SEMARANG, obyektif.tv – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, mendorong kader Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) menjadi motor perubahan di tengah masyarakat, terutama dalam memperkuat ekonomi keluarga, meningkatkan kepedulian sosial, dan menjaga kelestarian lingkungan.
Agustina menegaskan, perempuan memiliki kedudukan setara dengan laki-laki dalam pembangunan daerah. Karena itu, keterlibatan perempuan tidak cukup hanya di lingkup keluarga atau organisasi, tetapi juga perlu diwujudkan melalui aksi nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
“Laki-laki dan perempuan itu seperti sepasang sayap dari seekor burung yang terbang tinggi. Jika salah satu sayap itu patah, maka burung itu tidak akan dapat lagi terbang. Kita berada pada posisi sebagai salah satu sayap apabila Kota Semarang ini ingin maju. Posisi kita setara,” kata Agustina.
Pesan tersebut disampaikan dalam talkshow bertajuk “Perempuan, Keluarga, dan Masa Depan Kota Semarang” dengan tema “Perempuan Bicara, Semarang Bergerak” yang digelar PC Fatayat NU Kota Semarang pada Minggu (4/10/2026). Kegiatan tersebut diikuti ribuan kader.
Dalam forum tersebut, Agustina secara khusus menyoroti pentingnya keterlibatan perempuan dalam menjaga lingkungan, terutama melalui pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga. Persoalan ini menjadi perhatian di tengah upaya penanganan kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang.
Menurutnya, upaya menjaga kebersihan kota harus dimulai dari kesadaran setiap individu dan keluarga. Perempuan dinilai memiliki peran strategis dalam membangun kebiasaan memilah, mengelola, dan mengurangi sampah sekaligus mengajak masyarakat di lingkungan sekitarnya untuk melakukan hal serupa.
“Awareness terhadap sampah yang ada di wilayah kita itu datangnya dari kita. Bapak-bapak wis ora sabar. Kenapa? Karena kita tekun. Maka cocok ini perempuan berbicara, Semarang bergerak. Tugas kita adalah membangunkan kesadaran masyarakat,” tegasnya.
Agustina berharap kader Fatayat NU dapat menjadi penggerak kesadaran lingkungan di wilayah masing-masing. Dengan keterlibatan aktif organisasi perempuan, gerakan menjaga kebersihan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tumbuh sebagai kebiasaan bersama di tengah masyarakat.
Selain isu lingkungan, Agustina juga mendorong penguatan peran perempuan dalam mendukung kemandirian ekonomi keluarga. Hal tersebut selaras dengan program Waras Ekonomi yang menyasar pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta industri kecil dan menengah (IKM).
Peran perempuan juga diperlukan dalam mendukung percepatan penanganan stunting dan memperluas perhatian terhadap kelompok rentan. Salah satu agenda yang turut disampaikan ialah rencana pembentukan Rumah Inspirasi bagi penyandang disabilitas di setiap kecamatan.
Dalam kesempatan itu, Agustina turut menyinggung program “Fatayat Berdaya – Perempuan Menjaga Keluarga, Merawat Kota”. Program tersebut menekankan pentingnya pemberdayaan perempuan agar mampu berkontribusi dalam menjaga ketahanan keluarga sekaligus mengambil bagian dalam pembangunan kota.
Ia mengingatkan agar gerakan perempuan tidak berhenti pada kegiatan internal organisasi. Para kader diharapkan mampu membawa gagasan dan semangat yang diperoleh dari forum tersebut ke lingkungan keluarga, tempat tinggal, serta komunitas yang lebih luas.
“Mari kita berbicara tidak hanya untuk bergerak secara sendiri, tetapi juga untuk menggerakkan lingkungan kita. Melakukan sesuatu untuk memberi manfaat dan menyebarkan energi positif bagi lingkungan tempat kita,” pungkas Agustina.
Melalui keterlibatan kader Fatayat NU, Agustina berharap semakin banyak perempuan yang berperan aktif dalam mendorong perubahan sosial, memperkuat ekonomi keluarga, dan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan. Kolaborasi antara pemerintah, organisasi perempuan, dan masyarakat diharapkan dapat mendukung terwujudnya Kota Semarang yang lebih bersih, inklusif, dan berkelanjutan. ***





