Beranda / LIFESTYLE / SENI BUDAYA / Ngunduh Mantu Anak Presiden Kowe Hadirkan Panggung Seni

Ngunduh Mantu Anak Presiden Kowe Hadirkan Panggung Seni

SEMARANG, obyektif.tv – Ngunduh mantu Calvin Jayanto Purba dan Josephin Nintiarna di Kampung Tanggungrejo RT 01/RW 06, Kaligawe, Kota Semarang, Minggu (6/9/2026), berlangsung berbeda dari hajatan pernikahan pada umumnya.

Acara yang digelar sekitar pukul 11.00 WIB tersebut tidak hanya menjadi momentum keluarga untuk merayakan pernikahan kedua mempelai, tetapi juga dikemas sebagai ruang pertunjukan seni. Konsep itu dihadirkan sang ayah, Teha Edy Djohar, yang dikenal sebagai Presiden Komunitas Kaligawe atau Kowe.

Sejumlah seniman dari berbagai bidang turut hadir dan tampil dalam hajatan tersebut. Mulai dari seni teater, performance art, sastra hingga musik, semuanya berpadu dengan rangkaian acara ngunduh mantu.

Rangkaian pertunjukan dibuka dengan teatrikal bertajuk Perahu Kayu. Performance art tersebut menggambarkan perjalanan cinta yang akhirnya berlabuh dalam ikatan pernikahan.

Pertunjukan yang diperankan Basa Al Kalam, Lukni Maulana, Lusi Maulid Ndalu, Chotrex Creatio, Slamet Unggul, dan Agung Wibowo itu digelar tepat di depan gang permukiman.

Pertunjukan tersebut bahkan membuat ruas jalan di sekitar lokasi tertutup sementara. Warga, tamu undangan, dan masyarakat sekitar pun turut menyaksikan teatrikal yang menjadi pembuka hajatan tersebut.

Menjelang siang, suasana semakin hangat dengan penampilan grup musik Keroncong Sastra bersama orkes keroncong Berkah Dalem. Mereka membawakan sejumlah tembang lawas dan tembang Jawa, sekaligus mengiringi para tamu undangan menikmati hidangan yang disajikan.

Panggung seni kemudian diisi para tamu undangan yang sebagian besar merupakan seniman dan sahabat Teha Edy Djohar. Mereka bergantian membacakan puisi dan bernyanyi dengan iringan musik keroncong.

Penyair asal Purwokerto, Wage Tegoeh Wijono, turut ambil bagian dengan membawakan karya WS Rendra berjudul Rik dari Corona.

Wage mengaku senang dapat hadir karena acara tersebut mampu mempertemukan seniman dari berbagai bidang dalam satu ruang.

“Yang utama adalah menyatukan banyak seniman, seniman musik, sastra atau seniman teater. Menarik ya,” kata Wage.

Suasana semakin meriah ketika musisi asal Semarang, Sudarmanto atau yang akrab disapa Bogel, tampil membawakan sejumlah lagu ciptaannya sendiri. Salah satunya DPR Wedus, lagu bernuansa satire yang menyentil wakil rakyat dan kondisi sosial di Tanah Air.

Penampilan tersebut beberapa kali mengundang tawa para tamu undangan yang menikmati lirik-lirik satire khas Bogel. Ia juga menyebut sejumlah karya lain yang biasa dibawakannya, seperti Hukum Mati Koruptor dan Gemblung.

Bogel mengatakan, kedatangannya dalam hajatan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk guyub rukun bersama para sastrawan dan seniman Semarang dalam wadah Komunitas Kaligawe.

“Dia itu teman saya di sastra, jadi istilahnya untuk guyub rukun sastrawan Semarang dalam wadah Komunitas Kaligawe,” ujar Bogel.

Sementara itu, Teha Edy Djohar menyampaikan terima kasih kepada seluruh tamu undangan, terutama para seniman yang hadir dari Semarang maupun daerah lain.

Menurutnya, kehadiran berbagai seniman membuat acara ngunduh mantu tersebut tidak hanya menjadi perayaan keluarga, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan bagi para pelaku seni.

Ia pun menyampaikan pesan kepada Calvin dan Josephin agar menjalani kehidupan rumah tangga dengan penuh kesabaran dan kedewasaan.

“Kami sebagai orangtua berharap pernikahan ini yang terakhir buat Nita dan Calvin. Mereka harus sabar, makin dewasa, karena dalam proses pernikahan atau mengarungi bahtera rumah tangga itu banyak intrik dan dinamika. Mereka harus kuat, bijak. Mudah-mudahan bisa langgeng sampai kakek dan nenek,” kata Teha.

Teha menambahkan, konsep panggung seni dalam hajatan tersebut terutama memberikan ruang bagi pertunjukan puisi, teater, dan monolog. Namun, para musisi juga turut hadir dan mengisi suasana.

“Terutama puisi, teater, monolog, tapi tidak menutup kemungkinan juga banyak yang hadir teman-teman musisi,” ujarnya.

Perpaduan ngunduh mantu dengan panggung seni tersebut membuat hajatan Calvin dan Josephin berlangsung tidak sekadar sebagai perayaan pernikahan. Tradisi keluarga sekaligus menjadi ruang perjumpaan dan guyub para seniman di Kaligawe. ***

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *