Beranda / REGIONAL / KENDAL / Jejak Doa di Pesisir Jawa: Rihlah & Ziarah Sunan Ampel-Lamongan Ponpes Darul Muqorrobin

Jejak Doa di Pesisir Jawa: Rihlah & Ziarah Sunan Ampel-Lamongan Ponpes Darul Muqorrobin

KENDAL, obyektif.tv – Malam jatuh dengan khidmat di pelataran Hotel Anugrah Kendal, Jawa Tengah, Selasa (12/5/2026). Di bawah pendar lampu kota, sembilan armada bus berderet rapi, bersaksi atas keberangkatan ratusan santriwan-santriwati Pondok Pesantren Darul Muqorrobin (Ponpes Darbin) Kendal. Mereka bukan sekadar pelancong; mereka adalah musafir yang membawa misi tahunan bertajuk “Rihlah & Ziarah Sunan Ampel-Lamongan”.

Ritual keberangkatan dimulai tepat pukul 20.00 WIB dengan resonansi suara yang menggetarkan sanubari. Dipimpin langsung oleh Pengasuh Ponpes Darbin Habib Firdaus bin Masyhur Al Munawwar, pembacaan istighotsah mengalun syahdu, memintal doa demi keselamatan perjalanan pergi dan pulang. Dengan iringan Patwal dari Polres dan Polsek yang mengawal hingga gerbang Tol Mangkang, rombongan ini membelah malam menuju timur.

Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika iring-iringan bus tiba di Surabaya, Jawa Timur. Di sela udara pagi yang dingin, para santri menunaikan Salat Subuh, sebuah awal hari yang murni sebelum bersimpuh di hadapan pusara salah satu paku bumi tanah Jawa, Sunan Ampel.

Dalam kekhusyukan yang pekat, Surah Yasin dan Tahlil dilantunkan secara berjamaah. Di sini, ziarah menjadi jembatan spiritual yang menghubungkan masa kini dengan keteladanan masa lalu.

Usai membasuh diri dan menyantap sarapan di sekitar kawasan religi tersebut, tepat pukul 06.00 WIB, roda-roda bus kembali berputar menuju destinasi berikutnya: Lamongan.

Kontras dengan keheningan ziarah, Wisata Bahari Lamongan (WBL) menyambut rombongan pada pukul 10.00 WIB dengan keriuhan yang hangat. Di tengah keramaian pengunjung, para santri berpencar mengeksplorasi wahana permainan hingga menyeberang ke Maharani Zoo menggunakan tiket terusan.

Bagi Danu Wijaya, santri asal Batam, Kepulauan Riau, perjalanan ini adalah pengalaman perdana yang tak terlupakan. Bersama adiknya, Lady Wijaya, ia mengaku terpukau oleh beragam wahana pemacu adrenalin.

“Ini pertama kalinya kami berwisata di WBL. Wahana adrenalinnya benar-benar seru, kami sangat suka,” ungkap Danu dengan mata berbinar.

Satu hal yang menarik dari perjalanan ini adalah tetap terjaganya marwah dan adab pesantren. Saat waktu menunjukkan pukul 14.30 WIB, rombongan bergerak menuju Resto Kurnia Jatim untuk makan sore. Kemudian, perjalanan dilanjutkan menuju Kota Salatiga untuk santap malam di Resto Cikal Gading.

Dalam setiap jamuan, Ponpes Darbin tetap memegang teguh tradisi: pemisahan tempat duduk antara santriwan dan santriwati. Ini menjadi pengingat bahwa meski dalam bingkai tamasya, nilai-nilai kesantunan tetap menjadi kompas utama.

Perjalanan dua hari satu malam itu akhirnya mencapai puncaknya. Pada Rabu (13/5) pukul 23.57 WIB, bus mulai meninggalkan titik terakhir perjalanan. Tepat saat hari berganti menjadi Kamis (14/5/2026) dini hari, pukul 01.00 WIB, sembilan bus tersebut kembali berlabuh di tanah Kendal.

Mereka pulang tidak hanya dengan membawa bingkisan oleh-oleh, tetapi juga membawa batin yang lebih tenang dan memori kegembiraan yang akan diceritakan di selasar-selasar pesantren selama setahun ke depan.***

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *