoyo Mudho semakin percaya diri, makin terpacu, dan merasa bangga untuk terus menjaga api kesenian tradisional mereka tetap menyala terang di tanah kelahiran sendiri,” ujar Rasalman.

Menurutnya, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperluas jangkauan kesenian tradisional tanpa menghilangkan nilai dan identitas yang telah diwariskan masyarakat.

Kolaborasi KKN UPGRIS dan Argo Budoyo Mudho diharapkan menjadi langkah awal untuk mempertemukan kekuatan tradisi dengan perkembangan teknologi. Dari panggung latihan di Desa Mojoagung, kesenian lokal didorong untuk hadir di ruang digital dan menjangkau generasi yang lebih luas.

Dengan cara tersebut, pelestarian budaya tidak hanya berarti mempertahankan kesenian agar tetap dimainkan, tetapi juga memastikan keberadaannya dikenal, didokumentasikan, dan memiliki ruang untuk tumbuh di tengah perubahan zaman. ***

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *